JANGAN TAKUT JATUH CINTA
Part 22
⛪⛲
Jalal berdiri ditengah taman dan berteriak "Jodhaaa...aku mencintaimu! Maukah kau menikah denganku!"
Sontak saja teriakan Jalal mengundang perhatian para pasien dan para pengunjung yg sedang berada di taman itu. Ada yg senyum2,ada yg melongo,ada yg bengong dan berbagai macam ekspresi yg ditampilkan oleh orang2 yg melihatnya. Sedangkan Jodha membelalakkan matanya melihat tingkah gila Jalal. Jodha melihat ke sekeliling taman. Semua orang kini melihat ke arah mereka berdua.
"Wah asyik nih...mumpung ada tontonan romantis gratis" celetuk salah satu pasien yg ada di taman itu.
Jodha berdiri dari duduknya dan menghampiri Jalal "Jalal,apa yg kaulakukan? Kau sudah gila ya!"
"Kau kan yg bilang sendiri masih ragu dengan cintaku. Sekarang aku buktikan padamu" ucap Jalal santai.
"Tapi bukan begini caranya. Kau malah dikira gila dan membuatku malu Jalal" ucap Jodha lirih.
"Baiklah kalau bukan dengan cara begini,maka aku gunakan rencana B" Jalal lalu bersimpuh dengan satu lututnya dan satunya lagi di berada di tanah seperti seorang pangeran yg melamar tuan putrinya.
"Maukah kau menikah denganku,Jodha?" ucap Jalal serius.
Jodha melotot tak percaya dengan ucapan Jalal "kamu jangan bercanda Jalal"
"Aku serius Jodha" Jodha diam tak menjawab. Dia masih shock dengan lamaran tiba2 Jalal.
"Terima aja! Ayo terima" teriak pengunjung yg ada disana.
"Terima...terima..terima" teriak mereka semua.
Wajah Jodha memerah menahan malu. Bagaimana tidak malu,biasanya bila seorang pria melamar seorang wanita di tempat romantis. Tapi ini dirumah sakit. Jodha tak habis pikir dengan kelakuan Jalal yg selalu bikin jantungnya seakan copot dari tempatnya.
"Kamu tau kan kalau aku masih trauma dengan pernikahan" ucap Jodha sendu.
"Percayalah padaku Jodha,aku yg akan membuatmu lepas dari traumamu. Genggamlah tanganku agar kita bisa menjalaninya bersama-sama"
Jodha spechless. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Jalal selalu menunjukkan rasa cintanya tapi Jodha seakan menyangkalnya. Dia teringat kembali kata2 Daniyal "Dia mencintaimu kak. Aku percaya padanya,jadi bukalah pintu hatimu untuknya"
Mata Jodha berkaca-kaca. Dengan sedikit gugup dan malu dia berkata "Aku..bersedia...menikah denganmu Jalal"
Jalal yg mendengar kalimat itu tersenyum lebat dan hampir tak percaya. Dia melihat kedalam mata Jodha untuk memastikan apakah Jodha serius atau tidak. Jalal langsung berdiri dan memeluk Jodha dengan erat.
"Aku mencintaimu Jodha" Jodha membalas pelukan Jalal.
Prok...prok....
"Yeeeaaayy" semua orang yg melihat mereka bertepuk tangan. Bahkan seorang kakek berdiri dari kursi rodanya untuk bertepuk tangan. Saking bahagianya,Jalal sampai tak perduli dimana dia berada dimana banyak orang yg melihatnya.
"Terima kasih sayang,kau sudah menerimaku. Aku bahagia sekali" Jalal melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Jodha.
Jodha tersenyum dan memegang tangan Jalal "Aku yg seharusnya berterima kasih padamu karena sudah bersabar menghadapiku. Aku minta maaf kalau buat kamu menunggu. Aku hanya belum siap dan masih takut"
"Sssttt...kamu jangan berkata seperti itu. Kita bersama-sama menghilangkan rasa takutmu. Aku akan selalu ada buat kamu"
Jodha tersenyum bahagia.
"Maaf kalau acara lamarannya dirumah sakit dan mendadak seperti ini, tanpa ada cincin maupun lagu romantis tapi malah backsoundnya tepuk tangan para pasien" Jodha terkekeh mendengar gurauan Jalal, "Tapi aku janji aku akan membuat suprise untukmu kalau kita sudah kembali ke jakarta" Wajah Jodha tersipu malu.
Hp Jalal tiba2 berbunyi,Ryan meneleponnya. Jalal mengangkatnya "halo kak"
"Kamu dimana Jalal?"
"Aku ada di taman rumah sakit"
"Sekarang kamu tolong ke lobby. Aku dan mama sudah ada disini"
"Oohh...Ok" Jalal menutupnya.
"Siapa yg telpon?"
"Kak Ryan dan mama sudah ada di lobby. Ayo kita jemput mereka" Jalal menggandeng tangan Jodha lalu mengajaknya.
"Hah! Mama kamu kesini?"
"Iya. Mamaku mau jenguk papa kamu. Udah ayo buruan" Mereka berdua berjalan menuju lobby.
°°
Hamida datang bersama Ryan menjenguk Bharmal dan juga bersamaan dengan Ruqaya dan keluarganya. Ruqaya bersama ayah dan ibunya mengunjungi Bharmal sekaligus memberitahu tentang pernikahan Ruqaya dan Mirza yg akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Jodha senang sekali karena sepupu sekaligus sahabatnya itu akan menikah terlebih dahulu. Jodha dan semua yg ada disitu mengucapkan selamat ke Ruqaya.
"Terima kasih bu Hamidah dan nak Ryan sudah bersedia menjenguk saya. Tidak perlu repot2 membawa bingkisan" Bharmal merasa sungkan karena Hamida membawa sekeranjang buah dan roti.
"Tidak apa2 Bharmal,saya tidak repot. Kan menjenguk calon besan" ucap Hamida sembari melirik Jalal dan Jodha yg duduk di sofa menemani Ruqaya. Jodha tersipu malu sedangkan Jalal tersenyum sumringah. Bharmal ikut tersenyum.
"Papa minta maaf om tidak bisa menjenguk om Bharmal karena beliau sedang keluar kota. Jadi saya mewakili Papa" ucap Ryan yg berdiri disamping Hamida.
"Iya.tidak apa2 nak Ryan. Om mengerti"
"Sebenarnya saya kesini juga ingin melamar Jodha untuk anak saya Jalal" ucap Hamida serius.
Jodha nampak kaget sedangkan Bharmal dan Meena terlihat gembira.
"Saya setuju bila Jalal dengan Jodha. Tapi keputusan ada ditangan Jodha karena dia yg menjalaninya" Bharmal menoleh ke Jodha. Kini semua orang melihat ke arah Jodha menunggu jawabannya.
"Saya menerimanya" ucap Jodha menunduk malu.
Semuanya senang dan bernafas lega mendengar ucapan Jodha. Ruqaya menyenggol lengan Jodha sambil menggodanya "cieeee..."
Jodha wajahnya semakin memerah karena godaan Ruqaya.
"Alhamdulillah. Setelah pak Bharmal sembuh,kami sekeluarga akan resmi melamar Jodha kerumah sekalian menentukan tanggal pernikahannya" ucap Hamida dengan sumringah. Jalal senyum2 gaje dan Ryan terkekeh melihat adiknya yg begitu gembira. Akhirnya adiknya itu bisa bersatu dengan kekasih hatinya.
"Waah...sebentar lagi akan ada 2 pernikahan nih. Gulbadan,kita setelah ini akan mulai sibuk mengurus pernikahan anak2 kita. Setelah Ruqaya menikah,lalu Jodha" ucap Meena ke Gulbadan.
"Iya benar. Kita akan mulai repot menyiapkan pernikahan anak gadis kita" sahut Gulbadan.
Kini bukan hanya Jodha yg tersipu malu tapi Ruqaya juga wajahnya ikut memerah malu. Semua orang tertawa melihat Jodha dan Ruqaya yg digoda habis2an.
•••
Setelah berbincang-bincang sebentar,Hamida pamit pada Bharmal "pak Bharmal,kami pamit pulang dulu. Semoga lekas sembuh"
"Terima kasih bu Hamidah,nak Ryan sudah repot2 berkunjung kemari" jawab Bharmal.
Hamida dan Ryan mengangguk dan bersalaman dengan Bharmal dan keluarganya. Jodha dan Jalal mengantar mereka berdua sampai ke lobi rumah sakit.
"Jalal,kapan kamu kembali? Apa kamu gak kembali ke hotel" tanya Hamida saat mereka berempat berjalan di lorong rumah sakit menuju lobi.
"Iya ma. Nanti malam aku pulang"
"Shia nanya kamu terus Jalal. Dia tadi sepulang sekolah merengek minta ikut kesini. Aisha juga jadi ikut2an mau kesini. Tapi aku melarangnya,dia kan sedang hamil dan aku juga harus membujuk Shia agar dirumah saja menjaga mamanya. Jadi kamu buruan pulang biar Shia gak nanyain kamu terus" ujar Ryan.
"Hahaha...jadi ponakan tersayangku itu kangen ya sama uncle gantengnya" ucap Jalal dengan PDnya.
"Iissshh...PD banget" sahut Jodha.
"Tapi kamu suka kan" goda Jalal sambil mengedipkan matanya ke Jodha. Hamidah dan Ryan hanya tertawa melihat tingkah Jalal.
"Pak Ryan,saya minta maaf. Saya masih minta izin cuti untuk menjaga Papa"
"Iya Jodha tidak apa2. Oh iya kalau tidak di kantor jangan panggil saya pak. Panggil saja kakak sama seperti Jalal. Kan sebentar lagi kamu mau jadi adik iparku" ucap Ryan sambil melirik Jalal yg masih senyum2.
"Iya pak..eh..kak"
Tak terasa mereka sudah sampai di lobi. Hamidah dan Ryan lalu berpamitan ke Jodha & Jalal. Setelah mobil Ryan menghilang,Jalal & Jodha kembali ke kamar Bharmal.
°°°
Malam harinya Jalal pamit ke Bharmal dan Meena untuk pulang. Lusa dia akan kembali kesini saat Bharmal akan pulang kerumah. Jodha mengantar Jalal ke parkiran.
"Kalau bukan karena pekerjaan,sebenarnya aku masih ingin menemanimu Jodha" Jalal menggengam tangan Jodha.
"Ck..kau ini. Gak usah lebay gitu deh. Kamu kan masih bisa telpon aku"
"Tapi kan beda sayang. Aku pasti bakal kangen kamu" Jalal mengecup punggung tangan Jodha.
"Udah Jalal. Malu dilihat orang" Jodha mencoba melepaskan tangannya tapi Jalal malah menggenggamnya erat. Kini mereka telah sampai di parkiran.
"Aku pulang dulu ya. Setelah sampai rumah,aku akan menghubungimu" Jalal memeluk Jodha lama seakan tak mau melepasnya.
"Iya. Udah sana pulang" Jodha melepaskan pelukannya.
"Kamu kok gitu sih sayang,masih jutek aja sama aku. Memangnya kamu gak kangen?" Jalal merajuk.
"Mulai deh kumat manjanya" Jodha mendengus.
Jalal tersenyum menyeringai "eh...Jodha. Ini ada apa di pipimu" Jalal mulai melancarkan modusnya.
"Hah...emang ada apaan? Kotor ya" Jodha mengusap2 pipinya.
Jalal yg gemas dengan tingkah polos Jodha langsung saja mengecup bibir Jodha singkat 'cup...' lalu Jalal pergi dari hadapan Jodha dengan tertawa terbahak-bahak.
Jodha yg masih kaget dengan ulah Jalal langsung sadar dan memegang bibirnya. Rasanya seperti kena aliran listrik meskipun cuma sedetik.
"Jalaaallll!!!!" teriak Jodha, "kamu sudah mencuri ciuman pertamaku" gumam Jodha lirih.
2 hari kemudian,Bharmal sudah diperbolehkan pulang. Jalal sudah berada disana untuk menjemputnya. Awalnya Daniyal yg mau menjemput ayahnya tapi Jalal melarangnya. Jalal yg menawarkan diri untuk menjemput Bharmal agar Daniyal tidak terganggu pekerjaannya karena Daniyal sedang ada meeting penting.
Setelah mengemasi barang2 Bharmal.Jodha,Jalal dan Meena pulang kerumah. Dalam perjalanan pulang,Jalal lebih banyak bercanda untuk menghibur camernya. Bharmal merasa senang punya calon menantu yg humoris hingga bisa membuatnya merasa nyaman.
Sampai dirumah,Bharmal dituntun kekamarnya untuk istirahat. Sedangkan Jodha pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Syukurlah Jodha dilamar Jalal di RS umum, bukan RS spesialis...
BalasHapusSpesialis apa mbk
BalasHapus