CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 18
♡+:。.。❣LロVЁ❣。.。:+♡(ಡωಡ)(˘•ω•˘)
Jodha saat ini berada di rumah Jalal. Dia sedang membantu Hamidah untuk mempersiapkan pesta pernikahannya.
"Siapa saja keluargamu yg akan kamu undang Jo?"
"Tidak banyak ma. Keluarga dari ayahku menyebar Ma. Ada yg di Surabaya, banjarmasin, pontianak dan Bali. Sedangkan ibuku anak tunggal, tidak ada keluarganya yg berada disini"
"Wah.. Jauh2 semua ya keluarga dari ayahmu. Oh iya Jodha,ini coba kamu pilih dekorasi mana yg bagus menurut seleramu" Hamidah menunjukkan brosur beberapa dekorasi pernikahan.
"Kalau aku terserah mama saja"
"Jangan begitu sayang. Kamu kan yg menikah. Biar mama tau seleramu bagaimana" Akhirnya jodha melihat-lihat brosur yg ditunjukkan Hamidah.
"Jodha, mama harap kamu bisa bersabar menghadapi Jalal ya. Dari luar dia memanh terlihat dingin dan kaku tapi sebenarnya hatinya lembut" Jodha tersenyum tipis mendengar ucapan Hamidah, "Sejak papanya meninggal, Jalal menjadi pribadi yg berbeda. Dulu dia laki-laki yg periang dan humoris. Karena perubahan itulah yg membuat mama begitu merindukan Jalal yg dulu. Jalal yg selalu bisa membuat semua orang tertawa dengan candaannya"
Jodha tak menyangka jika Jalal seperti apa yg dikatakan oleh Hamidah. Yg Jodha tau, Jalal itu menyebalkan dan selalu membuat darahnya naik. Apalagi kalau berbicara padanya terkadang pedas dan kasar. Sepertinya berbeda sekali dengan gambaran yg Hamidah jabarkan.
"Tapi sekarang mama senang. Sejak ada kamu di dekatnya, perlahan-lahan sifatnya yg dulu kembali lagi. Kadang kata-katanya tidak sesuai dengan hatinya. Kamu memang telah ditakdirkan bersama Jalal. Hanya kamu yg bisa mengubahnya"
"Aku bukan seperti itu ma. Mama terlalu melebih-lebihkan"
"Janji ya sama mama, kamu akan selalu mendampingi dia saat suka maupun duka. Mungkin diawal kalian belum saling mencintai. Tapi cinta itu bisa tumbuh setelah kalian bersama. Dan kalian bisa membangun cinta itu diatas pernikahan. Mama akan selalu mendoakan yg terbaik buat kalian" Hamidah menggenggam tangan Jodha. Jodha tersenyum sambil membalas genggaman tangan Hamidah. Dia tidak tau harus menjawab. Dia takut kalau dia berjanji, dia tidak bisa menepatinya. Biar waktu yg akan menjawabnya.
Jalal mengadakan meeting dengan seluruh karyawan. Dia membahas tentang ultah perusahaan yg akan berlangsung satu bulan lagi. Jalal menjelaskan satu persatu tugas dari panitia pesta. Para karyawan menyimak dengan seksama penjelasan Jalal. Jalal adalah seorang pria yg perfeksionis. Dia tidak ingin ada satu pun kesalahan dalam pesta ultah perusahaan tahun ini.
"Kali ini pestanya saya adakan outdoor. Karena sudah setiap tahunnya selalu indoor jadi saya ingin memberikan kesan yg berbeda. Untuk itu saya menunjuk pak Atghah untuk mensurvey dan mencari tempat yg cocok untuk acara ini"
"Baik pak" Jawab Atghah.
"Dan untuk dekorasi serta catering saya akan serahkan pada ibu Naina selaku divisi perencanaan. Dan untuk bagian keuangan akan saya serahkan pada ibu Tika selaku divisi keuangan" Dua wanita paruh baya yg disebut tadi langsung mengangguk.
"Tahun ini perusahaan kita mendapatkan keuntungan yg cukup signifikan karena ada beberapa karyawan baru yg mulai bisa membuat perusahaan berkembang dengan pesat" Jalal melirik kearah Jodha namu Jodha cuek tak menghiraukan lirikan Jalal, "Untuk itulah doorprize yg tiap tahun hanya berjumlah sedikit, tahun ini akan saya tambah dengan hadiah utama 2 unit motor"
Semua orang yg berada disana langsung serempak bertepuk tangan gembira karena tahun ini hadiah untuk doorprize ada kemajuan.
"Saya sangat menghargai kerja keras kalian dalam memajukan perusahaan ini. Saya sudah menganggap kalian sebagai keluarga besar. Mungkin nilai hadiah yg saya berikan tidak begitu besar tapi dalam hadiah itu ada kebanggan tersendiri bagi saya memiliki kalian sebagai keluarga karena tanpa kalian, perusahaan ini tidak ada artinya"
Beberapa karyawan wanita terharu dengan ucapan Jalal. Tak terkecuali Jodha. Dalam hatinya dia mengagumi Jalal sebagai sosok pemimpin yg tegas dan mengayomi bawahannya. Menganggap karyawannya sebagai keluarga sendiri. Tak pernah membedakan apakah karyawan itu seorang staff ataupun office boy sekalipun.
"Dia berbeda sekali kalau sudah bersamaku. Menyebalkan dan suka PHP. Huufftt..." Suara batin Jodha berbicara disela-sela kekagumannya.
"Untuk lebih jelasnya tentang jobdesk para panitia pesta, silahkan kalian bertanya langsung pada sekretaris saya, Moti. Dia yg akan memberikan gambarannya"
Meeting yg berlangsung kurang lebih 2,5 jam itu berjalan lancar. Waktu makan siang, meeting pun dibubarkan. Semua karyawan membereskan barang2nya lalu keluar satu persatu dari ruangan meeting. Jodha yg akan keluar tiba2 dipanggil oleh Jalal "Jodha, tunggu.. Aku ingin bicara denganmu" Jodha kaget dan berhentu berjalan saat Jalal memanggilnya. Dia sedang berjalan bersama Rahma, rekan se-Divisinya.
"Aku duluan ya Jo" Rahma yg mengerti langsung berpamitan pada Jodha lalu mengangguk ramah pada Jalal. Setelah semua orang meninggalkan ruangan dan hanya mereka berdua, Jalal mendekati Jodha.
"Aku ingin bicara denganmu. Ikut aku makan siang diluar"
"Tapi pak, saya sudah janji makan suang bersama..."
Belum Jodha menuntaskan ucapannya, Jalal memotongnya "Batalkan!! Pembicaraanku lebih penting daripada janjimu dengan yg lain" Tanpa memperdulikan jawaban Jodha, Jalal berlalu meninggalkannya.
"Huh! Dasar tuan pemaksa! Menyebalkan!" Jodha menghentakkan kakinya karena kesal lalu ikut keluar dari ruangan meeting menuju ruangannya.
Begitu sampai diruangan, Jodha membanting bukunya ke meja dengan kasar lalu menghempaskan pantatnya ke kursi. Rahma yg ada disana sampai kaget. Untung hanya mereka berdua diruangan itu. Kalau ada Atghah mungkin Jodha akan malu.
"Kamu kenapa Jo? Begitu keluar dari ruangan meeting kok ngambek gitu. Apa ada masalah dengan pak Jalal"
Jodha menghembuskan nafasnya "Rahma, aku minta maaf ya karena aku hari ini tidak bisa makan siang denganmu membahas tentang rancangan kita untuk pesta nanti"
"Kenapa Jo?"
"Gara2 si boss menyebalkan itu mengajakku makan siang, pake acara maksa lagi"
"Hahaha.. Kau ini. Sepertinya kamu benci banget sama Jalal. Awas loh Jo jangan terlalu membenci seseorang. Nanti berubah jadi cinta" Rahma menertawakan Jodha yg terlihat lucu dengan memanyunkan bibirnya.
"Idiihh.. Amit2 deh kalau aku sampai jatuh cinta dengannya" Jodha mengepalkan tangannya sambil meniupnya lalu dipukulkan ke jidatnya. Rahma semakin tertawa terbahak.
"Ya sudah tidak apa2 kalau kita tidak bisa makan siang. Besok kan masih bisa. Oh iya, memangnya pak Jalal ada perlu apa sama kamu?" Rahma memicingkan matanya curiga.
Jodha yg ditatap seperti itu oleh Rahma jadi salah tingkah "Eh.. Itu.. Aku gak tau juga dia mau ngomongin apa" Jodha terbata-bata menjawabnya.
Seluruh karyawan memang belum ada yg tau kalau Jalal dan Jodha akan menikah. Jodha yg menginginkan untuk merahasiakannya meskipun Jalal menolaknya. Jodha hanya tidak ingin para karyawan wanita akan membullynya bila mereka tau kalau bos tampan idaman mereka akan menikah dengan karyawannya sendiri. Jodha tidak ingin dianggap wanita matre yg sengaja menggoda bosnya hingga mau menikahinya. Biar mereka tau sendiri bila Jodha dan Jalal sudah sah menikah.
"Hei Jodha, malah melamun" Rahma menepuk bahu Jodha karena Jodha sedang sibuk dengan lamunannya.
"Eh.. Ya Rahma. Ada apa?"
"Tuh.. Si boss sudah nunggu kamu di depan. Dipanggil dari tadi juga"
"Hah... Benarkah?"
"Ya ampun Jo. Udah buruan sana. Nanti boss keburu marah loh.." Rahma menggelengkan kepalanya karena ke-lelet-an Jodha.
Jodha langsung berdiri dan merapikan penampilannya. Mengambil tasnya lalu berpamitan pada Rahma "Aku duluan ya Ma"
"Ok. Good luck ya" Rahma mengacungkan jempolnya dan dibalas kekehan oleh Jodha.
"Lama banget sih. Kamu ngapain aja? Aku kan sudah bilang kalau mengajakmu makan siang" Jalal ngomel2 di dalam mobil karena Jodha tadi tidak menyahut panggilannya.
"Aku tadi sedang beres2 sambil bicara dengan Rahma. Jadi lupa waktu deh" Jodha bicara seakan merasa tidak bersalah.
"Iisshh.. Dasar cewek kalau sudah bergosip sampai lupa waktu"
"Sirik ya"
"Siapa yg sirik! Lagian ngomongin apa sih. Ngomongin aku ya" Jalal menaikturunkan alisnya mulai menggoda Jodha.
"Hiiiiii... GR amat sih jadi orang" Jodha pura2 mencebik padahal apa yg dikatakan Jalal memang benar kalau dia dan Rahma sedang membicarakan Jalal. Jalal malah tertawa melihat Jodha yg manyun.
"Nih orang bunglon kali ya. Tadi marah2, sekarang tertawa gak jelas" Jodha heran dengan tingkah laku Jalal yg berubah-ubah.
Jalal menghentikan mobilnya di depan restoran bergaya timur tengah. Setelah mematikan mesin mobilnya, Jalal melepas sealbeltnya. Jodha menengok kekanan dan kekiri. Jalal mengernyitkan dahinya melihat tingkah Jodha.
"Ayo turun! Ngapain bengong"
"Kita mau makan siang disini?"
"Enggak. Kita mau mancing disini! Ya jelas makan siang Jo!"
"Ck.. Ngapain sih makan siang jauh2 kesini. Kan dikantor ada cafetaria" Jodha mulai melepas sealbeltnya.
"Ini adalah restoran langgananku dan aku ingin bicara pribadi denganmu. Bukankah kau yg minta agar hubungan kita tidak diketahui semua karyawan" Jalal mulai kesal. Kadang2 Jodha bisa membuatnya darahnya tiba2 naik.
"Hm.. Baiklah. Tidak usah marah gitu" Jodha membuka pintu dan langsung keluar dari mobil.
"Tahan Jalal... Jaga emosimu. Untuk saat ini aku mengalah. Tapi nanti setelah menikah. Aku akan buat perhitungan denganmu Jo" Jalal memantrai dirinya agar sabar menghadapi Jodha. Bukan tipe Jalal sama sekali bisa mengalah seperti ini. Biasanya dia yg akan memaksakan kehendaknya pada orang lain. Dan ini semua karena satu orang wanita jutek yg akan menjadi istrinya.. JODHA.
Mereka berdua masuk kedalam restoran. Para pelayan memakai seragam kerja khas ala timur tengah. Pelayan disana menyambut Jalal dengan ramah karena Jalal adalah pelanggan setia restoran ini.
Komentar
Posting Komentar