CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 16
●︿●,Ծ︿Ծ,(๑ó﹏ò๑),Ծ︿Ծ,
"Kak Jodha,maafkan aku..hikss" Sehnaz menangis sesenggukan di pelukan Jodha.
"Sstt..jangan menangis Sehnaz. Kakak sudah memaafkanmu"
Sehnaz mendongak dan memgusap air matanya "Benarkah kak?"
"Iya. Sekarang kamu makan ya" Jodha mengambil bubur yg ada di meja makan lalu mulai menyuapkannya ke Sehnaz.
"Kamu manja banget sama Jodha. Giliran mama dan kakakmu yg menyuruh makan, kamu gak mau" Hamidah menyindir Sehnaz tapi dia juga bahagia melihat keakraban Jodha dan Sehnaz. Sehnaz hanya nyengir pada mamanya.
Jalal yg melihat mereka berdua ikut terharu. Dia tidak menyangka kalau Sehnaz begitu menyayangi Jodha. Kalau seandainya Jalal yg sakit, apa mungkin Jodha akan begitu perduli padanya, "Huh..kenapa aku jadi mikir gitu sih" Batin Jalal.
"Shivani.. Duduk sini" Sehnaz menyuruh Shivani duduk didekatnya. Shivani mendekat "Maafkan aku ya Van. Karena aku kamu koma"
Shivani memegang tangan Sehnaz "Iya, aku memaafkanmu. Justru aku berterima kasih padamu karena sudah banyak membantuku" Mereka berdua sama2 tersenyum.
"Ya sudah. Mama dan Jalal keluar dulu ya. Sehnaz habiskan makanannya"
"Iya ma"
Hamidah mengajak Jalal keluar. Jalal sempat melirik kearah Jodha tapi Jodha sama sekali tak melihat kearah Jalal. Seolah-olah pria itu tidak ada disana. Jalal menghembuskan nafasnya berat. Jodha masih marah padanya.
Tak terasa Sehnaz menghabiskan buburnya. Jodha senang karena Sehnaz mau makan "Kak Jodha, tolong maafin kak Jalal juga ya. Dia tidak bersalah kak. Aku yg menyuruhnya menyembunyikan kebenaran. Please kak"
"Aku memang sudah memaafkannya tentang kebohongan itu, tapi tentang sikapnya padaku terlebih tentang ciuman itu. Aku belum bisa memaafkannya" batin Jodha.
"Kak, kenapa diam?"
"Eh..ehm... I.. Iya aku sudah memaafkannya"
"Terima kasih kak. Kakak memang wanita yg baik dan mulai. Seandainya kak Jodha jadi kakak iparku. Aku pasti lebih bahagia"
Jodha membelalakkan matanya dengan ucapan terakhir dari Sehnaz sedangkan Shivani menahan senyumnya.
"Kau ini bicara apa. Ayo sekarang minum obat dulu" Jodha mengalihkan pembicaraan. Sehnaz minum obat dibantu Jodha.
"Kak Jodha tidur disini ya malam ini"
"Maaf Sehnaz, aku gak bisa. Besok kakak kan kerja" Sehnaz cemberut.
"Tapi kakak sering2 main kesini ya"
"Iya. Kakak janji akan sering main kesini"
"Yes. Makasih kak"
Jodha dan Shivani keluar dari kamar Sehnaz yg ditunggu oleh Hamidah dan Jalal di ruang tamu.
"Tante" Hamidah dan Jalal menoleh.
"Eh.. Jodha. Sudah selesai"
"Iya tante. Kami berdua mau pamit pulang"
"Loh.. Kenapa pulang malam2 begini. Apa tidak menginap saja disini. Biar besok Romi yg mengantar"
"Maaf tante, saya besok banyak pekerjaan dan mengharuskan saya berangkat pagi2"
"Oh ya sudah. Biar Jalal yg mengantar kalian"
"Eh..tidak perlu tante. Kami bisa naik taksi"
"Ini sudah malam Jodha! Tidak baik kalian berdua pulang sendiri. Biar aku mengantar kalian" Jalal mengambil kunci mobil lalu keluar.
"Dasar tuan pemaksa" batin Jodha.
Hamidah tersenyum melihat wajah Jodha yg kesal "Jangan diambil hati ucapan Jalal ya. Dia memang begitu, dari luar terlihat kaku tapi sebenarnya dia pria yg baik"
Jodha tersenyum tipis "Tante, kami pulang dulu" Jodha dan Shivani berpamitan.
"Iya. Hati-hati ya"
Jodha dan Shivani sudah berada di mobil. Mereka berdua langsung duduk di kursi dibelakang, membuat Jalal geram "Apa kalian pikir aku sopir hingga kalian duduk di belakang!"
"Kamu sendiri kan yg memaksa untuk mengantar. Kenapa jadi marah2"
Shivani yg melihat Jodha dan Jalal meributkan hal yg gak penting, akhirnya angkat bicara "Kak Jodha duduk didepan saja dengan kak Jalal" Jalal tersenyum.
"Kenapa aku harus aku! Kamu saja"
Jalal langsung manyun mendengar ucapan Jodha "Kamu duduk di depan Jodha, atau kita tidak akan berangkat karena hal ini"
Jodha mencebik "Dasar tuan pemaksa!" Akhirnya Jodha keluar lalu duduk didepan samping Jalal. Jalal tersenyum penuh kemenangan.
"Ternyata kamu memang harus dipaksa dulu" batin Jalal.
Dalam perjalanan hanya hening. Jodha lebih memilih melihat pemandangan diluar jendela. Sedangkan Shivani sibuk BBM-an dengan Romi. Jalal jengah juga dengan keadaan yg sepi kayak kuburan ini.
Akhirnya dia mulai bersuara "Jodha, kamu kenapa jutek padaku? Aku kan sudah minta maaf. Sikapmu pada Sehnaz dan mama begitu ramah tapi kenapa denganku berbeda"
Jodha menoleh "Karena kamu itu tuan pemaksa jadinya malas bersikap baik sama kamu"
"Aku maksa kamu kan juga demi kebaikanmu. Gak adil kalau sikapmu berbeda padaku"
"Kebaikan dari hongkong!" Jodha mencibir.
"Ckck..kamu itu diajak bicara malah sinis gitu. Jangan2 kamu tiap hari makan cabe ya? Kalau ngomong selalu pedas"
Shivani yg mendengar ucapan Jalal tertawa dan Jalal ikut tertawa. Jodha malah semakin cemberut karena Shivani menertawakannya "Kamu ngapain ketawa Vani? Senang ya kakak kamu dihina"
"Ya ampun kak. Kak Jalal itu cuma bercanda. Kenapa diambil hati sih" Shivani hanya geleng2 kepala dengan tingkah kakaknya, "Kak Jalal yg sabar ya memghadapi kakakku" Shivani menepuk pundak Jalal untuk memberinya semangat.
"Vanii!"
Shivani terkekeh, Jalal tersenyum melihat wajah Jodha yg marah. Rasanya menyenangkan bisa membuatnya marah. Entah kenapa sikapnya bisa berubah hangat bila bersama Jodha.
"Kalian berdua menyebalkan! Seharusnya kalian jadi adik kakak saja"
"Waah.. Aku senang sekali kalau jadi adiknya kak Jalal. Benar kan kak"
"Ya. Kamu benar Shivani. Aku akan senang bila punya adik satu lagi"
Jodha benar2 kesal pada Shivani karena lebih membela Jalal dan semakin benci dengan Jalal karena selalu mengganggunya.
Tak terasa mobil Jalal sudah sampai didepan kontrakan Jodha. Shivani dan Jodha turun setelah mengucapkan terima kasih.
"Sampai jumpa di kantor miss jutek"
Jodha membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Jalal dan Jalal malah tersenyum melihat wajah cemberut Jodha. Sepertinya dia punya kesenangan baru menggoda Jodha. Jodha langsung berjalan menuju kontrakannya. Shivani melambaikan tangan ke Jalal. Jalal kembali pulang dengan perasaan bahagia.
"Kakak kenapa sih jutek terus ke kak Jalal. Dia kan sudah banyak membantu kita?" Kini mereka berdua sudah ada didalam kamar.
"Giman gak jutek! Dia itu pria yg menyebalkan tau"
"Hati-hati loh kak. Jangan terlalu benci sama seseorang. Nanti jadi cinta loh"
"Idiih...aku jatuh cinta sama Jalal yg dingin dan kaku gitu" Jodha menunjuk dirinya sendiri, "No way"
"Kenapa enggak? Kak Jalal itu udah orangnya ganteng, kaya, baik lagi. Dia gak dingin dan kaku kok. Siapa coba wanita yg bisa menolaknya"
"Jangan lihat luarnya saja. Dalamnya kan kamu gak tau dia seperti apa" Jodha ingat kembali saat Jalal menciumnya lalu disuruh melupakannya dan tentang penawaran 'Menikah' oleh Jalal.
"Hah! Jadi kak Jodha tau bagaimana kak Jalal luar dan dalam?"
"Kamu tuh ngomong apa sih. Tambah ngaco. Udah tidur aja. Besok kakak harus bangun pagi" Jodha merebahkan tubuhnya di ranjang dan diikuti Shivani. Tak lama mereka terbuai ke alam mimpi.
Hari demi hari tiada hari tanpa Jalal menggoda Jodha. Apalagi kalau Jodha sedang berkunjung kerumah Hamidah. Sehnaz dan Hamida sampai heran dengan perubahan Jalal. Kini Jalal lebih banyak tersenyum. Seperti saat ini, mereka berlima sedang makan malam bersama. Jalal tak pernah absen menggoda Jodha. Hingga Hamidah tiba2 mengatakan sesuatu yg membuat Jodha kaget.
"Jodha, kamu mau jadi istri Jalal?"
"Uhuk...uhuk" Jodha yg tadinya sedang mengunyah makanan langsung tersedak. Shivani menyodorkan air putih ke Jodha. Shivani dan Sehnaz ikut kaget mendengar ucapan Hamidah.
"Maaf kalau membuatmu kaget. Tapi tante merasa sekaranglah saatnya tante mengeluarkan kegelisahan tante selama ini" wajah Hamidah berubah sedih.
"Mama" Panggil Jalal.
"Mama sudah tua Jalal. Mama ingin segera melihat kamu menikah sebelum mama meninggalkan kalian. Dan begitu melihat Jodha, mama yakin sekali kalau dia adalah jodohmu Jalal"
Jodha hanya diam. Dia bingung harus berkata apa. Dia tidak menyangka kalau Hamidah akan berkata seperti itu. Melihat Jodha hanya diam, Hamidah tersenyum sendu "Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang Jodha. Tante tau kalau kata2 tante ini terlalu mendadak. Tapi tidak bagi tante yg sudah mengenalmu"
"Maaf tante, Jodha tidak bermaksud menyinggung tante tapi Jodha harus memikirkannya karena ini menyangkut masa depan Jodha" Jodha merasa tak enak dengan Hamidah yg sudah baik padanya.
"Tante mengerti Jodha. Tapi tante berharap agar kamu mau menerima permintaan tante. Jangan karena masalah ini, sikapmu berubah pada kami ya"
"Iya tante" Dan suasana menjadi hening.
•••
Di kantor Jodha sedang melamun sambil memainkan pulpen ditangannya. Saat ini pekerjaannya tidak begitu banyak hingga bisa sedikit santai. Jodha teringat kata2 Hamidah. Sungguh dia dilema, di satu sisi dia tidak tega melihat kesedihan Hamidah yg sudah dia anggap seperti ibunya sendiri tapi disisi lain dia takut dikecewakan oleh Jalal lagi. Dia tidak mau lagi jatuh di lubang yg sama. Sejak kejadian ciuman dan kebohongannya tentang kecelakaan Shivani membuatnya tak lagi mempercayai Jalal. Bunyi interkom menyadarkannya dari lamunan. Hpnya tiba2 berdering dan di layar hp ada nama Sehnaz.
"Kak Jodha, mama..masuk rumah sakit"
Jodha langsung menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi "Kenapa tante bisa masuk rumah sakit?" Jodha panik.
"Mama terjatuh dari tangga kak. Apa kak Jodha bisa kemari. Kak Jalal belum datang karena dia masih diluar kota" Suara Sehnaz serak akibat menangis.
"Iya, aku akan kesana sekarang. Kamu tenang ya"
Jodha mematikan teleponnya dan menhubungi Shivani untuk segera kerumah sakit.
Jodha berjalan dengan tergesa ke kamar Hamidah yg sebelumnya ditunjukkan oleh perawat jaga di rumah sakit. Jodha masuk kekamar dan melihat Sehnaz duduk disamping ranjang Hamidah terbaring.
"Sehnaz"
Sehnaz menoleh dan Jodha sudah berada disebelahnya "Kak Jodha" Sehnaz langsung memeluk Jodha sambil menangis. Jodha mencoba menenangkan Sehnaz.
Komentar
Posting Komentar