Part ini bikin nyesek dan baper. Awas panci dan teflonnya melayang. Hehehe...
CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 13
☎
Jalal, Hamidah dan Sehnaz sedang beradu argumen di ruang kerja Jalal. Hamidah terus-terusan memojokkan Jodha.
"Kalian ini kenapa sih selalu membela dia. Jangan2 dia memakai guna2 untuk mempengaruhi kalian!" Hamidah geram pada Jalal dan Sehnaz yg selalu membela Jodha.
"Mama ini bicara apa! Jodha bukan wanita seperti itu. Dan kenapa mama tidak begitu menyukai Jodha?"
"Adiknya koma dan kalian yg merawatnya lalu dia juga mendapat pekerjaan di kantor. Apa yg bisa mama simpulkan selain pikiran negatif atau..kalian menyembunyikan sesuatu dari mama"
Sehnaz dan Jalal terkejut dengan ucapan terakhir dari mamanya. Mereka hanya diam tak menjawab. Hamidah tersenyum menyeringai. Sepertinya umpan siap untuk dimakan.
"Memang benar kan kalau Jodha itu hanya wanita benalu di rumah ini"
Sehnaz tidak tahan dengan makian Hamidah. Dia berdiri dan berteriak "Cukup Ma!!!! Mama jangan terus menyalahkan kak Jodha dan Shivani. Yg salah disini adalah aku karena akulah yg menabrak Shivani hingga membuatnya koma"
Duuuaarrrrr......
Hamidah membelalakkan matanya tak percaya. Jalal juga terkejut dengan keberanian adiknya, "Apa..maksudmu..dengan.."
"Iya ma. Akulah yg bertanggung jawab dengan keadaan Shivani. Aku yg menabraknya. Karena itulah aku yg meminta kak Jalal agar mau membantu mereka. Perusahaan kak Jodha bangkrut dan dia tidak bisa membiayai pengobatan Shivani. Aku takut dipenjara ma,jadi aku meminta kak Jalal untuk menutup kasus ini" Sehnaz bercerita sambil menangis. Jalal mendekatinya lalu merangkul bahunya untuk menenangkannya.
Sedangkan Hamidah masih shock dengan pengakuan Sehnaz. Dia tidak menyangka anaknya bisa seperti ini.
"Aku ingin menebus kesalahanku pada mereka meskipun aku harus berbohong" Sehnaz menutup wajahnya yg menangis sesenggukan.
Diluar ruangan itu, tak kalah terkejutnya Jodha mendengar kebenaran yg keluar dari mulut Sehnaz. Tubuh Jodha seketika lemas hingga harus bersandar didinding belakangnya.
"Kak.. Kak Jodha" Shivani panik melihat kakaknya seperti ini. Air mata terus mengalir dipipi Jodha. Tatapannya kosong dan beberapa menit kemudian matanya menggelap, memancarkan kebencian dan kemarahan. Jodha berdiri dengan tegap dan mengusap air matanya. Lalu dengan langkah pasti Jodha masuk kedalam ruangan itu diikuti Shivani.
Brakkkk....
Pintu dibuka dengan kasar mengagetkan ketiga orang yg ada didalamnya. Jalal, Hamidah dan Sehnaz menoleh kearah pintu dan terkejut dengan kedatangan Jodha dan Shivani.
"Jadi kalian ini selama ini sudah membohongiku!" Jodha menatap Sehnaz dan Jalal dengan tajam. Matanya memancarkan kemarahan yg teramat sangat.
"Kak Jodha" Sehnaz berlari kearah Jodha lalu berlutut di depan Jodha, "Kak, tolong maafkan aku" Sehnaz memegang kaki Jodha sambil menangis tapi Jodha langsung mundur selangkah.
"Sehnaz.." Jalal yg melihat Sehnaz berlutut langsung menghampirinya dan memegang bahunya untuk berdiri, "Kamu jangan seperti Sehnaz, ayo berdiri!"
Sehnaz bergeming, dia tidak mendengarkan ucapan Jalal "Kak Jodha, tolong maafkan aku. Maaf kak" Sehnaz mengatupkan kedua tangannya di dada. Jalal memaksa Sehnaz untuk berdiri.
Namun Jodha tidak perduli dengan tangisan Sehnaz "Aku sudah menganggap kalian sebagai penyelamatku tapi ternyata kebaikan kalian hanya untuk menutupi kebusukan kalian" Jodha menunjuk Jalal dan Sehnaz dengan jari telunjuknya.
"Aku seperti orang bodoh yg mau saja menerima kebaikan kalian" Jodha tersenyum hambar, "Dari awal aku curiga dengan maksud kedatangan kalian tapi aku selalu berusaha untuk tetap berpikir positif. Ternyata penyebabnya adikku koma adalah KAU!!!" Kini Jodha menunjuk wajah Sehnaz yg ada didekapan Jalal.
Jalal yg melihat Jodha menunjuk-nunjuk adiknya merasa tidak terima "Jangan salahkan dia Jodha! Aku yg salah"
Jodha semakin tersulut amarahnya karena Jalal yg membela Sehnaz "Kau sama saja! Seharusnya sebagai kakak kamu mengajarinya rasa tanggung jawab tapi kamu malah menutupi kesalahannya. Apa itu yg disebut kakak yg baik" Jodha tertawa mengejek.
Jalal tidak terima dengan ucapan Jodha "Kau tau apa tentang aku! Kau tidak punya hak untuk mengkritik apapun yg kulakukan!" Jalal berteriak, membuat suasana semakin menegangkan. Shivani semakin takut dengan keadaan ini. Sehnaz tak henti-hentinya menangis. Dan Hamidah juga hanya bisa diam. Dia tidak tau harus bersikap apa.
"Aku memang tidak punya hak tapi aku korban kebohongan kalian. Gara2 kebohongan kalian, aku dicap sebagai gadis benalu" Jodha melirik Hamidah yg hanya menunduk, "Dan setelah tau kebenaran ini, kami tidak akan tinggal disini dan terus dianggap sebagai benalu pengganggu!! Ayo Vani" Jodha menarik tangan Shivani dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.
"Kak Jodha..." Sehnaz melepaskan pelukan Jalal dan mengikuti Jodha.
Jodha terus melangkah tanpa menghiraukan panggilan Sehnaz. Shivani sampai takut dengan sikap Jodha sekarang ini, belum pernah dia melihat kakaknya begitu marah. Sehnaz yg memgejar Jodha sampai terjatuh di undakan tangga.
"Awww"
"Sehnaz" Jalal yg ikut mengejar,panik dengan Sehnaz yg mengaduh kesakitan memegang kakinya.
"Kakimu terkilir,kakak akan membawamu kekamar untuk memijat kakimu, ayo" Jalal yg akan menggendong Sehnaz terhenti karena ucapan Sehnaz.
"Tidak kak, aku tidak mau kembali kekamar. Aku mau menghentikan kak Jodha"
"Jangan keras kepala Sehnaz!!! Kalau kakimu tidak segera diobati nanti akan bengkak!!" Jalal berteriak kesal karena kekeraskepalaan adiknya.
Sehnaz menangis dan Jalal tidak akan tahan bila melihat adiknya menangis "Jangan menangis! Sini biar kakak pijat kakimu" Akhirnya Jalal mengalah dan memijat kaki Sehnaz dengan duduk di tangga.
Jodha masuk ke kamarnya lalu menuju ke lemari "Cepat kemasi barangmu Vani! Kita pergi dari rumah ini sekarang!" Jodha mengambil tas besar lalu memasukkan baju2nya kedalam tas.
"Tapi kak, ini sudah malam. Kita mau kemana?"
"Jangan membantah Vani!! Turuti saja perintah kakak!!" Jodha berteriak hingga membuat Shivani berjengit kaget. Shivani mulai memasukkan barang2nya tanpa berkata apa2 lagi. Takut kakaknya marah lagi padanya.
Setelah Jodha dan Vani mengemasi barang, mereka menyeret tasnya keluar dan Sehnaz ada disana, berjalan terpincang2 dipapah Jalal. Sehnaz dan Jalal kaget, ternyata Jodha benar2 pergi dari rumah ini.
Sehnaz menghalangi Jodha "Kak Jodha, kumohon jangan pergi. Maafkan aku kak"
"Minggir Sehnaz. Tanggung jawabmu sudah selesai kan? Dan saatnya kami pergi dari sini" Jodha tak perdulikan tangisan Sehnaz, dia terus berjalan.
Karena mendengar keributan, Romi keluar dari kamarnya dan melihat apa yg terjadi. Dia melihat Jodha dan Shivani menyeret tas dan koper tapi dicegah oleh Jalal.
Jalal memegang lengan Jodha dan menahannya "Jangan pergi Jodha"
Jodha menatap tajam Jalal penuh kebencian lalu menghempaskan tangan Jalal yg memegang lengannya "Jangan sentuh aku!!"
"Kita bisa bicarakan masalah ini baik2 Jodha"
"Tidak ada yg perlu dibicarakan. Semua sudah jelas" Jodha kembali melangkahkan kakinya.
"Kak Jalal. Tolong cegah kak Jodha" Sehnaz merengek ke Jalal.
"Percuma mencegahnya bila hati dan pikirannya sedang panas, biarkan dia tenang dulu. Nanti kakak akan bicara dengannya" Jalal mengelus rambut Sehnaz dan melihat Romi, "Romi"
Romi menghampiri Jalal "Iya boss"
"Kamu antar Jodha ke apartemenku. Ini sudah malam dan aku tidak mau terjadi apapun pada mereka. Jaga mereka dan pastikan mereka baik2 saja"
"Baik boss" Romi berlari ke arah Jodha.
"Ayo Jodha, ikut denganku" Romi membantu membawa koper Jodha.
"Tidak usah Romi. Aku bisa sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu"
"Tidak akan ada taksi lewat sini Jodha. Kau mau naik apa? Kali ini jangan membantah. Ikuti saja permintaanku" Tanpa basa basi, Romi menyeret koper Jodha dan membawanya menuju mobil. Akhirnya Jodha menurut diikuti Shivani.
Romi meletakkan barang2 mereka di bagasi. Lalu masuk ke mobil diikuti Jodha dan Shivani. Romi selalu siap membawa kunci mobil dalam situasi apapun. Mobil mereka berangkat menembus gelapnya malam. Jalal dan Shivani melihat kepergian mereka dengan sedih. Hamidah yg melihat kepergian Jodha dari balkon lantai 2 hanya diam ikut merasakan kesedihan anak2nya.
Dalam perjalanan hanya hening diantara mereka bertiga. Romi yg memang penasaran dari awal keributan mereka dengan bossnya akhirnya mulai bicara.
"Sebenarnya apa yg terjadi Jodha? Kenapa kau terlihat marah?"
Jodha yg tadinya melihat keluar jendela, mengalihkan pandangannya pada Romi "Aku sudah tau semua yg disembunyikan bossmu"
"Apa..apa maksudmu?"
"Sehnazlah yg menabrak Shivani. Benar begitu kan Romi?" Kini Jodha menatap curiga pada Romi.
Romi menelan ludahnya susah payah. Akhirnya rahasia itu terungkap juga. Romi berusaha setenang mungkin agar tak terlihat panik, "Kamu tau darimana?"
"Aku dengar sendiri dari mulut Sehnaz. Dan kau pasti juga tau kan?"
Romi kembali diam. Sepertinya Jodha kini menganggap semua orang membohonginya.
"Kamu tidak mengakupun aku sudah tau Romi. Kamu kan pengawal setia Jalal. Tidak mungkin kalau kau tidak tau. Yg aku sesalkan, kau sudah kuanggap sebagai teman dekatku tapi kau juga berbohong padaku"
"Kau tau sendiri kan Jo kalau aku hanya bawahan tuan Jalal. Aku hanya bisa menuruti apapun yg dia perintahkan"
Jodha diam tak menjawab ucapan Romi. Dahinya mengernyit saat mobil mereka melintasi bangunan apartemen "Kita mau kemana?"
"Tuan Jalal menyuruhku untuk membawamu ke apartemennya. Kau dan Shivani akan tinggal disana"
"Aku tidak mau! Antarkan saja aku kerumah temanku"
"Tapi Jodha, nanti tuan Jalal..."
"Kalau kau tidak mau, aku akan turun disini" Jodha akan membuka pintu mobil tapi Romi menghentikannya.
"Jodha, tunggu! Baiklah aku akan mengantarmu tapi jangan berbuat nekat seperti tadi"
Jodha melepaskan tangannya dari kenop pintu. Shivani dan Romi menghembuskan nafasnya lega. Jodha benar2 nekat kalau sudah kehilangan kesabarannya.
Komentar
Posting Komentar