@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @
Epilog
:-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-)
Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik.
Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia.
Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga proses kelahirannya lancar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Shia yg tidak tega melihat aunty nya meringis kesakitan hanya bisa menangis sambil mengikuti Jodha mondar-mandir. Sesekali dia berteriak pada Aisha agar segera menolong Jodha.
“Mommy...hiks...kasian aunty. Mommy cepat telepon uncle Jalal. Aunty sakit nih...hiks”
Aisha juga tak kalah panik. Dia menggendong Abiel yg menangis karena mendengar kakaknya berteriak dan menangis. Aisha juga ikut mondar-mandir sambil menelepon Jalal.
“Dimana sih Jalal! Dari tadi ditelepon gak diangkat-angkat!” Aisha menaikkan nada suaranya karena kesal Jalal tidak mengangkat teleponnya. Suaranya membuat Abiel semakin keras menangis.
“Uwek….uwek….”
“Cup...cup…ya sayang. Adik Abiel gak boleh nangis ya” Aisha menenangkan Abiel dengan mengelus punggungnya.
“Mommy…..”
“Iya Shia. Ini mommy sedang telepon unce mu. Kamu jangan bikin mama tambah panik!”
Aisha tambah stress dengan teriakan Shia. Disaat genting seperti ini malah tidak ada orang dirumah. Humayun dan Hamidah sedang pergi ke pernikahan teman bisnis Humayun di puncak. Sedangkan Ryan ada meeting penting. Dan Jalal sedang bekerja namun tidak bisa dihubungi.
“Aaargghhhhttt…” Jodha berteriak kesakitan.
“Jodha…” Aisha menghampiri Jodha.
“Kak...tolong cepat telepon Jalal. Aku...sudah tidak kuat kak”
“Iya Jo...ini aku sedang meneleponnya”
Sedetik kemudian ada sahutan dari Jalal “Halo,kak Aisha. Ada apa?”
“Kamu dari mana saja aku telepon dari tadi!”
“Maaf kak. Aku sedang di toilet”
“Cepat kemari! Jodha sepertinya akan melahirkan. Dia mengalami kontraksi”
“Apa! Eh..iya kak. Aku segera kesana” Jalal jadi panik dan gugup.
Jalal mematikan teleponnya lalu bergegas pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk menelepon Ryan.
°°°
Setelah Jalal menjemput Jodha dengan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh,akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Jodha merasakan perutnya begitu sakit dengan peluh yg sudah membasahi wajahnya.
“Aarrgghhh….” teriak Jodha sambil memegangi perutnya. Jodha sedang dibawa dengan brankar menuju ke ruang bersalin. Satu tangannya dipegang oleh Jalal.
“Hu...hu...huft…” Jodha mencoba mengambil nafas sambil meringis kesakitan.
“Aku gak kuat Jalal….”
“Kamu harus kuat sayang. Demi anak kita. Aku akan menemanimu berjuang melahirkan anak kita”
Jalal sungguh tidak tega melihat wanita yg dia cintai kesakitan seperti ini. Ingin rasanya dia menggantikan rasa sakit yg dialami Jodha. Begitu besar pengorbanan seorang ibu melahirkan anaknya meski harus bertaruh nyawa.
Aisha yg sedang menggendong Abiel dan tangan satunya menggandeng tangan Shia berjalan dibelakang Jalal. Shia tak hentinya menangis melihat auntynya kesakitan seperti itu. Seperti ikut merasakan apa yg Jodha alami.
Begitu masuk keruang bersalin,Jalal meminta izin pada dokter untuk menemani istrinya. Dokter pun mengizinkan karena tak tega melihat wajah memelas Jalal. Setelah mendapat izin,Jalal berkata pada Aisha agar menunggu diluar.
“Uncle...Shia ikut ya”
“Jangan sayang. Biar uncle saja ya. Anak kecil tidak boleh ikut” ucap Jalal memberikan pengertian.
“Tapi uncle…”
“Benar kata uncle Shia sayang. Kamu gak boleh ikut kedalam. Kita berdoa buat aunty Jodha supaya lancar melahirkan. Shia mau kan?” Akhirnya Aisha mencoba membujuk Shia dan Shia mengangguk menuruti.
“Anak pintar” Jalal mengelus rambut Shia lalu masuk kedalam.
^^^^
“Ayo bu Jodha,tarik nafas...keluarkan...lalu coba untuk mengejan” dokter memberikan instruksi.
Jodha menuruti instruksi dokter dengan tangannya menggenggam erat tangan Jalal hingga Jalal meringis.
“Ayo sayang...tarik nafas...keluarkan…” Jalal mencoba memberi semangat meskipun tangannya kini kebas dan memerah karena genggaman tangan Jodha yg begitu kuat.
Jalal tak perdulikan dengan kesakitannya. Baginya sakit yg dialaminya tak sebanding dengan apa yg Jodha rasakan saat ini.
“Ya bu Jodha...ayo terua dorong. Kepalanya sudah keluar”
“Eeeggghhhh….hosh...hosh…”
Jodha terus mendorong dengan rasa sakit yg luar biasa. Jalal mengusap peluh yg ada di wajah Jodha dengan saputangan.
“Ueek...ueek…”
Suara tangisan bayi begitu menggema di ruangan itu. Jalal terharu melihat anaknya yg telah lahir. Sedangkan Jodha terkulai lemas.
“Alhamdulillah bayinya lahir dengan selamat. Selamat pak Jalal,bu Jodha telah melahirkan seorang putra yg tampan”
“Alhamdulillah” ucap Jalal bersyukur. Air mata haru menetes dimatanya. Dia sudah menjadi seorang ayah.
“Terima kasih sayang. Kau memberiku harta yg paling berharga. Terima kasih. Aku semakin mencintaimu” Jalal mengecup kening Jodha lama dan Jodha balas tersenyum.
Setelah bayi itu dibersihkan dan diselimuti,suster memberikan pada Jalal untuk diadzani. Setelah sang bayi diadzani,suster menyerahkan pada Jodha dengan ditaruh diatas dada Jodha supaya ikatan ibu dan anak semakin kuat.
Jodha terharu melihat bayinya mengemut jari jempolnya sendiri. Lalu bayi itu bergerak untuk mencari makanannya dan akhirnya berhasil menemukannya lalu menyedotnya dengan kuat.
Mata Jalal kembali berkaca-kaca melihat pemandangan luar biasa di depannya. Putranya menyusu dengan lahap sebanyak yg dia mau.
“Dia persis sepertimu Jalal. Rambutnya,hidungnya,alisnya dan bibirnya. Dia tampan sepertimu”
“Dan matanya sepertimu sayang” sahut Jalal. Jodha kembali tersenyum.
“Lihat begitu lahapnya dia menyusu. Sampai lupa sama daddynya”
Jodha mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud Jalal.
“Daddynya iri karena sekarang bukan hanya daddynya yg mendapatkan itu,tapi dia juga” ucap Jalal santai sambil mengarahkan dagunya ke bukit kembar Jodha.
Jodha melongo lalu sedetik kemudian dia baru tersadar “Huh...dasar omes dan Mr.Modus. Pikirannya gak jauh2 dari itu”
“Hehehe...kan cuma sama kamu sayang”
Jodha hanya menggelengkan kepalanya.
Sedangkan diluar ruangan,Shia tak henti-hentinya merajuk. Dia ingin melihat adik barunya.
“Ayo Mommy...kita lihat dedek”
“Sebentar ya sayang. Ini adikmu sudah mau tidur” Aisha menyusui Abiel yg kini mulai tertidur di dekapannya.
Tak lama Ryan datang dengan tergopoh-gopoh “Bagaimana Jodha?”
“Jodha sudah melahirkan dengan selamat mas. Bayinya laki-laki”
“Alhamdulillah. Apa kamu sudah melihatnya”
“Belum mas. Aku barusan menidurkan Abiel yg rewel”
“Daddy...ayo kita lihat dedek” Shia menarik tangan Ryan.
“Ayo”
Mereka bertiga masuk kedalam. Shia langsung mendekat ke Jodha yg sedang menyusu.
“Dedeknya udah tidur aunty?”
“Belum sayang. Dedeknya masih nenen”
“Selamat ya Jodha,Jalal. Kalian sudah menjadi orangtua”
“Terima kasih kak Ryan” jawab Jalal.
“Selamat ya Jodha. Wah...dia tampan sekali” Aisha gemas melihat bayi Jodha.
“Tentu dong kak. Siapa dulu ayahnya. Pasti tampan sepertiku kan” ucap Jalal jumawa.
“Iisshhh...sombong banget” sahut Ryan mencemoh. Jalal hanya nyengir.
“Apakah papa dan mama sudah kamu beritahu?”
“Sudah kak. Mereka sedang otw kesini. Mama Meena dan Daniyal juga sudah aku beritahu”
“Oh iya. Apa kalian sudah memberinya nama?”
Jalal dan Jodha berpandangan lalu tersenyum “Sudah kak. Namanya Alkhalifi Zikri Hamizan yg artinya anak laki-laki yang baik, mulia dan tampan.”
“Wah...Bagus sekali namanya” ujar Aisha.
“Dedeknya dipanggil Alkha ya uncle” sahut Shia tiba2 menyela pembicaraan mereka.
“Iya. Kamu benar sayang. Dedek bayi dipanggil Alkha”
“Yeeeyyyy...Shia punya dua dedek. Dedek Abiel dan dedek Alkha” Shia bersorak gembira membuat semua yang ada disana ikut tertawa.
°°°
Setelah 3 hari dirumah sakit,Jodha dan Alkha diperbolehkan pulang. Semua keluarga menyambut bahagia kehadiran anggota baru keluarga mereka.
Seminggu kemudian,Jalal mengadakan Aqiqah untuk putranya dengan perayaan besar. Semua kolega dan para karyawan hotel diundang di acara ini. Jalal ingin membagi kebahagiaan pada semua orang dengan lahirnya putranya dengan Jodha. Meena diminta Jodha untuk tinggal disini sementara agar tidak merasa kesepian saat Daniyal dan Tania sedang berbulan madu.
“Sayang sekali papa tidak ada disini ma. Seandainya ada papa,beliau pasti bahagia melihat cucu pertamanya” ucap Jodha yg duduk bersebelahan dengan Meena sambil menatap Alkha yg ada digendongan Meena.
“Meskipun papamu tidak ada disini tapi dia melihatnya diatas sana. Dia sudah bahagia disana sayang”
Mereka lalu berpelukan dengan mata berkaca-kaca karena teringat dengan almarhum Bharmal yg telah berpulang.
€€€€
Dini hari bayi Alkha menangis kencang. Saat itu Jodha sedang berada dikamar mandi. Jalal bangun dari tidurnya lalu menghampiri box bayi yg ada disebelah ranjangnya lalu meraih Alkha.
“Oohh...jagoan Daddy kenapa menangis? Kamu lapar ya sayang” meskipun mata Jalal mengantuk berat namun melihat putranya menangis,dia tetap berusaha melek.
Jalal menggendong Alkha lalu menggoyangkan tubuhnya “tunggu sebentar ya. Mommy masih dikamar mandi”
Sedetik kemudian Jalal mencium bau yg sangat menyengat. Jalal mengendus-ngendus tubuh Alkha dan ternyata bokong Alkha sudah basah karena popoknya.
“Ya ampun...ternyata kamu lagi pup ya sayang. Maka nya kamu nangis terus. Ya sudah,biar daddy yg ganti”
Jalal meletakkan Alkha diranjangnya lalu membuka celana dan popok Alkha. Dengan sigap Jalal membersihkan dan mengganti popok baru dengan cekatan tanpa merasa jijik. Tanpa dia sadari Jodha sudah sedari tadi melihat perbuatannya. Jodha terharu dengan perlakuan Jalal pada Alkha seolah pria itu sudah terbiasa melakukannya.
“Selesai. Jagoan Daddy sekarang sudah bersih dan cakep” Alkha pun sudah mulai tenang. Bahkan dia tertawa mendengar suara Jalal.
“Terima kasih Daddy”
Jalal menoleh mendengar suara Jodha yg dibuat seperti anak kecil. Jodha memghampiri mereka.
“Eh sayang. Sudah selesai”
Jodha menggendong Alkha lalu mulai menyusuinya “Iya. Aku melihatmu dari tadi”
“Dari tadi?”
“He em.. Kamu belajar darimana sih. Kok pintar banget ngurus anak”
Jalal tersenyum “Aku kan dulu yg mengurus Shia waktu dia dilahirkan”
“Hah...kok bisa?”
“Waktu itu kak Aisha koma selama 3 hari pasca melahirkan Shia karena kesehatannya ngedrop. Kak Ryan sudah seperti orang gila karena kak Shia yg gak kunjung sadar. Mama dan papa akhirnya sibuk mengurusi kak Ryan yg seperti zombie” Jalal tersenyum mengingat lagi kejadian itu.
Jalal lalu meneruskan ceritanya “Dan Arshia malah tak terurus karena orangtua kak Aisha juga sedang keluar negeri. Akhirnya aku yg terpaksa mengurus Shia. Aku bertanya kaesana kemari tentang tata cara merawat bayi. Bahkan aku juga mencari di google. Waktu itu aku masih kuliah jadi aku harus izin dulu sementara untuk mengurus Shia”
Jodha yg mendengar cerita Jalal hanya melongo.
“Kau tau...waktu itu aku sendiri tertawa. Kok bisa aku yg hanya pamannya justru yg merawatnya. Karena itulah aku sering menggoda kak Ryan dan berkata ‘ini yg orangtuanya siapa,yg ngerawat juga siapa’. Kalau aku sudah menggoda begitu,kak Ryan tidak akan bisa berkutik melawanku. Hahahaha…”
Jodha ikut tertawa “Karena itu kamu bisa telaten merawat bayi?”
“Yup”
Setelah menyusu,Alkha kembali tertidur. Jodha lalu meletakkan Alkha di box bayi. Jalal memeluk Jodha dari belakang. Dagunya dia tumpukan pada bahu Jodha.
“Aku mencintai kalian. Kalian adalah hartaku yg paling berharga” ucap Jalal sambil memandangi Alkha yg tertidur lelap sambil tersenyum.
“Terima kasih Jalal. Kau adalah suami dan ayah siaga. Kami juga mencintaimu Daddy”
Jodha dan Jalal memandang putra mereka dengan perasaan bahagia. Lengkap sudah kebahagiaan mereka.
°°°°
Jodha sedang sibuk merapikan tempat tidur. Alkha sudah tidur sejak tadi. Tiba2 ada seseorang yg memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Jalal.
“Sayang…”
“Hmm…”
“Apa kamu sudah suci” tanya Jalal sambil mengecupi leher dan bahu Jodha. Jodha menjadi geli.
“Kalau belum memang kenapa?”
“Ini kan sudah dua bulan sayang. Masa belum selesai juga. Aku harus puasa selama itu. Apakah kau tidak merasakan dia yg merindukanmu” Jalal semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jodha. Jodha menahan senyumnya merasakan milik Jalal yg menegang.
“Ya mau bagaimana lagi. Itu kan sudah menjadi kodrat wanita”
Jalal menghembuskan nafasnya kasar “Hufftt...sepertinya aku harus mandi air dingin lagi malam ini”
Jalal melepaskan pelukannya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menidurkan juniornya. Bobo ya...hahahaha…
¢¢¢¢
Selesai mandi,Jalal sedang sibuk dengan laptop dipangkuannya sambil bersandar di kepala ranjang.
Klek…
Pintu kamar mandi terbuka. Jodha keluar dari sana mengenakan kimono mandinya. Jalal tidak memperhatikan Jodha karena takut akan bergairah lagi. Jodha mengulum senyumnya melihat Jalal yg tak berani menatapnya.
“Sayang…”
“Hmmm..”
“Kamu kok belum tidur?”
“Nanggung sayang. Sebentar lagi”
Jodha kembali tersenyum misterius “Kita lihat apakah kamu masih tak menghiraukanku” batin Jodha.
Jodha melepas kimononya lalu naik keatas ranjang sambil berbaring miring menghadap Jalal.
“Tidurlah sayang. Kau pasti lelah” Ucap Jodha dengan suara yg dibuat mendesah.
“Bentar la…”
Glek….
Jalal menoleh dan menelan ludahnya susah payah saat melihat pemandangan disebelahnya hingga membuatnya tak bisa melanjutkan kata-katanya. Bagaimana dia tidak kaget,Jodha saat ini memakai lingerie transparan warna merah menyala.
Jakun Jalal naik turun begitu melihat belahan dada Jodha yg begitu mengundangnya.
“Kenapa Jalal?” tanya Jodha pura2 polos.
“Jangan menggodaku sayang. Aku semakin tersiksa”
“Jadi...kamu hanya ingin melihatnya saja” goda Jodha.
“Apa maksudmu?” Jalal memicingkan matanya melihat senyum menggoda Jalal “Apa..kau sudah..”
“Menurutmu…”
“Oh shit! Kau benar-benar harus dihukum rupanya karena sudah mempermainkanku”
Jalal menutup laptopnya dan menaruhnya di meja nakas. Jalal menindih tubuh Jodha. Jalal mengunci kedua tangan Jodha keatas agar tidak bergerak dengan satu tangannya “Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan besok sayang. Aku akan mengambil jatahku selama dua bulan ini. Bersiaplah”
Jalal langsung mencium bibir Jodha dengan kasar. Dia tak pedulikan tangan Jodha yg bergerak akibat dipegangnya terlalu erat. Jalal melumat,mengulum lalu menggigit bibir bawah Jodha hingga membuatnya mendesah. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jalal untuk lidahnya masuk rongga mulut Jodha dan memporak-porandakannya. Jodha frustasi karena tangannya tak bisa menggapai apapun untuk digenggamnya. Sedangkan tangan Jalal yg satu lagi mulai menyentuh bukit kembar Jodha.
“Ueek...uueekk…”
Tiba2 terdengar suara tangisan Alkha,membuat Jalal dengan terpaksa melepaskan ciumannya. Jodha terengah-engah akibat ciuman Jalal. Dengan segera Jodha mendorong tubuh Jalal yg menindihnya lalu bangkit dan merapikan tali bahu lingerienya yg sudah melorot sebelah. Jodha lalu berjalan menghampiri box ranjang Alkhan.
“Eehh...anak Mommy kenapa,kok nangis. Haus ya sayang” Jodha menggendong Alkhan lalu mulai menyusuinya.
“Hadeeh...pusing kepalaku” Jalal mengacak rambutnya frustasi. Jalal menenggelamkan wajahnya ke bantal dengan posisi tengkurap.
Tak lama Alkhan akhirnya tertidur. Jodha meletakkan Alkhan kembali ke box bayi lalu menghampiri Jalal “Sayang,kamu sudah tidur?” Jodha mengguncang bahu Jalal.
Jalal mendongakkan kepalanya “Apa dia sudah tidur?”
“Sudah”
“Beneran..” tanya Jalal dengan tatapan sayu.
“Iya beneran”
“Nanti dia gak ganggu lagi kan?”
Jodha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita lanjutkan yg tadi” Jalal menarik tubuh Jodha lalu kembali menindihnya.
“Aku kira kamu sudah tidur”
“Hhhh...bagaimana aku bisa tidur kalau gairahku belum turun seperti ini. Aku harap Alkhan kali ini mau mengerti kalau sekarang giliran daddynya yg minta diperhatikan”
Jalal mencium bibir Jodha namun kini lebih lembut dari yg tadi. Mungkin saja Alkhan bangun karena merasa Mommynya dikasari oleh Daddynya. Batin Jalal.
Dan seakan Alkhan mengerti keinginan Daddynya yg ingin berduaan dengan Mommynya,bayi lucu itu tidak terjaga sampai pagi. Kedua orangtuanya sibuk menyecapi indahnya surga dunia dengan keantengan Alkhan.
^^^^^^^^
5 tahun kemudian…
Dua orang anak laki-laki berumur 5 tahun sedang sibuk bermain bola bersama Ryan. Sedangkan dua anak kembar laki2 dan perempuan umur 2 tahun sedang bermain ayunan bersama Aisha dan Shia.
“Gooollll…”
“Aahhhh...Abiel dari tadi menang terus. Uncle Ryan,kapan Alkha bisa gool kayak Abiel” rajuk Alkha karena sedari tadi dia kalah.
“Kamu kalau lari jangan lambat,biar nendangnya kuat” sahut Abiel. Alkha semakin memanyunkan bibirnya.
“Alkha gak boleh patah semangat dong. Ayo uncle ajari” Ryan lalu mengoper bola ke Alkha dan mulai mengajarinya.
Si kembar yg melihat kakaknya cemberut malah ketawa cekikikan “xixixi..akak Al dak isa maen ola” ujar Nevan cadel.
“Iya..akak Al ayah (payah)” sahut Nessa yg sama cadelnya dengan saudaranya.
“Eh...sama kakaknya gak boleh diketawain. Tapi dikasih semangat ya” Aisha menasehati.
“Iya dek. Kayak kakak gini loh ngasih semangatnya. Ayooo Alkha..kamu bisaaaa…” Shia yg berumur 10 tahun memberi contoh pada si kembar berbeda jenis kelamin itu sambil bertepuk tangan.
“Aooo….akak Al...amu isaaa…” teriak si kembar bersamaan ikut menirukan Shia sambil tepuk tangan.
Jodha dan Jalal yg melihat dari kejauhan hanya tersenyum melihat anak2nya. Mereka berdua duduk selonjor di tikar karena Jodha sedang hamil 7 bulan. Dengan kehamilannya yg ketiga ini membuatnya tak bisa banyak bergerak.
Setelah Alkha berumur 3 tahun,Jodha melahirkan bayi kembar laki2 dan perempuan. Yang laki2 bernama Nevan Fabian Ardhani dipanggil Nevan. Sedangkan yg perempuan bernama Nessa Falesia Ardelia dipanggil Nessa.
Kalau Alkhan replika kecil dari Jalal. Sedangkan si kembar replika kecil dari Jodha. Dan kini dia hamil kembali saat si kembar berumur 2 tahun.
Mereka kini sedang berada di taman Azza Wonderland yg khusus dibuat oleh Ryan untuk anak2 dan keponakannya. Dia membuat tempat privasi yg letaknya dekat dengan kantornya. Saat ini mereka sedang liburan dengan piknik bersama.
Jodha menyenderkan kepalanya di bahu Jalal sambil tangannya mengelus perutnya. Jalal melingkarkan tangannya di bahu Jodha.
“Lihatlah anak2 kita. Mereka tampan dan cantik dan juga gesit. Tidak ada lagi yg bisa membuatku bahagia saat melihat kalian. Hidupku sempurna sekarang. Terima kasih sayang” Jalal mengecup rambut Jodha.
“Aku juga bahagia mempunyai suami yg sabar sepertimu dan malaikat2 kecil kita. Terima kasih suamiku. I will always love you”
Jalal tersenyum lalu berkata “I will always love you too forever istriku”
Jalal mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jodha yg sudah menjadi candu baginya. Meskipun mereka sudah mempunyai 3 anak,hampir 4 dengan calon bayinya tak membuat keromantisan mereka pudar. Justru cinta mereka semakin tumbuh dan berkembang.
“Mommy...Daddy…” teriak ketiga anaknya bersamaan menghampiri mereka membuat Jodha dan Jalal kaget dan melepaskan ciuman mereka.
“We love you...Mommy...Daddy…”
Mereka berpelukan sambil tertawa bersama.
# FIN #
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
AKHIRNYA SELESAI JUGA FF JTJC INI. INI SUDAH PART TERAKHIR YA. GAK ADA TAMBAHAN LAGI. SUKRIYA BUAT TEMAN2 SEMUA YG SUDAH MAU MEMBACA CERITA INI…
BYE...BYE….
Komentar
Posting Komentar