JANGAN TAKUT JATUH CINTA
PART 19
¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥
"Pergilah padanya. Bicarakan masalah kalian secara baik2. Jangan sampai kau menyesal nantinya..hm"
Jalal mendongakkan kepalanya.Dia merasa seperti punya semangat baru.Ya,Ryan memang kakak yg terbaik baginya. Jalal lalu memeluk Ryan dan mengucapkan terima kasih. Ryan tersenyum sambil membalas pelukan Jalal. Setelah itu Jalal berdiri dan meninggalkan Ryan.
"Aku pergi dulu ya kak"
"Kemana?"
"Kerumah Jodha"
"Malam2 begini?"
"Iya kak. Biar masalahku dan Jodha cepat selesai. Tolong bilang ke mama ya kalau aku kerumah Jodha" Jalal sedikit berlari dan terburu2 pergi meluncur kerumah Jodha.
Ryan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jalal "Dasar anak bandel. Gila karena cinta...ckck"
Tiba2 Ryan teringat sesuatu "Oh iya. Lebih baik aku pergi ke kamar saja. Melanjutkan yg tadi tertunda bersama Aisha" Ryan tersenyum lebar membayangkannya. Dia juga terburu2 pergi ke kamar.
(Jiiiahhh...kakak beradik sama2 Mr.Modus...hahaha)
¤¤¤
Jodha dan Ruqaya sedang duduk dikursi balkon kamar Jodha sambil makan camilan, "Jadi kamu masih gak bisa hubungi Jalal?" Tanya Ruqaya.
"Iya. Ponselnya tidak aktif terus aku tadi kerumahnya juga gak ketemu" Jodha menunduk sambil bibirnya manyun.
"Ciiee...yang lagi kangen" Ruqaya menyenggol lengan Jodha.
"Apaan sih Ruq. Aku lagi serius kamu malah godain terus" Jodha makin cemberut, "Kenapa sih Jalal sampai marah seperti itu sampai tidak mengabari aku sama sekali. Aku kan ingin menjelaskan semuanya"
"Dia kan cemburu dan mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya" jawab Ruqaya sambil mencomot kripik di toples.
Ponsel Jodha berbunyi dan Jodha mengangkatnya berharap Jalal yg meneleponnya. Tapi begitu melihat layar ternyata tertera nama mamanya. Jodha yg awalnya tersenyum langsung sedih.
"Siapa Jodha? Jalal ya?" Tanya Ruqaya penasaran.
"Bukan. Ini mama yg telpon. Tumben mama telpon malam2 begini"
"Ya udah,angkat saja. Siapa tau penting"
"Halo ma"
"......"
"Apa!! Masuk rumah sakit"
"....."
"Iya ma. Gak pa2. Aku akan pulang sekarang" Jodha langsung berdiri dari duduknya dengan panik dan masuk ke kamar untuk berkemas.
"Eh Jodha,ada apa? Siapa masuk rumah sakit?" Ruqaya ikut panik.
"Papaku masuk rumah sakit. Papa tadi pingsan karena tekanan darah tingginya naik. Aku harus pulang sekarang Ruq"
"Tapi sekarang sudah malam Jodha. Apa tidak besok saja?"
"Gak bisa Ruq. Aku harus pulang malam ini. Aku akan naik bis patas"
"Kalau begitu aku bilang mamaku dulu dan aku akan mengantarmu ke terminal" Jodha mengangguk. Ruqaya lalu keluar dari kamar Jodha dan memberitahukan mamanya.
°
Jalal telah tiba dirumah Jodha. Dari dalam mobilnya,Jalal melihat Ruqaya dan Jodha akan naik ke mobilnya. Jalal menghentikan mobilnya lalu keluar dan menghampiri Jodha.
"Jodha,Ruqaya. Kalian mau kemana malam2 begini?" Tanya Jalal yg melihat Ruqaya memasukkan tas Jodha ke mobilnya.
"Jalal..." Jodha langsung menghampiri Jalal dan memeluknya, "Aku mau pulang ke bandung sekarang karena papaku masuk rumah sakit" ucap Jodha sambil menangis di pelukan Jalal.
"Sssst...tenanglah" Jalal mengelus rambut Jodha dan tangan satunya mengelus punggung Jodha untuk menenangkannya, "Terus kamu kesana hanya berdua bersama Ruqaya?"
"Enggak. Aku berangkat sendiri. Ruqaya hanya mengantarku sampai di terminal"
"Apa! Kamu pulang sendiri malam2 begini. Gak akan kubiarkan. Ayo biar aku antar sampai ke bandung" Jalal melepaskan pelukannya lalu mengambil tas Jodha di mobil Ruqaya.
Jodha menghapus air matanya "Eh..tapi Jalal"
"Jangan membantah Jodha. Aku akan mengantarmu. Ruqaya,tolong bilang ke ayah dan ibumu kalau Jodha aku antar sampai ke bandung. Ayo Jodha!" Jalal menarik tangan Jodha untuk mengikutinya ke mobil. Ruqaya melongo tapi dia juga mengangguk sambil garuk2 kepala.
"Ruq. Aku pergi dulu ya" pamit Jodha.
"Iya. Hati2 di jalan ya. Nanti kabari aku kalau sudah sampai sana ya" Ruqaya berteriak karena Jodha sudah masuk ke mobil Jalal dan Jodha melambaikan tangannya.
"Hmm..dasar pasangan aneh" Ruqaya mengendikkan bahu lalu masuk kedalam rumah.
₹₹₹
Di dalam mobil mereka berdua hanya diam. Beberapa menit yg lalu Jalal menelepon Ryan bahwa dia pergi kebandung untuk mengantar Jodha. Ryan awalnya sempat marah2 karena merasa terganggu dengan telepon Jalal disaat dia sedang asyik bersama istrinya. Jalal hanya berdecak kesal. Tapi setelah Ryan mendengar ayah Jodha sakit,dia langsung melunak.
"Baiklah Jalal. Hati2 dijalan. Aku doakan semoga ayah Jodha cepat sembuh. Tolong sampaikan salamku pada ayah Jodha. Dan urusan pekerjaan,aku ijinkan Jodha untuk cuti sampai ayahnya sembuh" ucap Ryan.
"Ok kak. Terima kasih. Tolong beritahu papa dan mama juga ya"
"Ya" jawab Ryan lalu menutup teleponnya.
Kini dia melihat Jodha yg hanya diam menatap kedepan. Jalal tau kalau Jodha sedang kuatir dengan keadaan ayahnya. Tangan kiri Jalal menggengam tangan Jodha sedangkan tangan kanannya menyetir.
"Kamu kenapa?"
Jodha kaget dengan genggaman tangan Jalal. Jodha menoleh dan hanya menggeleng.
"Papamu pasti baik2 saja. Berdoa saja semoga beliau lekas sembuh" Jalal mencoba menguatkan hati Jodha dengan genggamannya. Jodha tersenyum tipis.
"Sebaiknya kamu tidur,nanti kalau sudah sampai rumah sakit,akan kubangunkan"
"Tapi bagaimana denganmu,kau pasti mengantuk" Jodha kuatir tapi dia memang merasa ngantuk.
"Tidak apa2. Nanti aku akan beli kopi supaya tidak mengantuk. Tidurlah" Jalal melepaskan tangannya lalu mengusap rambut Jodha lembut.
Jodha mengangguk dan merebahkan kepalanya disandaran kursi. Jalal kembali menyetir sambil menyalakan radio dengan suara lirih untuk menemaninya mengemudi.
Ketika melewati supermarket,Jalal berhenti dan mampir sebentar untuk membeli kopi kalengan. Setelah membelinya,Jalal kembali ke mobil. Saat dia meletakkan kopinya di dashboard,Jalal memandang Jodha yg sedang tertidur.
"Kau cantik sekali bila sedang tertidur Jodha. Seperti malaikat. Tapi bila sedang bangun,kau seperti petasan. Jutek dan cerewet. Tapi aku suka" Jalal terkekeh dengan ucapannya sendiri. Jalal kembali menyalakan mobilnya dan meluncur membelah kota jakarta di malam hari.
¤¤¤
Setelah menempuh perjalanan kira2 2,5 jam. Mereka telah tiba di sebuah rumah sakit di bandung. Karena masih dini hari,rumah sakit terlihat tidak terlalu ramai. Jalal menggeliatkan badannya untuk merenggangkan ototnya yg lelah setelah mengemudi. Menggerakkan tangan dan juga kepalanya ke kanan dan kekiri. Jalal kemudian membangunkan Jodha dengan menggoyangkan bahunya.
"Jodha..."
"Hmm" jawab Jodha.
"Kita sudah sampai"
Jodha mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit. Setelah membuka matanya,Jodha menguap sambil merentangkan tangannya.
Jodha lalu melihat Jalal "kamu gak tidur?"
"Enggak"
"Kamu kuat ya nyetir malam" Jodha lalu melihat ke arah sebuah kaleng kopi.
"Aku kan minum kopi. Lagipula setelah kita menikah,aku juga kuat kok begadang semalaman sama kamu" goda Jalal sambil menaikkan turunkan alisnya.
Jodha membelalakkan matanya mendengar ucapan Jalal "iiishhh...dasar omes!" Jodha memukul lengan Jalal karena Jalal sudah mulai kembali ke sifat jahilnya. Sejujurnya Jodha kangen dengan godaan Jalal.
"Tapi kamu suka kan..."
"Udah Jalal,jangan bercanda terus. Ayo kita masuk kedalam"
"Eh..tunggu" Jalal menghentikan Jodha saat akan keluar dari mobil.
"Apalagi?" Jawab Jodha kesal.
"Sebelum masuk kedalam,coba kamu bersihin dulu air liur yg ada dipipimu" Jalal menunjuk pipi Jodha.
Jodha panik karena malu lalu bercermin ke spion yg ada diatas, "Mana? Gak ada apa2 juga"
Jalal terkekeh dan Jodha baru sadar kalau Jalal menggodanya sekali lagi "Jalaall! Kau ini!" Jodha mencubit pinggang Jalal.
"Aaw..sakit Jo" Jalal mengaduh kesakitan.
"Biarin. Salah sendiri suka sekali menggodaku" Jodha langsung keluar dari mobil,tak peduli dengan tawa Jalal yg meledak.
°
Begitu masuk kerumah sakit,Jodha dan Jalal langsung bergegas menuju ke kamar inap setelah diberitahu oleh Meena tempatnya. Begitu sampai di kamar,Jodha melihat Daniyal duduk di kursi tinggu depan kamar inap ayahnya. Daniyal langsung berdiri menyambut Jodha dan mereka berpelukan.
"Bagaimana keadaan papa?"
"Papa sudah mendingan kak. Tadi habis dirawat di UGD terus langsung dipindah kesini. Sekarang papa masih tidur setelah diperiksa" ucap Daniyal dan heran dengan kehadiran Jalal.
Jodha yg melihat Daniyal heran,mulai mengenalkan Jalal padanya "Dani,ini Jalal. Dan Jalal,ini adikku Daniyal"
"Daniyal"
"Jalal"
Mereka mengenalkan diri mereka masing2. Daniyal memandang Jalal penuh selidik namun Jalal terlihat santai. Kemudian mereka bertiga masuk kedalam. Di dalam kamar ada Meena yg duduk disamping ranjang Bharmal sambil tangannya menggenggam tangan suaminya.
"Mama" panggil Jodha.
Meena menoleh dan beranjak dari duduknya begitu tau Jodha sudah datang. Jodha memeluk mamanya dan menangis.
"Sudah Jodha,jangan menangis. Papamu sudah tidak apa2" Meena mengelus punggung putri yg sangat disayanginya itu, "kamu kesini sendiri?" Tanya Meena.
Jodha menggeleng. Meena melihat Jalal berdiri dibelakang Jodha dan disamping Daniyal, "Dia siapa Jodha?" Meena melepaskan pelukannya dan Jodha mengusap airmatanya.
"Dia Jalal,ma. Dia yg mengantarku kesini"
Jalal mengulurkan tangannya "saya Jalal,tante"
Meena membalas uluran tangan Jalal "jadi,kamu Jalal yang..." Meena tidak melanjutkan kata2nya,dia malah melirik Jodha.
"Saya pacar Jodha,tante" ucap Jalal mantap.
Meena mengangguk "tapi sepertinya aku merasa pernah melihat wajahmu. Tapi dimana ya?" Meena mencoba mengingat.
"Banyak yg bilang kalau wajah saya mirip aktor india Rajat tokas,tante" Jalal tersenyum percaya diri.
"Ya...bisa jadi" jawab Meena ikut tersenyum. Jodha memutar bola matanya mendengar ucapan Jalal.
Jodha menghampiri papanya dan duduk disebelahnya sambil memegang tangan papanya yg dipenuhi selang infus "papa,Jodha ada disini. Papa buka matanya dong. Cepat sembuh ya pa. Aku kangen papa"
Jalal yg melihat Jodha ikut merasakan sedih dengan keadaan Bharmal. Wajah Bharmal terlihat pucat.
cucoq banget pasangan ini, yang satu malaikat jualan petasan, yang satu dompleng nama beken Rajat Tokas...he he he
BalasHapusHahaha...ada2 aja julukannya
BalasHapus