# JANGAN TAKUT JATUH CINTA #
Part 6
៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛៛
Setelah Jodha menjelaskan dengan detail hasil rancangannya,semua orang merasa puas dengan rancangan Jodha. Terlebih Jalal,dia begitu kagum dengan kecerdasan Jodha.
"Bila ada yg kurang mengerti dengan rancangan saya, saya persilahkan untuk bertanya" ucap Jodha pada seluruh anggota meeting.
Semuanya diam. Sepertinya mereka semua sudah mengerti. Kecuali satu orang yg masih terpana dengan Jodha.
"Jalal...." Ryan memanggil Jalal.
Jalal langsung menoleh begitu namanya disebut "iya..."
"Apa kau mendengarkan penjelasan nona Jodha? Kok sepertinya kamu tidak fokus"
Semua orang melihat spontan melihat Jalal. Termasuk Jodha. Jalal gelagapan karena menjadi pusat perhatian. Untuk menutupi rasa malunya karena tidak fokus, Jalal berlagak mengerti tentang semua penjelasan Jodha.
"Ehem.." Jalal berdehem, "saya fokus dengan penjelasan nona Jodha dan menurut saya hasil rancangannya begitu bagus" Jalal mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ck...siapa juga yg tanya pendapatmu" batin Ryan.
Rasanya ingin sekali Ryan menertawakan Jalal. Tapi dia menahannya karena tak ingin adiknya itu semakin malu di depan orang banyak. Jodha tersenyum sinis sedangkan Moti tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Penjelasan nona Jodha begitu detail dan mudah dimengerti" semua orang kembali fokus ke Ryan.
"Menurutmu,bagaimana prosentase awal promosi wahana baru ini,nona Jodha?" Tanya Ryan.
"Saya targetkan di minggu pertama sekitar 50% dan 50% lagi di minggu ke 2 hingga 3" ucap Jodha penuh percaya diri.
"Bagus. Saya suka dengan optimisme dan semangatmu nona Jodha. Bila dalam 1 bulan ini kamu berhasil membuat AZZA Wonderland mengalami peningkatan,maka saya janji kamu akan dapat bonus besar" ujar Ryan antusias.
"Terima kasih pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya melakukan ini semua bukan demi hadiah atau bonus. Tapi karena murni demi kemajuan AZZA Wonderland"
Semua orang bertepuk tangan dan bangga dengan pemikiran Jodha.
"Saya tidak salah memilih kamu menjadi Chief Marketing. Kamu memang berbakat" Ryan tulus memuji, "baiklah, karena sebentar lagi makan siang. Saya rasa meeting kita cukup sampai disini. Selamat siang semua"
"Siang pak...."
semua anggota meeting mulai membubarkan diri termasuk Jodha dan Moti. Kecuali Jalal dan Ryan.
"Jalal...aku ingin bicara denganmu"
"Ya kak, ada apa?" Jalal mendekat ke Ryan.
"Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi gak konsen! Apa kamu memikirkan sesuatu?" Ryan menatap Jalal tajam.
Jalal jadi salah tingkah ditatap Ryan seperti itu "aku gak mikirin apa2 kak"
"Beneran???" Ryan menatap curiga.
"Iya kak...beneran. udah siang nih. Kita makan yuk" Jalal mengalihkan pembicaraan.
"Dasar...mencoba menghindar..hmm!!"
Jalal tersenyum sambil garuk2 kepalanya yg tidak gatal.
"Hhmmm...ya sudah kamu makan siang aja dulu. Kakak masih ada keperluan"
"Ok" Jalal bernafas lega karena selamat dari pertanyaan kakaknya.
₹₹₹₹
Jalal saat ini sedang makan siang sendirian. Dia ingin menyendiri. Biasanya dia makan siang bersama anak buahnya. Entahlah mengapa dia hari ini jadi galau. Padahal banyak gadis2 yg melihat kearahnya dengan tatapan memuja. Tapi Jalal seakan tak perduli.
Restoran di hotel Azza terlihat ramai saat makan siang. Jalal telah selesai dengan makan siangnya. Kini dia tengah menikmati ice coffe moccanya. Saat itu juga pihak restoran menampilkan sebuah grup band untuk menemani makan siang para pengunjung restoran.
Sang vokalis wanita maju dan menyapa pengunjung sebelum menyanyi "selamat siang para pengunjung sekalian. Maaf kalau kami sudah menganggu makan siang anda semua. Ijinkan kami mempersembahkan sebuah lagu untuk menemani makan siang anda. Selamat menikmati"
Musik pun mulai mengalun. Sang vokalis menyanyikan lagu 'Everything I do, I Do It For You' by. Bryan Adams
Look into my eyes, you will see...
What you mean to me...
Search your heart, search your soul...
And when you find me there, you'll search no more...
Don't tell me it's not worth tryin' for...
You can't tell me it's not worth dyin' for...
You know it's true...
Everything I do , I do it for you...
Look into my heart, you will find...
There's nothin' there to hide...
So take me as I am, take my lifeI would give it all, I would sacrifice...
Don't tell me it's not worth fightin' for...
I can't help it, there's nothin' I want moreYou know it's true...
Everything I do, I do it for you...
---------
Jalal melihat sang vokalis sebagai Jodha. Dia melihat bayangan Jodha menyanyi dan tersenyum padanya. Jalal menutup matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang yg terlihat adalah wajah sang vokalis.
"Ya tuhan...apa yg terjadi denganku? Kenapa wajah gadis aneh itu selalu terbayang-bayang" batin Jalal.
Jalal menepok jidatnya sendiri. Sepertinya dia sudah mulai gila. Tiba2 ada yg menepuk pundaknya, membuatnya kaget.
"Jalal...."
"Mirza....kau disini?" Ucap Jalal terkejut.
"Yup..." jawab Mirza lalu duduk didepan Jalal.
Mirza adalah sahabat Jalal dari SMA. Dia mempunyai perusahaan di amerika. Jadi harus bolak balik amerika-indonesia.
"Kapan kamu datang dari amerika? Kenapa tak kabari aku?"
"Aku datang tadi pagi. Setelah pulang kerumah, aku terus kesini. Kata sekretarismu kamu sedang makan siang. Maka nya aku kesini. Aku memang sengaja ingin memberi suprise padamu"
"Ooohhh. Kamu sudah makan belum? Biar aku pesankan" jawab Jalal.
"Tidak usah, aku sudah makan tadi. Oh iya....kamu ngapain geleng2 kepala terus menepok jidatmu sendiri"
"Hah...gak...aku gak kenapa2 kok" Jalal berkelit sambil menyesap minumannya.
"Beneran??? Aku merasa sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu" Mirza memicingkan matanya curiga.
"Eh...bagaimana bisnismu di amerika?" Jalal mengalihkan pembicaraan.
"Ck...kau ini mengalihkan pembicaraan heh! Alhamdulillah lancar. Maka nya aku balik kesini karena ada seseorang yg ingin kutemui disini" Mirza tersenyum misterius.
"Siapa???" Tanya Jalal penasaran.
"Ada deh...mau tau aja atau mau tau banget??" Mirza menaik turunkan alisnya.
"Iiisshhh...lebay banget kamu"
"Hahahaha....pokonya seseorang yg sangat spesial"
"Siapa sih...pacar kamu ya?"
"Aku gak mau kasih tau. Kamu aja gak ngasih tau aku. Impas kan"
"Ck...dasar kau ini. Sudah kubilang aku tidak menyembunyikan apa2"
"Kita ini bersahabat gak satu atau dua hari Jalal,tapi sudah bertahun-tahun. Jadi aku ada yg aneh dengan dirimu"
"Terserah kau" Jalal mendengus.
Mirza tertawa melihat wajah cemberut Jalal. Dia suka sekali menggoda Jalal bila Jalal mulai cemberut seperti itu.
៛៛៛
Sore hari Jodha pulang kerja janjian untuk pulang bersama Ruqaya. Setelah pamitan dengan Moti dan rekan2nya, Jodha keluar dari kantor menuju ke Azza hotel dengan berjalan kaki. Ternyata Ruqaya sudah menunggu di luar hotel.
"Ruqaya..." panggil Jodha dari kejauhan.
Ruqaya menoleh dan melambaikan tangannya. Jodha berada didepan Ruqaya.
"Udah lama nunggunya?" Tanya Jodha.
"Enggak...kira2 20 menit saja" Ruqaya melihat ke arlojinya.
"Maaf ya. Aku tadi masih ada urusan"
"Iya gak pa2. Ayok kita pulang" Ruqaya menggandeng tangan Jodha.
"Ayuk" Jodha membalas genggaman tangan Ruqaya.
Saat mereka asyik bercanda, tiba2 ada yg memanggil dari arah belakang mereka.
"Ruqaya..."
Ruqaya dan Jodha menoleh kebelakang. Disana sudah berdiri dua orang lelaki tampan, Mirza dan Jalal. Mirza tersenyum ke arah Ruqaya dan Ruqaya tersipu malu. Sedangkan Jalal terlihat biasa saja ke Jodha padahal dalam hati dia deg2an. Dan Jodha terlihat cuek pada Jalal.
Mirza dan Jalal mendekat ke arah Jodha dan Ruqaya. Ruqaya semakin terlihat salah tingkah.
"Pak Mirza..." ucap Ruqaya lirih.
"Hai Ruq. Bagaimana kabarmu? Lama kita tak bertemu"
"Ba...baik pak" ujar Ruqaya terbata-bata.
"Siapa dia?" Tanya Mirza menunjuk ke Jodha.
"Oh...ini Jodha, sepupu saya. Dia juga satu tim dengan pak Jalal"
Mirza mengulurkan tangannya "hai...aku Mirza"
"Saya Jodha" Jodha membalas uluran tangan Mirza.
Jalal hanya diam melihat mereka.
"Jalal, kenapa kamu tidak bilang kalau punya rekan kerja yg cantik seperti Jodha"
"Hah" Jalal hanya melongo.
"Ck...kau ini. Tumben banget hari ini kamu agak lemot sih" Mirza berbisik di telinga Jalal. Dan Jalal menatap tajam ke Mirza, dibalas Mirza dengan kekehan.
"Oh iya Ruq,apa kita bisa bicara.Aku ingin mengajakmu ke cafe seberang. Jodha juga bisa ikut kalau mau" ucap Mirza.
"Hm..tidak usah pak" jawab Mirza.
"Panggil Mirza saja biar tidak terlalu formal"
"Maksudku, aku tidak ikut. Biar aku pulang sendiri. Kalian pergi saja"
"Tapi Jodha, kamu pulang sendirian dong. Ikut aja ya" Ruqaya mencoba membujuk Jodha.
"Gak usah Ruq. Gak pa2 aku pulang sendiri saja" Jodha tidak mau menggangu Mirza dan Ruqaya.
"Iya Jodha...ikut saja" ucap Mirza.
Sebelum Jodha menjawab, ada seseorang yg menyelanya "Jodha biar aku pulang" tiba2 Jalal bicara.
Semua menoleh ke arah Jalal. Jodha terlihat heran mendengar kata2 Jalal.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu" ucap Jalal.
"Tidak. Aku bisa pulang sendiri" Jodha tetap keukeh.
Mirza menangkap sesuatu yg tidak beres pada Jodha dan Jalal.
"Ck. Lambat. Sudah jangan bicara. Ayo!!" Jalal langsung menarik tangan Jodha tanpa harus menunggu jawaban dari Jodha.
Ruqaya kini ganti yg melongo melihat kelakuan Jalal. Sedangkan Mirza justru tersenyum "Ayo ruq, kita Jalan"
Ruqaya langsung tersadar saat Mirza memanggilnya "Eh...iya"
Mereka berdua langsung meluncur ke cafe.
¤¤¤¤
Jalal masih menggenggam tangan Jodha menuju ke mobilnya. Jodha mencoba berontak tapi tak bisa lepas dari tangan Jalal "Apa-apaan sih. Main tarik aja. Lepasin"
"Diam bisa gak sih!" Ucap Jalal.
Entah kenapa Jalal tiba2 menggandeng tangan Jodha. Gara2 gadis ini, seharian Jalal tidak bisa konsen dalam bekerja. Tidak pernah ada satu orang wanitapun yg bisa mengganggu pikirannya seperti ini. "Apa yg sudah kau lakukan padaku Jodha?" Gumam Jalal.
Kini mereka sudah berada di depan mobil Jalal. Jalal membuka pintu mobilnya untuk Jodha masuk.
"Masuk!" Perintah Jalal.
"Aku gak mau"
"Masuk! Atau kucium" ancam Jalal.
kang Jalal, masuk mobilnya sambil nyium aja, gimana??...he he he...ngarep dot com
BalasHapusMau dong
Hapus