CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 14
☎
Romi mengemudikan mobilnya dengan arahan menuju kerumah Febby,temannya. Romi hanya bisa menuruti keinginan Jodha agar gadis itu tidak berbuat nekat. Romi tidak menyangka sisi lain seorang Jodha yg begitu menegangkan. Romi melihat ke Shivani yg duduk dibelakang melalui kaca spionnya. Shivani memberi kode melalui matanya agar memaafkan perbuatan kakaknya. Romi mengerti dengan menganggukkan kepalanya.
Begitu sampai didepan rumah Febby,Jodha dan Shivani turun lalu membuka garasi. Mengeluarkan koper dan tasnya dibantu Romi. Jodha mengetuk pintu rumah Febby dan Febby sendiri yg membukanya.
"Jodha.." Febby kaget dengan kedatangan Jodha malam2 begini bersama Shivani dan membawa tas besar.
"Maaf Feb, kalau malam2 begini aku datang kerumahmu. Tolong izinkan aku menginap semalam disini"
"Tentu saja Jodha. Masuklah" Febby membantu Jodha membawa barang2nya. Sebelum masuk kerumah Febby, Jodha menoleh ke Romi.
"Terima kasih bantuannya Romi. Bilang ke bossmu tidak perlu lagi membantuku. Aku tidak mau hutang budiku bertambah"
Setelah mengatakan itu, Jodha masuk kedalam. Shivani tersenyum ke Romi lalu mengikuti Jodha. Romi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sinis Jodha.
Febby mengantar Jodha dan Shivani kekamarnya. Setelah meletakkan barang bawaannya, Febby berkata "Sebaiknya kamu istirahat saja. Besok bisa kaujelaskan padaku"
"Terima kasih Feb. Maaf merepotkanmu. Oh iya, apa tante sudah tidur?"
"Iya, ibuku sudah tidur. Sudahlah jangan merasa sungkan begitu. Dulu kau sering membantuku. Sudah sewajarnya sekarang aku membalas kebaikanmu. Baiklah, selamat malam Jodha, Shivani. Semoga mimpi indah"
"Terima kasih"
Febby keluar dari kamar. Jodha menghempaskan tubuhnya di ranjang diikuti Shivani.
"Kak, apa kita akan tinggal disini terus?"
"Tidak. Kita hanya sementara tinggal disini. Besok kakak akan mencari kontrakan. Tidurlah Vani, kamu pasti capek"
"Apa kakak besok tidak kerja?"
"Entahlah Vani. Kita lihat saja besok"
Shivani kembali diam.Jodha berbaring miring membelakangi Shivani. Jodha tidak ingin adiknya melihat dia menangis. Dalam diam Jodha menangisi hidupnya. Menangis tanpa mengeluarkan suara membuat dadanya terasa sesak. Shivani bukan tidak tau kalau kakaknya menangis. Tapi dia tidak tau bagaimana menghibur kakaknya. Mungkin saat ini kakaknya masih butuh ketenangan. Malam ini mungkin Jodha tidak akan bisa tidur nyenyak.
Romi mengendarai mobilnya kembali kerumah Jalal. Hpnya berbunyi dan dilayar tertera nama Jalal. Romi mengangkatnya "Bagaimana Romi. Dia sudah di apartemen?"
"Maaf boss, nona Jodha tidak mau tinggal di apartemen. Dia minta diantar kerumah temannya"
"Rumah temannya? Laki2 atau perempuan?"
Romi tersenyum mendengar pertanyaan Jalal yg tidak mungkin bisa dilihat oleh bossnya itu "Temannya perempuan boss"
Jalal bernafas lega "Kenapa kau tidak memaksanya ke apartemenku!"
"Dia memaksa keluar dari mobil saat masih berjalan kalau saya tidak menuruti keinginnannya. Saya tidak mau ambil resiko. Nona Jodha nekat,boss"
"Apa!" Jalal hampir tak percaya bila Jodha bisa berbuat senekat itu, "Baiklah. Tapi kamu harus terus mengawasinya Romi. Jangan sampai ada orang yg menyakitinya"
"Baik boss" Romi menutup telelonnya. Sekali lagi dia tersenyum dengan kekhawatiran bossnya pada Jodha, "Kalau boss memang mencintainya, jangan pernah lepaskan dia. Jodha adalah gadis yg layak diperjuangkan" Gumam Romi.
Jalal menghembuskan nafas lega meskipun dia masih gelisah memikirkan Jodha.
Pagi hari, Jalal sedang ada meeting dengan kliennya di Bandung. Selama meeting dia tidak bisa berkonsentrasi. Hanya Jodha yg dia pikirkan. Jalal sudah berusaha menghubungi Jodha tapi hp Jodha justru tidak aktif. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Jalal pamit sebentar ke peserta meeting untuk menghubungi Atghah.
"Halo pak Atghah, apa Jodha masuk hari ini?"
"Tidak pak. Hari ini Jodha izin tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga" Jawab Atghah ditelepon.
"Ok. Terima kasih" Jalal mematikan sambungan teleponnya, "Apa dia berniat mengundurkan diri" Batin Jalal.
"Aaarrgghh.. Jodha. Kau sudah membuatku gila karena memikirkanmu"
Di tempat lain. Jodha dan Febby sedang sibuk mencari kontrakan. Pagi tadi saat sarapan Jodha menjelaskan semuanya pada Febby dan ibunya. Jodha percaya pada mereka berdua karena Febby dan ibunya sudah dia anggap seperti keluarga. Ibunya Febby sebenarnya menyuruh Jodha untuk tinggal dirumahnya tapi Jodha menolak karena tidak mau semakin merepotkan mereka.
Setelah seharian berkeliling akhirnya Jodha mendapat kontrakan rumah yg dekat dengan kantornya, lebih tepatnya kantor milik Jalal. Untuk melepas penat, Jodha dan Febby makan disebuah cafe.
"Apa kamu akan tetap bekerja disana Jo?"
"Ya. Aku tetap bekerja disana. Meskipun aku benci mereka tapi aku tidak bisa lari dari tanggung jawab pekerjaanku. Aku masih hutang budi pada mereka karena itulah aku terikat Feb"
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Jo. Kau bilang membenci mereka tapi tetap bekerja dikantor Jalal. Kau kan bisa bekerja ditempat lain. Ditempatku misalnya"
"Mencari pekerjaan lagi tidaklah gampang Feb. Lagipula aku ingin segera membayar semua hutang perawatan adikku pada Jalal. Aku tidak mau selamanya berhutang budi pada mereka. Dalam waktu dekat ada proyek di divisi yg bernilai besar. Dengan itu aku bisa mulai mencicil hutangku pada Jalal. Meskipun aku tidak tau sampai kapan" Jodha menunduk sambil hanya mengaduk-aduk makanannya. Dia tak terlihat nafsu dengan makanan yg ada didepannya.
"Itu berarti kau akan selalu bertemu dengannya bukan?"
Jodha mendongak "Ya.Tapi sebisa mungkin aku menghindarinya"
"Ehm.. Jodha. Sebenarnya ada sesuatu yg ingin kusampaikan padamu dari dulu. Hanya saja aku tak berani mengatakannya. Mungkin sekaranglah waktunya"
Jodha mengernyitkan dahinya "Mengatakan apa?"
Febby terlihat ragu2 tapi melihat Jodha yg begitu penasaran, akhirnya Febby membuka suara "Eemm.. Sebenarnya yg membeli rumahmu dari bank adalah...Jalal"
"Apa!!!" Jodha kaget hingga melepaskan sendok yg dipegangnya, "Darimana kamu tau?"
"Waktu aku dulu yg mengurus surat kepemilikan rumahmu, aku melihat Jalal dengan pengawalnya yg kemarin mengantarmu dan juga seorang pengacara mendatangi pihak bank. Sebelumnya aku tidak tau kalau Jalal yg akan membeli rumahmu. Aku mempunyai kenalan orang dalam yg bilang bahwa Jalal membeli rumahmu bahkan melebihi harga yg seharusnya"
Jodha mengepalkan tangannya "Jadi dia berusaha untuk menguasai seluruh hidupku" Gumam Jodha. Febby merasa tidak enak harus mengatakan hal ini ke Jodha. Tapi lebih baik Febby mengatakannya daripada Jodha mendengarnya dari orang lain.
Jodha sudah mulai bekerja kembali setelah 2 hari izin kerja. Jodha sengaja datang agak pagi untuk menyelesaikan pekerjaannya yg kemarin tertunda. Jodha begitu sibuk dengan laporannya hingga Atghah memanggilnya setelah dari ruangan Jalal.
"Jodha, kamu dipanggil pak Jalal keruangannya. Penting katanya"
Jodha mengalihkan perhatiannya dari laptop ke Atghah "Baik Pak"
Mau tidak mau Jodha pasti bertemu dengan Jalal, meskipun mereka tidak tinggal serumah lagi tapi satu kantor, tetap saja akan bertemu dengan Jalal walaupun jarang. Jodha berdiri dan meninggalkan ruangannya menuju ruangan Jalal yg berada di lantai 5. Di dalam lift Jodha menghembuskan nafasnya berkali-kali. Mencoba menahan amarah yg bisa kapanpun meledak bila didekat Jalal. Begitu sampai didepan ruangan Jalal,Jodha disambut oleh Moti.
"Hai Jodha. Bagaimana kabarmu? Kamu 2 hari tidak masuk. Apa ada masalah?"
"Tidak Moti. Hanya ada urusan keluarga"
"Ooh.. Kamu sudah ditunggu pak Jalal tuh"
"Terima kasih Moti" Jodha tersenyum ke Moti lalu mengetuk pintu ruangan bertuliskan 'Direktur utama'
"Masuk" Sambut suara maskulin didalam ruangan.
Jodha menghembuskan nafasnya sekali lagi lalu masuk kedalam dan menutup pintunya. Jodha melihat Jalal berdiri membelakanginya di dinding kaca besar dimana kita bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari atas.
"Duduklah Jodha" Jalal berbalik menghadap Jodha dan betapa terkejutnya Jodha melihat penampilan Jalal saat ini.
Ada kantung hitam terdapat dibawah matanya, menandakan bahwa dia kurang tidur dan juga sedikit bulu2 halus disekitar dagunya. Dalam 2 hari Jodha melihat perubahan yg sedikit drastis dari seorang Jalaluddin, si Mr.Cold. Saat Jalal memandang Jodha, ada kerinduan di mata itu. Hingga mereka saling menatap sedikit lama. Entah mengapa Jodha merasa ada rasa rindu pada pria yg dia benci ini. Jodha bahkan tanpa sadar masih berdiri terpaku disana.
"Ehm.. Silahkan duduk Jodha"
Deheman Jalal menyadarkan keterpakuannya dan Jodha mulai memasang wajah datar lalu duduk di kursi meja depan Jalal. Jalal ikut duduk di kursi kebesarannya.
"Kenapa kamu tidak masuk kerja selama 2 hari?"
"Saya ada urusan keluarga pak"
"Apakah urusan keluargamu itu sangat penting hingga menonaktifkan hpmu"
"Itu urusan saya pak, mau saya aktifkan atau tidak"
Jalal menghembuskan nafasnya berat. Sepertinya dia harus ekstra sabar menghadapi Jodha. Padahal ini bukan typikal seorang Jalal.
"Aku minta maaf atas kebohonganku padamu. Aku melakukan itu untuk melindungimu adikku. Kau punya adik Jodha. Kau juga pasti merasakan hal sama"
"Saya paling tidak suka dibohongi. Dan sepertinya sulit untuk memaafkan anda. Kalau dari awal kalian jujur pada saya mungkin saya masih bisa memaafkan kalian"
"Apa kau akan keluar dari sini?"
"Tidak. Saya masih punya tanggung jawab disini jadi saya tetap bekerja"
Jalal merasa lega dengan ucapan Jodha, setidaknya Jodha masih bekerja disini, "Sehnaz terus menanyakanmu" Jodha hanya diam.
"Dia ingin kau kembali ke.."
"Saya tidak akan kembali kerumah itu" Jodha memotong ucapan Jalal, "Dan mengenai biaya perawatan Shivani, saya akan berusaha menyicilnya tiap bulan"
Jalal kaget dengan ucapan Jodha "Apa maksudmu Jodha!"
Ucapan Jodha seketika membuat Jalal merasakan amarahnya mulai muncul. Suasana yg awalnya tenang menjadi tegang.
Komentar
Posting Komentar