CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 15
(๑><๑)⁽˙³˙⁾◟(๑•́ ₃ •̀๑)◞⁽˙³˙⁾
"Saya tidak mau mempunyai hutang budi pada anda. Karena itulah saya akan mengganti semua yg sudah anda keluarkan untuk adik saya"
Braaakk...
Jalal menggebrak meja membuat Jodha menjengit kaget. Jodha benar2 telah membuat Jalal naik darah.
"Apa kaupikir aku menolong Shivani untuk meminta balasan! Aku melakukan itu karena karena tanggung jawab dan juga menebus kesalahan. Kenapa pikiranmu bisa sedangkal itu Jodha!"
Jodha yg masih Shock dengan bentakan Jalal ikut tersulut emosi "Lalu apa maksudmu dengan membeli rumahku dari pihak bank?" Jodha sudah tidak mengucapkan kata 'anda' lagi. Jodha ikut emosi. Kini giliran Jalal yg kaget.
Jodha tersenyum mengejek "Kamu kaget bagaimana aku bisa tau kan? Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Apa kau ingin mengontrol seluruh hidupku Tuan Jalaluddin!"
Jodha mengatakannya dengan tenang tapi langsung menusuk hati. Sepertinya perang diantara keduanya masih belum berakhir. Jalal menarik nafas dan berusaha mengontrol emosinya.
"Lalu apa dengan kau menyicil semua biaya perawatan Shivani, kau yakin bisa melunasinya? Bahkan meskipun kau bekerja seumur hidup pun, kau tak akan bisa melunasinya" Jalal tersenyum miring. Jalal ingin melihat bagaimana reaksi Jodha.
Seperti perkiraan Jalal, wajah Jodha memerah menandakan dia marah. Jodha tak terima dengan ucapan Jalal. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh Jalal. Tangannya mengepal lalu Jodha berdiri dari duduknya "Dengar tuan Jalal,aku tidak perduli meskipun sampai mati aku harus bekerja hingga aku bisa melunasinya. Sekarang aku tau bagaimana dirimu yg sebenarnya. Dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku tetap akan membayarnya. Permisi!"
Jodha melangkahkan kakinya menuju pintu namun langkahnya terhenti saat Jalal berkata "Aku mempunyai penawaran untukmu Jodha agar kau bisa membalas hutang budimu padaku"
Jodha berhenti namun dia tidak berbalik "Penawaran apa?"
Sekali lagi Jalal tersenyum "MENIKAHLAH DENGANKU"
Duaaaarrrrrrr....
Jodha langsung berbalik dan menatap tajam kearah Jalal. Jalal tersenyum penuh kemenangan, "Menikahlah denganku maka semua hutang budimu lunas"
"Kau..." Jodha menunjuk Jalal dengan jari telunjuknya, "Kau benar2 pria licik! Kau menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu. Dengarkan kata-kataku Jalal. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah denganmu! Never!! Karena aku membencimu JALALUDDIN ALVARO IRFANDI!"
Kalau Jodha sudah menyebut nama lengkap Jalal, itu berarti amarahnya sudah diubun-ubun. Setelah mengatakan itu, Jodha keluar dari ruangan Jalal dengan menutup pintunya kasar.
"Aku akan melakukan apapun agar kau tetap disisiku Jodha. Meskipun harus menggunakan hutang budimu sebagai alasan. Tak perduli walau kau membenciku,hal itu tidak akan menyurutkan niatku untuk bisa memilikimu. Kepergianmu membuatku gila dan sepertinya aku tidak akan bisa jauh darimu. Kau sudah mengobrak-abrik hatiku,Jodha" ucap Jalal sendu.
Jodha kembali keruangannya dengan uring2an. Moti yg bertanya sampai tidak dia pedulikan. Begitu sampai diruangannya, Jodha bersikap biasa karena ada Atghah disana.
"Apa ada masalah serius Jodha? Kok wajahmu ditekuk gitu"
"Tidak ada pak. Saya hanya sedikit capek karena pekerjaan yg menumpuk. Maaf pak"
"Ya sudah, tidak apa2 Jodha. Jangan terlalu dipaksa bila kamu capek. Saya mau keluar dulu ya, ada janji dengan klien"
"Baik pak"
Begitu Atghah keluar, Jodha menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijit keningnya. Dia tidak habis pikir dengan pernyataan Jalal yg memintanya menikah.
"Dasar Mr.Cold. Dia kira menikah itu main2. Aku benci! Aku benci kamu Jalal! " Jodha merobek-robek kertas kosong yg ada didepannya. Anggap saja kertas itu adalah Jalal
Jodha kini sudah menempati kontrakan barunya. Saat Jodha dan Shivani sedang sibuk berbenah, ada seseorang yg mengetuk pintunya. Jodha menghentikan aktifitasnya lalu membuka pintu. Betapa terkejutnya Jodha saat melihat orang yg berdiri didepannya.
"Tante"
"Boleh tante masuk Jodha?" tanya Hamidah yg ternyata bertamu dirumahnya.
"Silahkan masuk tante" Jodha mempersilahkan Hamidah masuk.
"Silahkan masuk tante. Maaf kalau rumah saya tidak sebagus rumah tante"
Hamidah terhenyak mendengar ucapan Jodha yg berupa sindiran itu. Hamidah lalu duduk dan Jodha duduk didepannya.
"Tante mau minum apa?"
"Tidak perlu repot2 Jodha, aku ingin bicara sesuatu yg penting padamu"
"Siapa yg datang kak?" Shivani tiba2 muncul dari kamarnya dan terkejut melihat Hamidah "Tante Hamidah"
"Apa kabarmu Shivani?"
"Baik tante"
"Vani, tolong buatkan minum untuk tante Hamidah"
"Iya kak" Shivani pergi ke dapur untuk membuatkan Hamidah minum.
"Jodha, tante kesini ingin minta maaf padamu. Tolong maafkan semua perbuatan dan perkataan tante padamu" Hamidah mencoba meminta maaf ke Jodha meskipun mungkin sulit untuk dimaafkan.
"Waktu tante mengatakan saya sebagai benalu, rasanya sangat sakit. Saya sudah menganggap tante seperti ibu saya saat melihat tante pertama kali. Rasanya seperti ibuku hidup kembali. Tapi pada saat tante mengatakan hal itu, saya sadar kalau tante bukanlah ibu saya. Saya tau kalau saya hanya menumpang disana. Seandainya Shivani tidak koma, saya juga tidak mau tinggal disana" Jodha meneteskan air matanya bila teringat kembali dengan orangtuanya. Sekuat apapun dirinya tapi bila berhubungan dengan orang tuanya, Jodha terlihat rapuh.
Hamidah berdiri dari duduknya lalu menghampiri Jodha dan duduk disebelahnya. Hamidah langsung memeluk Jodha, menaruh kepala Jodha didadanya, berharap bisa meringankan beban dihati Jodha. Hamidah kira Jodha akan menolaknya tetapi diluar dugaan Jodha malah balas memeluk Hamidah sambil masih menangis. Hamidah semakin merasa bersalah karena selama ini dia membuat gadis ini terluka dengan kata2nya. Shivani yg meletakkan minuman dimeja ikut terharu melihat kakaknya.
"Maafkan tante Jodha. Tante tidak bermaksud menyebutmu seperti itu. Sebenarnya tante dari awal curiga dengan perilaku Jalal dan Sehnaz yg seperti menyembunyikan sesuatu. Dan ternyata dugaan tante benar. Mereka bahkan tidak mengatakannya ke tante padahal tante adalah mama mereka"
Jodha melepaskan pelukannya. Hamidah mengusap air mata Jodha. Dan memegang wajah Jodha "Tante hanya bersandiwara pura2 marah dan tidak suka padamu. Tante hanya ingin membuktikan sendiri kalau dirimu bukan tipe perempuan matre" Jodha mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Hamidah.
"Sekali lagi maafkan tante, Jodha. Tante melakukan itu karena selama ini wanita2 yg dekat dengan Jalal adalah wanita matre yg gila harta. Mendekati Jalal untuk mengeruk hartanya. Tante hanyalah seorang ibu yg ingin kebaikan untuk anaknya"
Jodha menatap Hamidah. Mata Hamidah memancarkan kasih sayang yg besar untuk Jalal dan Sehnaz. Jodha tidak akan tahan bila marah terlalu lama pada Hamidah. Karena Hamidah sekali lagi mengingatkannya pada ibunya.
"Kamu mau kan memaafkan tante. Kalau perlu tante akan bersujud di kakimu" Hamidah langsung berlutut didepan Jodha namun Jodha menghentikannya.
"Jangan tante. Jangan seperti ini. Saya memaafkan tante. Tempat tante bukan dikaki tapi disini" Jodha menunjuk dadanya.
Hamidah terharu lalu memeluk kembali Jodha dengan meneteskan air mata "Terima kasih sayang. Tante tidak salah memilihmu. Kau memang gadis yg baik"
Hamidah yg melihat Shivani hanya terdiam, menyuruhnya mendekat dan memeluk Shivani. Mereka bertiga berpelukan "Maafkan tante, Shivani" Shivani hanya mengangguk dan ikut menangis.
Hamidah melepaskan pelukannya "Maukah kalian kembali kerumah?" tanya Hamidah.
"Maaf tante, kami tidak bisa kembali. Kami senang tinggal disini karena kami bisa mandiri" jawab Jodha.
"Tapi kalian berdua adalah gadis. Berbahaya bila kalian hanya berdua"
"Tidak apa2 tante. Kami bisa menjaga diri"
"Jodha, maukah kau menemui Sehnaz. Dia sangat merasa bersalah atas kesalahannya. Dia sekarang sakit"
Jodha kaget mendengarnya. Entah harus bagaimana sikapnya pada Sehnaz. Jodha sudah menyayangi Sehnaz seperti adiknya sendiri.
"Tolong temui dia sebentar saja Jodha. Dia bahkan tidak mau makan sebelum dia bertemu denganmu dan meminta maaf. Tante mohon Jodha" Hamidah menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Berharap Jodha bisa sedikit berbelas kasihan padanya.
Jodha menggenggam tangan Hamidah "Tante jangan memohon seperti ini. Aku akan menemui Sehnaz" Jodha tersenyum tulus.
"Terima kasih Jodha"
Hamidah masuk kekamar Sehnaz sambil membawa nampan berisi makanan. Berharap Sehnaz mau memakannya. Saat Hamidah masuk, Jalal berada disana masih membujuk Sehnaz yg mogok makan.
"Sehnaz sayang, sebaiknya kamu makan. Nanti sakitmu tambah parah"
"Aku tidak mau kak. Selama kak Jodha belum memaafkan aku. Aku tidak mau makan!" Jalal kehabisan akal membujuk Sehnaz. Padahal biasanya dia selalu berhasil.
"Sehnaz"
Sehnaz dan Jalal menoleh. Hamidah memanggilnya dan mendekati ranjang Sehnaz dan menaruh nampan di meja nakas sebelah ranjang "Kamu jangan seperti anak kecil Sehnaz. Ayo makanlah"
"Aku tidak mau ma!" Sehnaz masih marah pada Hamidah yg tidak menyukai Jodha.
"Beneran gak mau..lihatlah siapa yg menengokmu"
Sehnaz dan Jalal melihat kearah pintu. Disana ada Jodha dan Shivani berdiri diambang pintu.
"Kak Jodha" Pekik Sehnaz.
"Jodha" Jalal terkejut melihat Jodha hingga berdiri dari duduknya. Hamida menahan senyumnya melihat Jalal dan Sehnaz yg kaget seperti melihat hantu.
"Kemarilah Jodha, Shivani. Mama yg membawa mereka kesini Sehnaz. Kau senang sekarang"
Sehnaz begitu gembira melihat Jodha, saking gembiranya dia turun dari ranjang tapi langsung terjatuh karena masih lemas.
"Sehnaz" Semua orang memekik memanggil Sehnaz yg jatuh. Jalal lalu membopong tubuh Sehnaz kembali berbaring di ranjangnya. Jodha kini sudah ada ditepi ranjang, duduk disebelah Sehnaz.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu" Ucap Jodha sambil mengelus rambut Sehnaz. Sehnaz langsung memeluk Jodha dan menangis sesenggukan.
"Maafkan..aku..kak.."
Komentar
Posting Komentar