Langsung ke konten utama

CINTA? ATAU BALAS BUDI? (PART 8)

⛲ CINTA? ATAU BALAS BUDI? ⛲

Part 8

����⛅����������������������

Jodha sedang ada rapat bersama Atghah dan juga ketiga marketing Divisi 2 yaitu Ravi,Rahma dan Edo. Mereka membahas tentang proyek kerjasama dengan kantor departemen pendidikan.

"Ravi,Bagaimana dengan perkembangan proyek kita?" tanya Atghah pada Ravi.

"Saya dan Edo sudah melobi pihak divisi pengadaan komputer di departemen. Mereka ingin mengupgrade komputer mereka dengan produk baru kita" Ravi menjelaskan dengan detail.

"Bagus,dengan begitu produk baru kita akan mudah dikenal dan banyak orang yg memakainya. Lalu bagaimana dengan masalah keuangan mereka Rahma?"

"Tidak ada masalah pak" jawab Rahma.

"Kalian benar2 tim yg kompak. Saya bangga dengan kalian. Setelah meeting ini selesai,Rahma ikut saya ke Sekolah SMP 7,saya akan mencoba melobi mereka"

"Baik pak"

Setelah meeting sekitar 1,5 jam, Atghah dan Rahma pergi meninggalkan kantor untuk melaksanakan tugas. Kini diruangan itu tinggal Jodha,Ravi dan Edo.

"Bagaimana perasaanmu kerja disini Jodha?" tanya Edo.

Jodha yg awalnya melihat ke komputer,langsung mengalihkan pandangannya ke Ravi "Aku senang bekerja disini. Pak Atghah dan juga kalian bertiga rekan kerja yg baik"  Jodha tersenyum manis dan dapat dipastikan Edo dan Ravi langsung terpana melihat senyuman itu. Telepon tiba2 berdering dan Jodha mengangkatnya.

"Selamat siang,dengan Jodha bisa saya bantu"

"Aku Romi Jo"

"Oh iya Romi,ada apa?"

"Maaf nanti sore aku tidak bisa mengantarmu pulang karena aku harus menjemput nyonya besar"

"Iya tidak apa2 Rom,aku bisa pulang naik taksi"

"Ok Jodha" Jodha menutup teleponnya.

"Bagaimana kalau pulangnya kita bareng Jo?" tanya Ravi yg tadi mendengar pembicaraan Jodha.

"Eh...gak usah Ravi,terima kasih. Aku bisa pulang sendiri kok"

"Beneran?"

"Iya"

Ravi mengendikkan bahunya. Dia mencoba mendekati Jodha tapi sepertinya sangat sulit.

������

Edo,Ravi dan Jodha makan siang bersama di cafetaria. Sebenarnya Moti juga janjian dengan mereka,hanya saja dia masih ada keperluan sehingga dia datang agak lama. Mereka memilih duduk di dekat jendela karena tempat itu lumayan nyaman. Sambil menunggu makanan datang setelah mereka memesan makanan,mereka bertiga berbincang-bincang sambil bercanda. Jodha terlihat nyaman dan tak ada kecanggungan bersama Edo dan Ravi. Dan tanpa Jodha ketahui,dari jauh ada sepasang mata yg menatapnya tajam. Sepasang mata yg sejak Jodha masuk ke cafetaria tak pernah melepaskan pandangannya. Dia terlihat marah sambil mengepalkan tangannya. Sampai dia tidak mendengar orang didepannya yg memanggil dirinya.

"Pak Jalal,anda kenapa?" Jalal terkesiap.

"Eh...iya pak"

"Apa yg anda lihat pak? Kelihatannya serius sekali"

"Tidak ada pak Ripto" Jalal berkilat dan terlihat salah tingkah karena ketauan melamun. Pak Ripto hanya geleng2 kepala melihatnya.

������

Sore harinya Jodha pulang naik taksi. Sepertinya dia harus terbiasa pulang sendiri. Saat Jodha turun dari taksi,dia melihat mobil yg biasa dikemudikan Romi. Dari mobil itu keluar seorang wanita paruh baya yg langsung disambut gembira oleh Sehnaz. Meskipun umurnya sudah setengah abad tapi tak mengurangi kecantikan wanita itu. Jodha menghampiri mereka yg sedang berpelukan.

"Bagaimana kabar mama disana?"

"Mama baik dan sehat sayang"

Sehnaz melihat Jodha dan langsung menyapanya "kak Jodha,sudah pulang?" Mamanya Sehnaz ikut menoleh ke Jodha.

"Sore Sehnaz" jawab Jodha.

"Oh iya kak kenalkan ini mamaku,mama Hamidah. Dan mama,ini kak Jodha,kakaknya temanku"

Jodha mengulurkan tangannya dan dibalas Hamidah.

"saya Jodha,tante"

"Hamidah" Hamidah melihat Jodha dari atas sampai bawah. Mencoba menilai gadis didepannya. Jodha merasa canggung dipandang seperti itu oleh Hamidah.

"Oh iya ma,kak Jodha dan adiknya tinggal di paviliun rumah kita"

"Apa? Tinggal dirumah kita!" Hamidah terkejut karena tidak ada yg memberitahunya tentang hal ini.

"Nanti aku jelaskan ma. Kita masuk dulu ya. Mama biar isturahat dulu. Aku duluan ya kak" Sehnaz mengajak Hamida masuk agar mamanya tidak marah karena tidak memberitahunya. Sehnaz pamitan ke Jodha. Sedangkan Hamida langsung masuk kedalam tanpa menoleh lagi ke Jodha. Jodha mengangguk lalu masuk ke paviliun setelah sebelumnya menyapa Romi.

������

"Coba jelaskan sama mama kenapa kalian tidak memberitahu mama tentang hal ini?" begitu masuk kamarnya,Hamida langsung memberondong Sehnaz dengan pertanyaan.

"Maaf ma kalau tidak memberitahu mama karena mama sedang tidak ada dirumah" Sehnaz menunduk saat mendapat pertanyaan dari Hamida.

"Lalu kenapa dia tinggal disini?"

"Sebenarnya aku berhutang nyawa pada Shivani,adiknya karena dia telah menyelamatkanku ma. Shivani kecelakaan dan aku membantunya agar cepat sembuh" Sehnaz berbohong. Dia masih takut mengatakan yg sebenarnya.

"Lalu kamu mengajaknya tinggal disini tanpa seizin mama!"

"Kak Jalal sudah setuju ma"

"Tapi seharusnya kalian bilang pada mama dulu. Jangan memasukkan orang lain sembarangan kerumah kita!"

"Maaf ma,tapi ini jalan satu2nya. Keadaan Shivani kritis. Aku tidak tega melihatnya ma"

Hamida menghembuskan nafas berat "antar mama kesana. Mama ingin melihat bagaimana keadaan gadis itu" Sehnaz menuruti perintah Hamida. Mereka berdua ke paviliun.

Setelah mandi dan berganti pakaian,Jodha melihat keadaan Shivani. Jodha seperti biasa duduk disebelah ranjang. Jodha mendengar ada langkah kaki menuju kearahnya. Jodha menoleh dan melihat Hamida dan Sehnaz.

"Kak Jodha,mamaku ingin melihat keadaan Shivani" Jodha berdiri lalu mempersilahkan Hamida untuk duduk.

"Silahkan tante" Hamida tidak merespon perkataan Jodha. Dia hanya berdiri sambil melihat Shivani. Jodha merasa gugup dengan respon Hamida.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Hamida.

"Dia masih koma" jawab Jodha.

"Apa kau sudah menyediakan dokter pribadi untuk gadis ini, Sehnaz"

"Sudah ma. Setiap hari dokter memeriksa keadaan Shivani"

"Bisa kau tinggalkan kami berdua Sehnaz! Mama ingin bicara dengan Jodha"

"Baik ma" Sehnaz pergi meninggalkan mereka berdua. Hamida kemudian duduk dan juga Jodha.

"Aku akan bicara to the point saja. Apa rencanamu dibalik semua ini?" Hamida menatap tajam Jodha.

"Maksud anda?"

"Tidak udah berpura2 bodoh Jodha. Kau pasti ingin mendekati Jalal dengan menggunakan adikmu bukan!"

Jodha terperangah tak percaya dengan tuduhan yg Hamidah lontarkan padanya. Rasanya seperti menusuk langsung ke jantung.

"Saya tidak ada rencana seperti yg anda tuduhkan pada saya. Sehnaz dan Jalal yg memaksa agar Shivani dirawat disini" Jodha berusaha berbicara sopan karena bagaimanapun juga Hamida adalah orang tua dari Jalal dan Sehnaz.

"Tapi kamu langsung setuju kan?"

Tak bisa dipungkiri Jodha memang setuju tapi dia tidak ada maksud lain. Dia hanya ingin adiknya segera sembuh. Jodha hanya diam tak menjawab.

"Aku peringatkan padamu Jodha,Jalal adalah seorang direktur sebuah perusahaan dan pastinya akan ada banyak wanita2 yg mendekatinya dengan berbagai cara. Jangan kau kira kalau aku tidak tau motifmu dibalik musibah adikmu ini. Aku akan selalu waspada terhadap para wanita2 yg mendekatinya agar Jalal tidak masuk perangkap sehingga membuatnya kehilangan semua yg dia miliki setelah melalui kerja keras yg dia lakukan selama bertahun-tahun"

Mata Jodha memanas tanda dia akan meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka bahwa Hamida menganggapnya seperti wanita mata duitan.

"Kali ini aku menginjinkan kalian tinggal disini,tapi begitu adikmu sembuh,kalian harus angkat kaki dari rumah ini karena kalian hanya benalu disini" Hamida berdiri lalu meninggalkan Jodha yg masih duduk terdiam. Tumpah sudah air matanya. Dadanya terasa sesak saat Hamida menyebutnya 'benalu'. Kalau saja Shivani tidak koma,dia juga pasti tidak akan mau tinggal disini. Karena keadaan-lah yg sudah membuatnya seperti ini. Jodha menoleh ke Shivani "cepatlah sembuh Shivani. Kakak membutuhkanmu"

������

Makan malam kali ini mereka yg biasanya bertiga kini berempat dengan adanya Hamidah. Suasana hening karena tidak ada yg bicara hingga Hamida membuka suaranya, "Jadi,Jodha juga bekerja diperusahaanmu Jalal?"

"Iya ma" jawab Jalal.

"Kamu wanita beruntung Jodha,selain mendapat tinggal kini lalu mendapat pekerjaan langsung dengan mudah" sindir Hamidah. Jodha hanya menunduk mendengar ucapan Hamidah.

Jalal yg mendengar mamanya bicara sinis langsung menyahut "Jodha kan sedang butuh bantuan ma. Jadi wajar saya kalau aku menolongnya" Jalal melirik ke Jodha karena melihat Jodha yg seperti tak enak dengan ucapan Hamidah.

"Kau sepertinya peduli sekali dengannya Jalal!"

"Mama jangan berlebihan seperti itu"

"Mama heran saja,kenapa kalian begitu care pada mereka berdua. Apa benar Shivani sudah menyelamatkan Sehnaz?"
Jalal dan Sehnaz diam terpaku. Sepertinya Hamidah mulai curiga pada mereka berdua.

"Mama jangan berpikir yg aneh2. Aku sudah selesai. Aku duluan..." Jalal berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka. Jodha makin merasa tak enak dengan keadaan ini.

������

Sejak kejadian tadi malam,Jodha tidak mau lagi diantar oleh Romi. Dia tidak ingin semakin dibenci oleh Hamida. Entah kenapa Hamidah tidak menyukainya. Jodha hampir tidak bisa tidur tadi malam karena ucapan pedas Hamidah.

Di kantor,Jodha sedang mendapat pengarahan dari Atghah. Saat ada panggilan di interkomnya yg ternyata dari Moti, "Jodha,pak Jalal memanggilmu keruangannya sekarang"

"Baik" Jodha mengernyitkan dahinya heran. Ada apa Jalal memanggilnya. Setelah pamit dengan Atghah,Jodha bergegas ke lantai 5 menuju ruangan Jalal.

Begitu sampai di depan ruangan Jalal,Moti mempersilahkan Jodha masuk.
Jodha masuk kedalam ruangan Jalal yg didominasi dengan warna putih dan hitam sesuai dengan karakter Jalal yg dingin. Ini pertama kalinya Jodha masuk ke area pribadi Jalal. Dia terpukau dengan design ruangannya.

"Silahkan duduk Jodha"

"Terima kasih pak" Jodha berkata formal karena dia harus bersikap profesional. Jodha duduk didepan meja kerja Jalal, "maaf pak. Ada perlu apa memanggil saya?"

"Tolong maafkan sikap mamaku padamu Jodha"



Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...