Langsung ke konten utama

CINTA? ATAU BALAS BUDI? (PART17)

�� CINTA? ATAU BALAS BUDI? ��

Part 17

♡+:。.。❣LロVЁ❣。.。:+♡(ಡωಡ)(˘•ω•˘)

"Bagaimana keadaan tante?"

"Mama masih belum sadar setelah tadi diperiksa. Pagi setelah sarapan mama jatuh dari tangga karena merasa kepalanya pusing. Kata dokter tekanan darah tingginya naik" Sehnaz menangis sambil memeluk Jodha.

"Sstt.. Sudah jangan menangis. Doakan saja semoga tante Hamidah baik-baik saja. Apa Jalal sudah kamu beritahu"

"Sudah kak. Dia dalam perjalanan kesini"
Tak berapa lama Shivani juga datang bersama dengan Romi. Kini mereka berempat masih menunggu Hamidah sadar.

Sedangkan di lain tempat, Jalal langsung membatalkan meetingnya begitu mendengar mamanya sakit. Dia sekarang berada di bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju bandara SOETA. Jalal merasa semakin marah dan panik saat penerbangannya harus delay. Dia terus berdoa agar mamanya baik-baik saja.

***

Hamidah perlahan-lahan membuka matanya yg sedikit silau terkena cahaya. Sehnaz yg mengetahui mamanya sudah sadar langsung memanggilnya "Mama"
Jodha dan Shivani yg duduk di sofa langsung berdiri menghampiri ranjang Hamidah. Shivani langsung menekan tombol yg ada disamping ranjang untuk memanggil dokter.

"Mama...dimana Sehnaz" Hamidah merasa kepalanya begitu pusing.

"Mama dirumah sakit. Mama tenang dulu ya"

"Tante.."

"Jodha.. Kamu disini"

"Iya tante. Jodha dan Shivani ada disini"

Dokter dan beberapa perawat datang dan mulai memeriksa Hamidah. Perawat mulai memeriksa tekanan darah Hamidah lalu mencatatnya dan memberikannya pada dokter "Tekanan darah nyonya Hamidah sudah berangsur turun tapi masih belum normal. Saya harap anda jangan terlalu banyak pikiran karena bisa menyebabkan tekanan darah naik. Yang membahanyakan adalah bila tekanan darah anda naik terus bisa menyebabkan stroke" Sehnaz, Jodha dan Shivani kaget dengan penjelasan dokter barusan. Masih beruntung Hamidah tidak sampai terkena stroke.

"Baiklah saya permisi dulu. Nyonya Hamidah ingat pesan saya. Makanannya juga harus dijaga"

"Terima kasih dok"

Dokter dan juga perawat meninggalkan mereka bertiga. Jodha kembali duduk disamping Hamidah.

"Tante jangan banyak bergerak dulu. Tante harus banyak istirahat"

"Terima kasih kamu sudah mau menjenguk tante" Jodha tersenyum, "Sehnaz,apa kakakmu kamu beritahu kalau mama disini"

"Iya ma. Kak Jalal sedang dalam perjalanan kesini"

Tak berapa lama Jalal tiba dirumah sakit dan langsung menuju kamar rawat Hamidah. Dia melihat Romi yg berdiri di depan pintu kamar Hamidah "Romi, bagaimana keadaan mama?"

"Nyonya Hamidah sudah sadar boss. Dia baik-baik saja"

Setelah mendengar ucapan Romi, Jalal merasa lega karena mamanya baik-baik saja. Jalal langsung masuk kedalam "Mama.."

Hamidah dan semua yg ada disana menoleh ke Jalal. Jalal menghampiri Hamidah dan berdiri disamping ranjang dan memegang tangan mamanya "Bagaimana keadaan mama?"

"Mama sudah baikan Jalal. Kamu tidak perlu kuatir"

"Begitu mendengar mama berada dirumah sakit, aku langsung kesini. Aku takut terjadi sesuatu dengan mama" Wajah Jalal terlihat begitu kuatir dengan keadaan Hamidah.

"Mama tidak apa2 sayang. Maaf sudah membuatmu kuatir" Hamidah tersenyum. Jalal bernafas lega melihat mamanya tersenyum.

"Dokter tadi mengatakan agar Mama tidak boleh banyak pikiran dan banyak istirahat" Sehnaz memberitahu Jalal.

"Mama mikirin apa sih sampai sakit begini? aku dan Sehnaz selalu ada bersama mama"

"Mama memikirkan kebahagiaanmu Jalal.  Mama gak mau terus menerus jadi beban untukmu. Kau selalu mengutamakan mama dan Sehnaz tapi tak pernah sekalipun kamu mencoba meraih kebahagiaanmu sendiri"

"Mama kenapa bicara seperti itu. Aku bahagia memiliki kalian berdua. Tidak ada yg kuinginkan lagi ma"

"Itulah yg membuat mama merasa bersalah padamu"

Jalal menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Hamidah. Jalal yg sedari tidak menyadari orang2 disekitarnya, kaget melihat Jodha ada didepannya "Jodha, kamu disini?"

"Iya kak. Tadi aku yg menghubungi kak Jodha. Waktu itu aku panik. Kak Jalal tidak ada jadi aku langsung menelepon kak Jodha" Sehnaz menyahut saat Jodha ingin menjawabnya.

"Terima kasih kau sudah datang kesini" Jalal mengucapkannya dengan tulus.

"Sama2. Aku minta maaf karena tadi izin untuk menjenguk tante. Aku tadi ikut panik karena mendengar suara Sehnaz yg bergetar karena menangis"

"Kamu tidak usah risau dengan itu. Aku nanti yg akan bilang pada pak Atghah"

Hamidah melihat jalal dan jodha yg saling berpandangan. Hamidah tersenyum melihat mereka berdua karena kali ini mereka berdua terlihat akur tak seperti biasanya yg seperti tom & jerry.

"Mama, aku dan Shivani ke kantin dulu ya. Ada yg ingin aku bicarakan dengannya.  Kak Jalal dan kak Jodha kan sudah ada disini buat menjaga mama" Sehnaz tiba2 menyahut.

"Iya sayang" jawab Hamidah.

"Ayo Shivani" Shivani mengikuti Sehnaz setelah sebelumnya pamitan pada Hamidah,Jalal dan Jodha.

Kini tinggal mereka bertiga yg ada diruangan itu, "Jodha, Jalal, mama ingin bicara dengan kalian berdua"

"Ma. Sebaiknya mama istirahat dulu. Kita bisa bicarakan nanti kalau mama sudah sehat"

"Tidak Jalal. Mama ingin mengatakannya sekarang sebelum terlambat" Jodha merasakan ada perasaan tak enak saat Hamidah mengucapkan kalimat terakhir.

"Sebelum mama pergi menghadap tuhan. Mama ingin kalian berdua mengabulkan permintaan mama"

"Ma. Jangan bicara seperti itu. Mama akan sehat terus. Tidak akan terjadi apa-apa Ma"

"Umur kita tidak akan ada yg tau Jalal. Mama takut sebelum permintaan mama terkabul, mama sudah dipanggil oleh tuhan"

"Tante. Jangan pesimis seperti itu. Tante wanita yg kuat" Jodha menggengam tangan Hamidah untuk memberinya semangat.

"Tante kuat seperti ini juga karena anak2 tante Jodha. Setelah papa mereka meninggal, hanya mereka berdua yg tante miliki. Seorang ibu pasti juga ingin melihat anaknya menikah dan bahagia"

Jodha hanya diam mendengar ucapan Hamidah. Hamidah memegang tangan Jalal dan Jodha lalu menyatukan tangan mereka berdua diatas perutnya. Jodha dan Jalal kaget lalu mereka sama2 memandang kearah tangan mereka.

"Jodha, maukah kali ini kamu mengabulkan keinginan tante untuk menikah dengan Jalal"

DEG...

Jantung Jodha tiba2 berdetak cepat. Jodha memandang Jalal yg kini juga menatapnya. Jodha bingung harus menjawabnya apa. Kalau dia mengatakan tidak maka akan membuat Hamidah sedih dan bertambah sakit. Tapi bila dia mengatakan iya, dia sendiri bingung dengan perasaannya pada Jalal.

"Jodha" Jodha terkesiap saat Hamidah membuyarkan lamunannya. Jodha melihat wajah Hamidah yg berharap banyak padanya.

"Iya tante, saya bersedia"

Hamidah berbinar bahagia saat Jodha mengatakannya. Saking gembiranya, Hamidah bangun dari tidurnya lalu memeluk Jodha, "Terima kasih Jodha. Terima kasih" Jodha tersenyum tipis dipelukan Hamidah. Sedangkan Jalal hanya diam melihat Jodha dan mamanya saling berpelukan.

Hamidah melepaskan pelukannya "Mulai sekarang kamu jangan memanggil tante lagi tapi panggil mama ya. Mama sudah gak sabar melihat kalian berdua menikah" Kini Hamidah memeluk mereka berdua.

Sejak Jodha mengabulkan permintaannya, kesehatan Hamidah berangsur-angsur mulai membaik. Ternyata hal itu berakibat baik untuk kesehatannya. Dokter yg memeriksa Hamidah juga merasa heran dengan antusias Hamidah. Padahal dokter memprediksi Hamidah akan berada dirumah sakit sekitar 5 hari atau bahkan seminggu tapi prediksinya salah. Dalam 2 hari Hamidah sudah diperbolehkan pulang. Kabar baik itu juga disambut gembira oleh Sehnaz dan Shivani. Mereka berdua gembira karena kakak-kakak mereka bisa bersatu. Hamidah kini sudah berada dirumah dan mulai mempersiapkan semuanya. Hamidah menginginkan pernikahan mereka dilaksanakan satu bulan lagi tapi menurut Jodha dan Jalal terlalu cepat. Karena mempersiapkan pernikahan butuh waktu yg lama. Akhirnya kesepakatan dicapai bahwa pernikahan mereka dilaksanakan 3 bulan lagi.

Jalal mengajak Jodha makan malam direstoran untuk membicarakan suatu hal sebelum mereka menikah.

"Kenapa kamu setuju menikah denganku Jodha?"

"Kamu pasti tau jawabannya bukan. Aku melakukan itu demi mamamu"

"Kamu bisa menolaknya bukan"

"Anggap saja pernikahan ini sebagai balas budiku pada kalian"

"Selalu balas budi kau jadikan alasan. Apa bukan karena kau mencintaiku?"

Jodha membelalakkan matanya dengan ucapan sok PD-nya Jalal "Heh..kau pikir aku mau menikah denganmu karena aku mencintaimu. Jangan terlalu percaya diri tuan Jalal" Jodha mencibir.

"Masih saja jutek! Ck... Apa tidak bisa kalau berbicara denganku jangan sok jutek begitu. Aku juga mau menikah denganmu karena mama. Kalau mama bahagia aku juga ikut bahagia"
Entah mengapa mereka berdua sama-sama kecewa dengan jawaban masing2. Tapi karena keegoisan masing2 tanpa mereka sadari bahwa dihati mereka perasaan cinta itu sudah hadir.

"Aku ingin mengajukan syarat sebelum kita menikah" ucap Jodha.

"Syarat apa?"

"Pertama, selama kita menikah kita tidak boleh mencampuri urusan masing2. Kau bebas melakukan apapun begitupun denganku"

"Ok. Deal. Lalu yg kedua"

"Kedua. Jangan pernah menyentuhku selama tidak kuijinkan"

"Apaaa!!! Aku suamimu, mana mungkin aku tidak boleh menyentuhmu. Enak saja, aku tidak setuju"

"Eh.. Dengar ya. Meskipun kita menikah, aku tidak mau disentuh olehmu. Kau tau sendiri kan kalau kita tidak saling mencintai. Setuju atau tidak kau harus menurutinya"

Jalal mencibir "Syarat yg tidak masuk akal. Ok, aku setuju. Tapi bila kau yg memintanya terlebih dahulu, aku tidak akan menolaknya"

Jodha menatap tajam "Itu tidak akan pernah terjadi"

"Kita lihat saja nanti. Tapi ada perkecualian untuk aku menyentuhmu Jodha"

"Apa maksudmu!"

"Bila didepan orang lain kita harus terlihat mesra. Kau tidak ingin kan kita menjadi bahan perbincangan orang2. Karena itulah syaratmu tidak berlaku. Bagaimana,Deal" Jalal mengulurkan tangannya.

Jodha terlihat berpikir sejenak. Lalu dia membalas uluran tangan Jalal "Ok, deal. Tapi kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan"

Jalal tersenyum menyeringai "Kalau untuk hal itu aku tidak bisa berjanji Jo" batin Jalal.







Komentar

  1. akhirnya menikah juga...walaupun ada beberapa persyaratan,,,,tapi tetep aja namanya menikah.....setuju dech lanjut gpl ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...