Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������
�� JANGAN TAKUT JATUH CINTA ��
Part 34
↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖
Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan.
"Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya.
"Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal.
"Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku"
"Mulai deh gombalnya"
"Aku serius sayang"
"Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana"
"Iisshh..kamu kok kayaknya ngusir aku sih sayang" Jodha terkekeh bila sifat manja Jalal keluar.
Akhirnya Jalal berpamitan. Dia mencium kening Jodha lama, lalu kedua pipinya, terakhir bibirnya. Jodha segera menyudahi ciuman Jalal karena malu dilihat banyak orang. Jalal seperti tak rela dan enggan melepasnya.
"Kamu harus jaga kesehatan ya. Awas! jangan main mata apalagi main cewek. Kalau berani macam2, aku akan tinggalin kamu"
Jalal menggelengkan kepalanya "Enggak sayang. Aku gak akan macam2. Aku kan kerja disana. Kamu juga jangan lirik2 cowok selama kamu kerja, kalau enggak aku bakal kurung kamu dikamar" Jalal tak mau kalah mengancam. Jodha terkekeh.
"Aku akan telpon kamu setiap jam. Harus diangkat" Jalal melangkah mundur meninggalkan Jodha disertai kiss bye dengan tangannya. Jodha membalas kiss bye Jalal.
Tiba2 Jalal meletakkan tasnya dan berlari kearah Jodha lalu memeluknya dengan erat. Jodha sampai kaget dan hampir terjungkal ke belakang.
"I will miss you" Ucap Jalal.
Jodha tersenyum melihat gaya lebay suaminya "I will mis you too" Jodha membelai punggung Jalal.
Jalal melepaskan pelukannya dan sekali lagi mengecup bibir Jodha singkat lalu berbalik, berjalan meninggalkan Jodha.
"Dasar Mr.Modus. Tapi akan rindu kemodusanmu"
Pesawat akhirnya berangkat menuju Surabaya. Jodha melambaikan tangannya.
������
Perjalanan dari bandara SOETA ke bandara Juanda Surabaya menempuh waktu kira-kira 1 jam. Setelah tiba di Juanda, Jalal sudah dijemput oleh pihak hotel dan langsung menuju ke AZZA Hotel. Setelah membersihkan diri, Jalal langsung menelepon Jodha. Setelah selesai menelepon, Jalal memulai sidaknya di hotel.
������
Malam hari Jodha dan yg lainnya sedang berada diruang keluarga membahas tentang sesuatu.
"Jadi kita adakan pesta kejutannya dirumah saja" tanya Hamidah.
"Iya Ma. Biar hemat waktu karena waktynya cuma sebentar" jawab Jodha.
"Sebaiknya diadakan di taman belakang saja Jo. Disana kan luas dan suasananya juga asri" Sahut Aisha.
"Iya kak. Aku juga sudah memikirkannya"
Saat mereka asyik berdiskusi, tiba2 hp Jodha berbunyi. Jodha melihat ke layar tertera nama Jalal.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Hai sayang. Maaf ya baru telepon" ucap Jalal diseberang sana.
"Iya tidak apa2"
"Aku kangen banget sama kamu. Padahal belum 24 jam. Aku nanti pasti gak bisa tidur karena gak bisa peluk kamu"
Jodha terkekeh "Ya peluk aja guling. Bayangin aja aku" Aisha,Ryan dan Hamidah tersenyum mendengar ucapan Jodha.
"Ya gak enaklah yang. Kalau sama guling kan gak bisa meraba-raba"
"Iihhh..kumat deh omesnya"
"Hehehe... Oh iya sayang, mumpung ada di Surabaya, aku tadi mengunjungi emakku"
(Jiiiaahhh.. Emak...gak elit banget Jal..lal)
"Oh ya. Terus gimana"
"Emak kirim salam buat kamu. Emak udah nyediain oleh2 banyak buat kamu. Ada rengginang, risol mayo,dodol, jenang"
"Waahh..pasti enak tuh. Jadi ngiler deh"
"Eehh..itu belum seberapa sayang. Rencananya emak mau bawakan lontong balap khas Surabaya. Sayangnya gak jadi karena nanti keburu basi dijalan..xixixi"
"Hahaha...ya udah gak pa2. Sampaikan salam terima kasihku buat emak"
"Iya sayang"
Dan mereka terus mengobrol hingga larut malam. Sehingga Jodha harus pindah kekamar setelah izin pada Hamidah dan lainnya. Jodha kini berbaring miring sambil masih menempelkan teleponnya di telinga.
"Gak terasa udah malam yang. Saking rindunya, aku sampai lupa waktu. Ya udah kamu tidur aja. Kamu pasti capek. Selamat malam sayang. Mimpiin aku ya. Muuaacch��" Jalal mengakhiri obrolannya.
"Kamu juga istirahat sayang. Jangan terlalu capek. Selamat malam juga. I love you. Muuaacch��" Jodha mematikan teleponnya dan bersiap untuk tidur.
Saat Jodha merapikan bantalnya untuk posisi tidur, tiba2 perutnya merasakan mual. Jodha menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Dia muntah di wastafel namun hanya berupa air. Setelah selesai mengeluarkan muntahannya, Jodha membersihkan mulutnya lalu kembali ke ranjang. Dia masih memegang perutnya yg terasa kebas. Jodha minum segelas air putih yg ada di meja nakas dan tanpa sengaja dia melihat pembalut yg terlihat di lemari bawah. Jodha lalu mengingat-ingat.
"Rasanya bulan ini aku kok belum datang bulan ya" Jodha melihat kalender yg ada, dimeja. Ternyata memang benar kalau dia sudah telat.
"Apa jangan-jangan..."
������
Jodha menatap sebuah alat testpack ditangannya dan terkejut melihat dua tanda garis merah. Dia bahagia karena itu tandanya dia sedang hamil. Tak henti-hentinya Jodha bersyukur. Akhirnya doanya dan Jalal terkabul.
Jodha sarapan bersama keluarga Jalal dan saat menyuapkan makanan ke mulutnya, Jodha kembali merasa mual2. Jodha langsung berlari kearah dapur. Hamidah dan Aisha heran dengan sikap Jodha. Hamidah langsung menghampiri Jodha di dapur dan membantu memijat tengkuknya.
"Kamu gak pa2 sayang. Wajahmu pucat sekali"
"Perutku gak enak Ma. Rasanya kayak diaduk-aduk"
"Kamu sudah datang bulan?"
"Belum Ma"
"Jangan2 kamu hamil sayang"
"Iya Ma,aku hamil. Aku sudah menge-test-nya tadi"
"Benarkah. Selamat ya sayang.Jalal pasti senang" Hamidah memeluk Jodha.
"Tapi jangan bilang dulu pada Jalal Ma"
"Kenapa"
"Biar menjadi kejutan saat dia pulang nanti"
"Oohh..baiklah. Jalal pasti jingkrak2 begitu dia tau akan menjadi ayah. Hari ini kamu izin cuti saja. Kamu harus ke dokter memeriksakan kandunganmu. Mama yg ngantar"
"Terima kasih Ma"
Hamidah lalu memberi tau kesemuanya tentang kehamilan Jodha. Humayun, Ryan, Aisha dan Shia tentu saja merasa senang.
"Selamat ya Jo. Akhirnya kamu akan menjadi ibu" Aisha memberi ucapan selamat diikuti Humayun dan Ryan.
"Yeeaayy...tante hamil. Berarti aku akan punya adik lagi" Shia melonjak kegirangan membuat semua yg ada disana tertawa.
"Ryan, hari ini Jodha izin tidak masuk dulu ya" Hamidah meminta izin bosnya Jodha.
"Iya Ma"
"Oh iya, kalian tolong jangan beritahu Jalal dulu karena Jodha ingin memberi kejutan"
"Baik boss" Semua mengangkat tangan dikepala. Hamidah tertawa.
Jodha juga memberitahu Bharmal dan Meena. Mereka bahagia karena akan mempunyai cucu pertama.
Jodha diantar Hamidah ke dokter kandungan keluarga Jalal "Selamat nyonya Jodha. Anda hamil sudah memasuki minggu kedua. Saya akan memberi vitamin dan obat anti mual. Selama trimester pertama anda harus bethati-hati karena masih rawan. Jangan terlalu banyak pikiran dan kurangi pekerjaan yg berat"
"Iya dok. Terima kasih. Saya akan berusaha untuk menjaga kandungan saya"
Setelah diperiksa, Jodha dan Hamidah kembali kerumah.
®®®
Dirumah Hamidah sedang sibuk mempersiapkan pesta kejutan untuk Jalal. Jodha yg sejak kemarin izin tidak masuk kerja ikut membantu persiapan. Aisha yg sedang hamil 7 bulan hanya membantu sedikit karena Ryan melarangnya bekerja yg berat2.
Hari ini adalah hari ketiga Jalal di Surabaya. Itu berarti nanti sore dia akan kembali ke Jakarta. Selama seharian ini Jalal uring2an karena pekerjaannya yg begitu banyak memantau perkembangan hotel apalagi ditambah Jodha yg tidak menerima telepon darinya. Hpnya selalu tidak aktif. Hingga akhirnya Jalal harus menelepon Ryan untuk menanyakan Jodha. Ryan mengatakan kalau Hp Jodha lowbatt dan dia juga sibuk dengan proyeknya.
"Aaarrrgghhh!!! Kenapa jadi gini sih. Disaat kangen begini malah gak bisa tersalurkan. Seharusnya kamu aku larang untuk kerja agar ada waktu untukku juga" Jalal ngomel2 sendiri sambil mengacak-ngacak rambutnya. Persis seperti orang stress.
¶¶¶
Sore hari, Jalal telah sampai di bandara SOETA. Saat Jalal berharap Jodha menjemputnya,. Dia harus kecewa karena hanya sopir yang menjemputnya. Jalal sampai bertanya-tanya kemana semua orang sampai tidak ada yg menjemputnya.
"Awas kamu Jodha sayang. Aku akan menghukummu sampai dirumah nanti karena sudah membuatku kuatir" Jalal terus saja memggerutu selama dalam perjalanan pulang. Si sopir menahan senyumnya melihat tingkah Jalal.
Sampai di depan rumah, Jalal langsung keluar dari mobil tanpa pedulikan ucapan si sopir. Dia berjalan tergesa-gesa. Bahkan didepan rumah tidak ada yg menyambutnya. Amarahnya seketika naik melihat rumah yg kosong.
"Jodha... Sayang kamu dimana?" Jalal langsung kekamar dan tidak menemukan siapa2 disana, "Kenapa rumah ini sepi? Kemana semua orang"
Jalal berjalan ke dapur lalu ke ruang tengah juga kosong. Seperti rumah yg tidak berpenghuni sama sekali. Akhirnya tempat terakhir yg belum dilihat adalah taman belakang. Jalal berjalan ke taman belakang rumah. Sampai disana, taman terlihat gelap.
"Kenapa taman gelap sekali. Sebenarnya kemana sih semua orang?" Jalal berkacak pinggang.
Saat dia akan berbalik untuk kembali kedalam rumah, lampu tiba2 menyala membuat Jalal berbalik kembali dan betapa terkejutnya semua orang berkumpul.
"Darimana keluarnya?" Jalal menggaruk kepalanya yg tak gatal.
"SURPRISEEE... " Semua orang berteriak. Jalal hanya melongo.
"SELAMAT ULANG TAHUN"
Jodha berjalan kearahnya sambil membawa kue tart. Jalal terkejut dengan kejutan ini. Dia tidak menyangka keluarganya merayakan hari lahirnya. Padahal dia sendiri lupa ulang tahunnya saking sibuknya uring2an tadi. Amarahnya yg tadi mencuat kini menguap entah kemana.
Komentar
Posting Komentar