# CINTA? ATAU BALAS BUDI? #
Part 4
---------©©©©©©©-----------
Jodha duduk disamping ranjang adiknya yg terbaring koma. Air mata tak pernah berhenti mengalir dari mata indahnya. Jodha memegang tangan adiknya yg terasa dingin,"Shivani,bangunlah sayang. Jangan bukin kakak kuatir. Jangan tinggalkan kakak. Kakak tidak punya siapa2 lagi selain kamu." Jodha terus berbicara berharap Shivani mendengarnya. Tapi Shivani masih tetap diam tak bergerak.
Ini sudah 2 hari Shivani koma dan belum ada tanda2 pergerakan dari tubuhnya. Jodha merasa iba melihat alat2 medis yg menempel ditubuh adiknya.
Febby,sekretarisnya masuk kedalam untuk menjenguk Shivani "Bu Jodha"
Jodha menoleh dan melihat Febby datang "eh Febby" Jodha mengusap air matanya.
"Maaf saya baru bisa jenguk Shivani"
"Iya tidak apa2"
"Bagaimana keadaannya?" Febby melihat Shivani seperti ini menjadi iba.
"Dia masih koma. Belum sadar sampai sekarang"
"Yg sabar ya bu" Febby memegang bahu Jodha.
"Iya,terima kasih Feb"
Mereka lalu berbicara tentang Shivani. Sebenarnya Febby selain menjenguk Shivani,dia juga ingin menyampaikan hal penting tentang perusahaan Jodha. Tapi Febby merasa tidak enak menyampaikannya. Jodha yg merasakan kegelisahan Febby akhirnya bertanya "kamu kenapa Feb? Apa ada masalah?"
Febby akhirnya berkata yg sejujurnya "maaf bu Jodha kalau saya harus mengatakan yg sebenarnya disaat bu Jodha sedang ada musibah seperti ini"
"Katakan saja Feb. Aku siap mendengarnya"
"Tadi pihak bank datang ke kantor dan menagih pelunasan hutang. Bila tidak bisa membayar dalam waktu seminggu,maka kantor dan rumah anda akan disita"
Jodha terkejut dengan ucapan Febby "mereka hanya memberi waktu seminggu. Bagaimana mungkin aku bisa mendapat uang 800 juta dalam seminggu. Ya tuhan" Jodha merasa semakin terpuruk. Belum juga Shivani sadar dari komanya dan sekarang ada masalah lagi. Saat itu juga Jodha menitipkan Shivani pada bi Lina untuk menjaganya karena Jodha ingin menemui pihak bank untuk bernegosiasi. Dia pergi ditemani Febby.
������
Sehnaz menemui kakaknya yg saat ini sedang sibuk memeriksa berkas2 di ruang kerja yg berada di dirumahnya.
Tok...tok...
"Masuk"
Sehnaz membuka pintu lalu menyembulkan kepalanya "kak,apa aku mengganggumu? Aku ingin bicara"
Jalal mendongak dari melihat berkas2nya "tidak Sehnaz,masuklah!"
Sehnaz masuk lalu duduk di kursi didepan meja kerja Jalal "kak,aku ingin tau bagaimana keadaan gadis itu"
Jalal menghela nafas berat "Dia masih koma" Sehnaz menunduk sedih.
"Tapi kamu tenang saja. Kakak sudah mengurus semuanya. Kakak sudah menanggung semua biaya rumah sakit"
"Bagaimana kalau dia meninggal kak" Sehnaz menangis,mengingat kematian papanya. Jalal berdiri lalu berjalan menghampiri Sehnaz. Dia berjongkok didepan Sehnaz "ssstt...kamu jangan berkata begitu. Tidak akan terjadi apa2 padanya. Kakak sudah memberikannya pelayanan rumah sakit yg terbaik. Dia pasti akan sembuh. Kamu berdoa saja"
"Apa aku boleh menemuinya"
"Kau yakin ingin bertemu dengannya?"
"Iya"
"Baiklah,besok kita menjenguknya"
"Kak,bolehkah aku meminta sesuatu lagi padamu"
"Apapun permintaanmu,kakak pasti mengabulkan" Jalal membelai rambut Sehnaz.
"Aku ingin...." Sehnaz menjelaskan keinginannya. Jalal awalnya menanggapi dengan kerutan di dahinya. Tapi akhirnya dia mengiyakannya.
������
* Dirumah sakit....
"Maaf mbk,berapa biaya adiministrasi yg harus saya bayar untuk perawatan adik saya yg bernama Shivani Ayudia?" Jodha kini berada di ruang administrasi rumah sakit.
"Sebentar ya bu,saya cek dulu" kata si petugas kasir melihat komputer untuk mengecek. Jodha mengangguk.
"Biaya perawatan untuk nona Shivani Ayudia sudah dilunasi bu"
"Apa! Sudah dilunasi? Tapi siapa yg membayarnya mbk?" Jodha terkejut kenapa dan siapa orang yg membayar biaya perawatan Shivani.
"Saya kurang tau bu. Disini sudah tertulis lunas"
"Baiklah. Terima kasih mbak" Jodha melangkah pergi dari ruangan itu dan penasaran dengan orang yg sudah melunasinya.
Jodha kemudian menemui dokter yg merawat Shivani "Dok,bagaimana keadaan Shivani?"
"Kondisinya masih sama. Kami belum bisa memastikan kapan nona Shivani siuman. Bisa seminggu lagi,sebulan lagi atau setahun lagi. Maaf saya tidak bermaksud menakuti anda nona Jodha. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi hanya tuhan yg tau segalanya. Hanya doa yg bisa membuat keajaiban pada nona Shivani" Jodha semakin sedih dengan kondisi Shivani.
"Nona Shivani bisa bertahan hidup dengan alat medis. Kalau alat medisnya dicabut..."
"Jangan dok!!" teriak Jodha sebelum dokter menjelaskan lebih lanjut, "saya ingin Shivani tetap hidup" Jodha berlinang air mata.
"Saya tau ini sangat sulit bagi anda. Saya juga ingin yg terbaik untuk pasien saya"
Jodha mengusap air matanya "maaf dok,saya ingin bertanya. Apa dokter tau siapa orang yg sudah membayar perawatan Shivani?"
Si dokter kelabakan "ehm...itu..saya tidak tau nona. Orang itu menyembunyikan identitasnya" si dokter tentu saja berbohong. Dia tau tetapi dia harus tutup mulut.
"Terima kasih dok,saya permisi"
"Silahkan" si dokter bernafas lega. Jodha lalu kembali ke kamar Shivani.
������
Jodha kembali ke kamar Shivani. Hari ini dia sangat lelah. Setelah seharian tadi dia bolak balik ke bank dan ke beberapa temannya. Dia mencoba meminjam uang ke temannya tapi tak ada satupun yg bisa membantunya. Pihak bank juga tidak bisa diajak bernegosiasi. Dan akhirnya dia harus menutup usaha percetakannya dan memPHK karyawannya. Jodha sedih,usaha ayahnya yg selama ini dia pertahankan akhirnya harus gulung tikar. Dan kini tinggal rumahnya yg akan ikut hilang.
Rasanya Jodha sudah tidak kuat lagi bertahan hidup. Ingin rasanya dia mati saja. Karena Shivani-lah,dia bisa bertahan hidup. Dia harus kuat demi adiknya.
Kini dia tidak punya tempat tinggal. Tinggal 3 hari lagi rumahnya disita dan disegel. Dia masih bingung harus tinggal dimana. Febby sudah menawarinya tempat tinggal,tapi Jodha merasa tidak enak hati pada Febby. Padahal Febby baru saja dia PHK,tapi tetap saja dia masih mau membantu Jodha.
Dengan langkah gontai Jodha memasuki kamar inap Shivani dan terkejut dengan seorang gadis yg duduk disamping kursi ranjang Shivani,duduk membelakanginya. Jodha mengerutkan keningnya,merasa tidak mengenal gadis ini. Bi Lina yg melihat Jodha langsung memanggilnya "non Jodha"
Gadis itu langsung menoleh kearah Jodha. Jodha masih terdiam di ambang pintu sambil melihat seorang gadis cantik,rambutnya sebahu dan kelihatan umurnya sepantaran Shivani. Gadis itu berdiri.
Bi Lina menghampiri Jodha "ini non Sehnaz,dia teman non Shivani"
Sehnaz mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Jodha "hai kak,namaku Sehnaz"
"Jodha"
Jodha baru kali ini melihat Sehnaz. Memang sebelumnya ada teman Shivani yg lain mengunjunginya,tapi mereka rombongan.
"Aku teman satu jurusan dengan Shivani. Maaf kalau aku datang kesini baru sekarang" ucap Sehnaz.
"Tidak apa2. Terima kasih sudah mau datang menjenguk Shivani. Ayo silahkan duduk" Jodha dan Sehnaz lalu duduk disofa.
Sehnaz lalu berbincang-bincang dengan Jodha. Jodha merasa nyaman berbicara dengan Sehnaz. Ternyata dia gadis yg ramah dan supel. Saat Sehnaz menanyakan keadaan Shivani,hpnya berbunyi dan Sehnaz permisi mengangkatnya.
"Halo kak...iya aku ada disini....iya kutunggu kakak disini" Sehnaz lalu menutup teleponnya.
"Siapa Sehnaz?"
"Kakakku akan kesini kak. Sebenarnya ada yg ingin kami bicarakan dengan kakak"
"Tentang apa?"
"Nanti ya kak. Tunggu kakakku datang" Jodha mengangguk meskipun dia penasaran.
Tak berapa lama seseorang datang dan membuka pintu. Sehnaz,Bi Lina dan juga Jodha menoleh bersamaan kearah pintu. Diambang pintu telah berdiri seorang pria tampan berdiri dengan gagahnya. Jodha berdiri dari duduknya dan terpesona dengan pria tampan itu.Begitupun dengan pria itu,dia terpana melihat Jodha.
Mereka berdua seperti dalam dunia lain yg hanya ada mereka berdua. Seperti ada magnet yg menarik mereka berdua untuk tidak melepaskan pandangan.
"Kak Jalal" suara Sehnaz mengembalikan kesadaran mereka berdua. Sehnaz menghampiri Jalal lalu mengenalkannya pada Jodha.
"Kak,kenalkan ini kak Jodha. Dia kakaknya Shivani. Dan kak Jodha,ini kakakku. Kak Jalal. Jalal mengulurkan tangannya,begitu juga dengan Jodha.
"Jalal"
"Jodha"
Sekali lagi mereka terdiam. Merasakan tangan masing2 seperti ada aliran listrik mengalir diseluruh sendi tubuh mereka. Memberikan perasaan yg tidak bisa digambarkan dengan kata2.
"Ehem..."
Suara deheman Sehnaz membuyarkan lamunan mereka. Membuat Jalal dan Jodha menjadi salah tingkah. Namun Jalal seperti biasa bisa mengembalikan raut wajahnya yg dingin. Jodha lalu mempersilahkan mereka duduk.
"kak Jodha,aku dan kak Jalal ingin membantu Shivani agar cepat sembuh" ucap Sehnaz hati2.
Jodha mengerutkan keningnya "maksudnya?"
Jalal mengambil alih pembicaraan "begini nona Jodha"
"Jodha saja. Jangan terlalu formal" sahut Jodha.
Jalal hampir saja terlena dengan suara lembut Jodha yg menurutnya bisa membuatnya merasa damai "ehm..begini Jodha. Kami ingin membantu perawatan Shivani. Kamu jangan tersinggung dulu. Maksud kami adalah biarkan kami yg mengurus Shivani untuk proses penyembuhannya. Maaf kalau aku telah lancang menanyakan keadaan Shivani pada dokter yg merawatnya"
Kini Jodha mengerti apa yg mereka maksud dan dia merasa sedikit tersinggung "maaf,tapi saya masih bisa mengurus adik saya"
"Kak Jodha,tolong jangan marah. Aku melakukan ini karena aku berhutang nyawa pada Shivani" sahut Sehnaz.
Jodha kembali terkejut "hutang nyawa?"
Sehnaz menelan ludah dengan susah payah dengan apa yg akan dikatakannya "Waktu itu dikampus aku hampir terjatuh dari tangga. Tapi Shivani dengan sigap menangkap tubuhnya hingga akhirnya aku selamat" Sehnaz harus berbohong agar Jodha mau menerima bantuannya.
Jodha semakin heran "tapi kenapa Shivank tak pernah cerita padaku? Biasanya kalau ada apa2 dia selalu cerita"
Jalal dan Sehnaz saling pandang "mungkin Shivani tidak ingin mengumbar kebaikannya,maka nya dia tidak pernah cerita" sahut Jalal. Entah mengapa Jodha merasa ada yg aneh.
Komentar
Posting Komentar