Langsung ke konten utama

CINTA? ATAU BALAS BUDI? (PART 5)

# CINTA? ATAU BALAS BUDI? #

Part 5

---------©©©©©©©-----------
"Kejujuran memang menyakitkan, tetapi tidak mematikan. Kebohongan memang menyenangkan, tetapi tidak menyembuhkan."

������
Jodha merasa ada yg aneh dengan mereka berdua. Kenapa Jalal dan Sehnaz begitu peduli pada Shivani.
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir Jodha. Coba lihatlah adikmu,apa kau tidak merasa kasihan padanya?" ucap Jalal dengan datar. Dia berusaha menormalkan suaranya yg sedikit gugup. Entah mengapa dia jadi salah tingkah didepan Jodha. Padahal selama ini dia tidak pernah gugup didepan seorang wanita. Justru biasanya para wanitalah yg salah tingkah bila didepannya.
Jodha melihat kearah Shivani. Tentu saja dia merasa iba dengan keadaan adiknya. Bila karena bukan keadaan yg memaksanya,dia tidak akan mau menerima pertolongan dari mereka berdua.

"Baiklah,aku ijinkan kalian merawat adikku"

Sehnaz tersenyum lega dan Jalal menghembuskan nafasnya. Dia merasa semakin bersalah karena harus membohongi Jodha. Tapi ini semua demi Sehnaz.

"Agar kami bisa terus memantaunya dan memberikan perawatan yg maksimal,Shivani akan kami bawa kerumah kami" ucap Jalal,Sehnaz mengangguk.

"Apa! Dibawa kerumah kalian?" Jodha terkejut dengan ucapan Jalal.

"Iya Jodha. Lebih baik kau dan Shivani tinggal dirumah kami. Disamping rumah kami ada paviliun yg biasanya untuk tamu menginap. Dan paviliun itu bisa kalian tempati mulai sekarang dan jangan memikirkan soal biaya. Aku yg bertanggung jawab pada kalian sepenuhnya"

Jodha bingung. Apa ini memang kebetulan atau apa,disaat dia bingung mencari tempat tinggal justru Jalal menawarinya tempat tinggal dengan cuma2. Apa dia harus mengatakan yg sesungguhnya tentang keadaannya.

Jalal tau tentang kegelisahan Jodha. Dia sudah tau segalanya tentang Jodha. Tentang perusahaannya yg bangkrut,tentang rumahnya yg disita. Jalal ingin menebus kesalahan Sehnaz dengan membantu Jodha dan Shivani meskipun harus menyembunyikan kebenaran.

"Bagaimana kak Jodha? Kak Jodha mau kan?" Sehnaz menggoyang lengan Jodha seperti seorang adik yg merajuk pada kakaknya.

"Eh...itu" Jodha bingung menjawabnya.

"Tinggal bilang iya saja kak. Ya...mau ya?" Sehnaz mendesak Jodha.

"Ehm..baiklah. Aku akan tinggal dirumah kalian"

"Terima kasih kak" Sehnaz memeluk Jodha. Matanya berkaca-kaca karena dia merasa jahat sudah membohongi Jodha.

"Maafin aku kak Jodha harus berbohong padamu. Aku takut bila kau tau bahwa aku yg menabrak Shivani,kau akan marah dan menjebloskanku ke penjara. Maaf...maaf" gumam Sehnaz dalam hati.

Jalal berdiri "kalau begitu aku akan mengurus semuanya. Aku akan bertanya pada dokter kapan Shivani boleh dipindah ke rumah. Aku permisi" Jalal lalu keluar dari ruangan Shivani. Jodha hanya diam.

"Kak Jodha tolong jangan tersinggung dengan ucapan kak Jalal ya. Dari luar dia memang terlihat kaku dan dingin tapi sebenarnya hatinya baik" ucap Sehnaz pada Jodha.

Jodha tersenyum sambil berkata dalam hati "Mr.Cold"

Jalal yg ada luar ruangan langsung menelepon Romi "Romi,cepat kau urus kepindahan Shivani dan suruh Bi Maham untuk membersihkan paviliun. Oh ya,apakah kau sudah menyelesaikan urusan rumah itu"

"Sudah bos. Saya sudah menyelesaikannya dan anda sekarang pemilik sah rumah itu. Dan sekarang saya akan urus tentang kepindahan nona Shivani" jawab Romi diseberang telepon.

"Bagus Romi dan ingat! Jangan sampai siapapun tau tentang rumah itu"

"Siap bos"

Jalal menutup teleponnya. Dia sudah tau semuanya tentang Jodha termasuk rumah Jodha yg disita pihak bank. Kini dia punya alasan agar Jodha bisa tinggal dirumahnya.

"Jodha" gumam Jalal dengan tersenyum.

������

Jodha sekarang berada dirumahnya yg akan disita besok. Sehnaz tau tentang keadaan Jodha dan membantu Jodha untuk mengemasi barang2. Jodha sebenarnya malu dengan Sehnaz karena harus mengetahui keadaannya yg buruk ini. Jodha menyuruh bi Lina agar kembali kekampung karena Jodha sudah tidak sanggup untuk memberinya pekerjaan lagi. Sebenarnya Bi Lina masih ingin bersama Jodha karena bagaimanapun dia sudah bersama keluarga Jodha puluhan tahun. Tapi Bi Lina mrngerti dan dengan berat hati harus meninggalkan Jodha dan Shivani.

Setelah Jodha mengemasi barang2nya,dia dan Sehnaz menuju rumah sakit untuk menjemput Shivani. Jalal sudah menyiapkan segalanya,bahkan dia juga sudah mempunyai dokter dan suster pribadi untuk meninjau perkembangan Shivani. Jodha merasa beruntung bisa bertemu dengan Jalal dan Sehnaz. Dia menganggap mereka berdua sebagai malaikat penolongnya.

������

Jodha telah tiba di rumah Jalal. Rumah yg begitu besar dan mewah yg didominasi warna putih yg didepannya terdapat taman kecil dan kolam ikan. Rumah yg asri dan natural. Seperti merasakan berada di taman yg luas.

Sehnaz mengantar mereka ke paviliun yg ada disamping rumah utama. Paviliun yg Lantai dan dindingnya didominasi dengan kayu. Tak kalah bagus dengan rumah utama. Jodha kembali terkagum-kagum dengan arsitektur paviliun ini.

"Apa kau menyukai alam? Rumahmu semua bernuansa alami" tanya Jodha ke Sehnaz.

Sehnaz tersenyum "ini semua rancangan dari mama. Mama memang pecinta alam jadi rumahnya juga bernuansa alami"

Jodha mengangguk. Bi maham dan beberapa pelayan membantu Shivani menuju ke kamarnya menggunakan brankar dorong rumah sakit. Terdapat dua kamar di paviliun itu dan kamar Shivani tepat menghadap kearah taman.

"Kak Jodha sebaiknya istirahat dulu. Nanti saat makan malam,aku akan kesini menjemput kakak untuk makan malam bersama"

"Terima kasih Sehnaz. Terima kasih banyak. Aku tidak tau bagaimana membalas budi kalian" mata Jodha berkaca-kaca.

Sehnaz memegang bahu Jodha "Kak Jodha jangan begitu. Justru aku yg seharusnya berterima kasih karena Shivani sudah menyelamatkanku" Sehnaz menoleh kearah Shivani yg masih tertidur damai diranjangnya dengan ditunjang alat2 medis yg menempel ditubuhnya.

Sehnaz pamit ke Jodha dan dibalas anggukan oleh Jodha. Jodha duduk disamping ranjang Shivani dan memegang tangan adiknya "Shivani,bangunlah sayang. Kau harus tau siapa malaikat penyelamat kita. Mereka orang2 yg baik. Kamu harus bangun Shivani"

������

Jalal pulang kerumah setelah selesai meeting di bogor. Dia tidak bisa menemani Sehnaz untuk membantu kepindahan Jodha. Setelah tiba dirumah dan memakirkan mobilnya,Jalal berjalan menuju kedalam rumah. Sebelum dia masuk kedalam,Jalal berhenti sebentar,dia melihat kearah paviliun. Kini paviliun itu sudah berpenghuni. Dan salah satu penghuni yg ada didalamnya akan membuatnya tidak bisa tidur dalam beberapa hari kedepan. Jalal lalu masuk kedalam dan disambut oleh Sehnaz.

"Bagaimana Sehnaz? Semuanya baik2 saja kan?" tanya Jalal.

"Iya kak,semuanya berjalan lancar. Kasian kak Jodha. Musibah berturut-turut datang padanya. Dan salah satu musibah itu disebabkan olehku" Sehnaz kembali bersedih.

Jalal merangkul bahu Sehnaz "sudah,jangan sedih gitu. Kita kan sudah menebusnya dengan membantu mereka. Setidaknya bebanmu sedikit berkurang" Jalal mengusap air mata Sehnaz.

"Kau tau kak. Kak Jodha itu wanita yg baik dan aku langsung bisa akrab dengannya. Kalau seandainya dia menjadi kakak iparku,aku pasti akan senang sekali" Sehnaz mencoba menggoda Jalal. Dia ingin tau reaksi Jalal.

Jalal melepas rangkulannya dan jadi salah tingkah "ehm..kau ini bicara apa? sebaiknya kakak mandi dulu. Udah gerah nih" Jalal lalu berjalan kekamarnya.

Sehnaz tersenyum dengan tingkah salting Jalal. Dia lalu  berteriak "Kak,nanti kita akan makan malam dengan kak Jodha!"

"Iya" jawab Jalal.

"Sepertinya ada bunga2 cinta nih" gumam Sehnaz sambil tersenyum.

������

Jodha,Sehnaz dan juga Jalal sedang makan malam bersama. Sehnaz duduk disamping Jodha dan Jodha duduk berhadapan dengan Jalal. Sesekali Jalal melirik Jodha bila Jodha sedang menunduk. Suasana begitu canggung.

"Ehm..maaf. Mama kalian dimana? Kenapa tidak ikut makan malam?" tanya Jodha.

"Mama sedang ada di jogja,dirumah paman dan bibi kami. Mungkin seminggu lagi baru pulang" jawab Sehnaz.

"Oohhh"

"Jodha,apa kau sudah mendapat pekerjaan?" tanya Jalal to the point.

"Belum" jawab Jodha sambil menunduk.

"Kak Jalal,tolong bantu kak Jodha dong untuk mencari pekerjaan" sahut Sehnaz.

"Eh...tidak usah Sehnaz. Aku sudah banyak merepotkan kalian. Biar aku mencari pekerjaan sendiri" Jodha merasa tak enak karena terus dibantu oleh mereka.

"Kebetulan di kantor divisi 2 perusahaanku sedang membutuhkan sekretaris karena sekretaris yg lama sudah resign. Dan Supervisor divisi merasa tidak ada yg cocok dengan beberapa sekretaris yg sudah melamar. Kau bisa melamar disana Jodha. Aku akan merekomendasikanmu" ucap Jalal datar.

"Wah..itu bagus kak. Ayo kak Jodha,terima saja" Sehnaz menggoyang-goyang lengan Jodha.
Jodha jadi bingung harus bagaimana. Sekali lagi Jalal menolongnya dan dia semakin berhutang budi padanya. Karena Sehnaz yg terus mendesaknya,akhirnya Jodha mengiyakan. Dia tak akan bisa menolak bila Sehnaz sudah memperlihatkan puppy eyesnya. Mengingatkannya pada Shivani.
Dengan sedikit malu2 Jodha menjawab "iya. Aku bersedia kerja disana" Sehnaz dan Jalal bernafas lega.

"Kalau begitu lusa kau bersiaplah. Aku akan mengantarmu untuk bertemu Supervisor divisi yg akan mewawancaraimu" ucap Jalal sambil tersenyum tipis.

Dan untuk pertama kalinya Jodha melihat senyum Jalal meskipun hanya sedikit. Senyum yg bisa membuat kaum hawa bertekuk lutut. Sebuah senyum yg jarang diperlihatkan oleh Jalal pada siapapun karena sikapnya yg dingin dan acuh terkecuali pada mama dan adiknya. Senyum yg dia perlihatkan pada Jodha,wanita yg telah mencuri hatinya.

"Terima kasih banyak" hanya itu yg bisa Jodha ucapkan.

Malam harinya,Jodha kembali duduk disamping ranjang Shivani. Keadaan Shivani masih tetap sama, "Shivani,sebentar lagi kakak akan bekerja. Kakak akan bekerja sungguh2 agar bisa membalas semua bantuan yg telah Jalal dan Sehnaz berikan pada kita. Meskipun bekerja sampai berapa tahunpun tak akan pernah bisa membalas kebaikan mereka. Kau tau,meskipun Jalal terlihat dingin dan kaku,entah mengapa aku merasakan ada kehangatan dimatanya" Jodha terus membicarakan Jalal tanpa sadar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...