Maaf sebelumnya,saya cuma mau mengingatkan,kalau coment tolong yg sopan.meskipun cuma koment lanjut tapi dgn bahasa yg baik saya juga gk masalah. Tapi klau komentnya cuma "lanjut" dgn bhs terkesan memaksa itu yg buat saya bikin malas nulis ff. Jadi tolong hargai kerja saya. Terima kasih.
# JANGAN TAKUT JATUH CINTA #
Part 18
₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪
“Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak, bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka, bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merasa rindu dan cemburu”
-----------------#####----------------
"Jawab aku Jodha!!!" Jalal berteriak didepan wajah Jodha hingga membuat Jodha tersentak kaget. Jodha merasakan matanya memanas dan sebentar lagi air mata pasti akan jatuh. Jantung Jodha berdetak kencang saking kagetnya.
Karena Jodha hanya diam,Jalal menyimpulkan kalau pertanyaannya memang benar. Hatinya terluka melihat Jodha hanya diam dan lebih membela Surya. Jodha tidak menjawab karena takut dengan kemarahan Jalal. Dengan hati terluka Jalal pergi dari hadapan Jodha. Jodha hanya diam terpaku dengan air mata yg mulai merembes di pipinya. Ruqaya yg melihat Jalal pergi langsung mengejarnya. Ruqaya memanggil-manggil nama Jalal namun Jalal bahkan tidak menoleh padanya. Ruqaya tidak bisa menyamakan langkahnya dengan Jalal karena Jalal begitu cepat berjalan. Jalal.masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya dengan cepat.
Ruqaya terlambat menyusul Jalal. Nafasnya sampai ngos-ngosan. Akhirnya dia kembali kedalam dan melihat keadaan Jodha. Lidia membantu Surya berdiri dan mendudukkannya disofa. Ruqaya masuk kedalam lalu ke dapur untuk mengambil handuk dan baskom untuk mengompres luka lebam di wajah Surya. Setelah mengambilnya,Ruqaya memberikannya ke Lidia. Sesangkan Jodha terduduk di sofa dengan menangis menutup wajahnya. Ruqaya menghampiri Jodha dan merangkul bahunya.
"Sudah Jodha,jangan menangis. Kita bisa menjelaskannya ke Jalal"
"Aku...aku tidak pernah melihat Jalal marah seperti itu. Aku takut melihat amarah Jalal" ucap Jodha sambil menangis.
"Maafkan aku Jodha bila membuat kau dan Jalal jadi bertengkar. Aku memang pantas mendapatkannya. Bahkan lukaku ini tak sebanding dengan luka hati yg kuberikan padamu..ssshhh" ujar Surya sambil meringis kesakitan.
"Tolong maafkan Jalal,Sur. Dia sedang emosi" sahut Jodha sambil menghapus air matanya.
"Tidak apa2 Jodha. Sebelum ini aku juga mendapatkan pukulan dari adikmu"
"Apa? Daniyal memukulmu?"
"Iya. Saat aku kerumahmu,Dani juga langsung menghajarku persis seperti yg Jalal lakukan"
Jodha dan Ruqaya yg mendengar ucapan Surya jadi terenyuh mendengarnya. Bahkan Surya sudah mendapatkan hukumannya sebelum Jodha memaafkannya. Jodha jadi merasa kasihan pada Surya.
"Kami akan menemui Jalal untuk menjelaskan yg sebenarnya Jodha" ucap Lidia.
"Tidak perlu. Biar aku saja yg menjelaskan padanya. Nanti kalau kalian yg menjelaskan,bisa2 Surya malah masuk rumah sakit" Jodha bercanda untuk mencairkan suasana. Ruqaya,Lidia dan Surya tertawa mendengar candaan Jodha.
"Hufffttt...sepertinya aku harus menjinakkan Mr modus" gumam Jodha lirih.
(Lha...memangnya luwak neng,harus dijinakkan...hahaha)
¤¤¤
Jalal mengemudikan mobilnya dengan kencang. Untung saja jalanan tidak begitu ramai. Jalal memukulkan tangannya ke setir untuk sekedar melampiaskan amarahnya, "b******k!!! Kenapa bajingan itu harus kembali lagi. Apa dia ingin kembali ke Jodha. Aaarrrgghhhh!!!!"
Jalal mengemudi tak tau arah. Hingga tak terasa mobilnya sampai disebuah bukit. Jalal menghentikan mobilnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia mengehembuskan nafasnya lalu membuka matanya dan keluar dari mobil untuk melihat pemandangan kota di malam hari. Jalal duduk di kap mobil dengan memandang keindahan alam didepannya.
Entah kenapa dia begitu cemburu melihat Jodha dengan Surya. Rasa cemburu dan takut kehilangan jadi satu sehingga membuat amarahnya meledak. Dia belum pernah seperti ini sebelumnya dengan wanita lain. Hanya Jodha ygbisa membuatnya seperti orang gila.
Jalal tidak tau sudah berapa lama dia duduk terdiam. Lambat laun dia mendengar bunyi ponsel didalam mobilnya. Jalal turun dari kap mobil lalu masuk kedalam untuk mengangkat telepon. Di layar ponselnya tertera nama Kak Ryan calling...
"Ya kak"
"Kamu dimana? Kok belum pulang dari rumah Jodha?" Tanya Ryan kuatir.
"Ehm...tadi aku sedikit urusan. Bentar lagi aku juga pulang kok"
"Ya udah buruan pulang. Mama nanyain kamu terus. Mama takut ada apa2 sama kamu"
"Iya kak. Aku pu..."
Belum Jalal selesai bicara,ponselnya mati. Ternyata ponselnya low batt karena sedari tadi Ryan meneleponnya tapi tidak diangkat. Akhirnya Jalal pulang kerumah dan berharap malam ini dia bisa tidur sehingga esok hari pikirannya bisa lebih fresh.
₪₪₪
* Keesokan hari...
Jodha dari semalam terus menelepon Jalal tapi tidak diangkat sama sekali oleh Jalal. Beberapa kali dia menelepon dan yg terakhir operator mengatakan ponselnya sedang tidak aktif. Jodha mulai kuatir dengan keadaan Jalal.
"Apakah dia baik2 saja?" Batin Jodha.
Dan pagi ini dia akan kembali menelepon Jalal. Dari mulai berangkat kerja hingga sampai dikantor,Jalal tetap tidak mengangkat teleponnya. Akhirnya Jodha berinisiatif untuk menemuinya makan siang nanti. Sebenarnya Jodha ingin bertanya ke Ryan tapi Ryan sedang tidak ada di kantor.
Waktu makan siang tiba,Jodha pergi ke Azza hotel untuk menemui Jalal. Saat tiba diruangannya,Jodha disambut oleh asisten Jalal.
"Selamat siang nona Jodha"
"Selamat siang. Maaf, apa pak Jalalnya ada?"
"Sejak pagi pak Jalal meeting diluar bersama klien pak Humayun dari Malaysia."
"Ooh...begitu. baiklah,terima kasih pak. Selamat siang"
"Sama2 nona Jodha. Selamat siang"
Jodha kembali melangkah dengan gontai. Jalal bahkan tidak memberitahunya jika sedang ada meeting dengan klien. Biasanya Jalal selalu memberitahu apapun bila dia tidak bisa makan siang. Sebegitu marahkah Jalal padanya?
Jodha makan siang hanya dengan secangkir moccacino dan burger. Dia tidak begitu nafsu makan. Jalal telah membuatnya gelisah sekaligus kuatir. Seperti ada ruang kosong dalam hatinya saat Jalal mencoba tidak berada didekatnya. Jodha merindukan saat Jalal menggodanya,menjahilinya,mengucapkan kata cinta.
Haaahhh....Dia benar2 merindukan Mr.Modus. Apa begini rasanya dijauhi oleh orang yg kaucintai. Eh....CINTA!!!
"Benarkah aku mulai mencintai Jalal?"
Semakin lama dipikirkan membuat kepalanya semakin pusing.
៛៛៛៛
Sore hari setelah pulang kerja,Jodha mampir kerumah Jalal. Hamidah menyambutnya dengan gembira. Dirumah hanya ada Hamidah karena Aisha dan Shia sedang keluar bersama Ryan. Hamidah bilang kalau Jalal sedang ada urusan dengan klien Humayun dari Malaysia. Humayun memang menyuruh Jalal untuk menemuinya kliennya.
Hamidah merasa ada sesuatu antara Jodha dan Jalal. Hamidah bertanya tapi Jodha bilang kalau dia dan Jalal baik2 saja. Jodha tidak ingin membuat Hamidah kuatir. Setelah menunggu satu jam,akhirnya Jodha pamit pulang.
"Kenapa buru2? Apa tidak menunggu Jalal pulang"
"Maaf ma,saya harus pulang. Biar besok saja saya menemui Jalal"
"Ya sudah kalau begitu. Hati2 ya dijalan" Hamidah mengecup kening Jodha.
"Iya ma. Terima kasih" Jodha mencium tangan Hamidah lalu meninggalkan rumah Jalal.
₹₹₹
* Malam harinya...
Ryan dan Aisha sedang duduk santai di kursi kayu dekat kolam renang. Shia sudah tidur di kamarnya. Dan kini waktu untuk mereka bisa berduaan. Ryan mengelus-ngelus perut Aisha. Karena suasana yg hening dan damai membuat hasrat Ryan tiba2 keluar saat melihat Aisha. Ryan mendekatkan kepalanya dan mulai mencium Aisha.
Saat mereka asyik berciuman,tiba2 Jalal keluar dari dalam rumah menuju kearah mereka. Jalal yg menyaksikan adegan itu langsung membelalakkan matanya dan berkata "Astaga!!!"
Jalal menggelengkan kepalanya melihat dua orang kakaknya ini. Jalal lalu berdehem "ehem..."
Ryan dan Aisha langsung melepaskan ciuman mereka dan salah tingkah di depan Jalal. Seperti remaja yg sedang kepergok berpacaran.
"Iisshh...kakak nih. Ciuman gak kenal tempat. Bagaimana kalau Shia yg melihat" ucap Jalal lalu duduk di depan Ryan.
"Kau ini. Ganggu orang lagi romantisan aja. Lagian Shia udah tidur jadi gak bakal tau" ucap Ryan santai sambil melirik ke Aisha. Aisha wajahnya memerah karena ketauan ciuman, "aku kedalam dulu ya mas. Duluan Jalal" Aisha pamit lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan adik kakak itu. Dia tidak mau lama2 disini. Karena Jalal pasti akan menggodanya. Ryan mengangguk.
"Hahaha..lihatlah wajah kak Aisha. Sampai merah begitu" ucap Jalal terkekeh.
"Jangan sok kamu. Nanti kamu juga bakal ngelakuin seperti tadi" cibir Ryan. Jalal langsung merubah wajahnya menjadi sedih.
"Kamu kenapa? Kok wajahmu kusut gitu kayak belum disetrika"
"Aku bertengkar dengan Jodha"
"Kenapa?"
"Aku kemarin melihatnya bersama dengan mantannya"
"Mantannya? Kamu cemburu?"
"Ya iyalah kak. Aku langsung memukulnya begitu tau dia mantan Jodha"
"Kau sudah gila Jalal! Lalu apa yg terjadi?" Ryan yg semula bersandar di kursi langsung duduk tegap.
"Aku marah pada Jodha. Kenapa dia masih mau menemuinya mantannya. Setelah itu aku langsung pergi"
"Kau langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasan Jodha?" Jalal mengangguk.
"Kau itu bodoh Jalal. Tanpa tau permasalahannya kamu main pukul aja terus pergi begitu saja. Pantas saja Jodha tadi siang mencarimu. Apa kau kemarin pulang larut malam gara2 kejadian itu?"
"Iya kak. Aku menangkan diriku. Aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku pada Jodha. Maka dari itu aku butuh menyendiri. Aku hanya takut bila Jodha masih mencintai pria itu dan pergi meninggalkanku. Aku takut kehilangan dia kak" Jalal menunduk.
"Kalau kau memang takut kehilangan dia,jangan biarkan pria itu merebut Jodha darimu. Dan dengarkan dulu penjelasan Jodha" Ryan menepuk pundak Jalal, "pergilah padanya. Bicarakan masalah kalian secara baik2.Jangan sampai kau menyesal nantinya..hm"
Jalal mendongakkan kepalanya.Dia merasa seperti punya semangat baru.Ya,Ryan memang kakak yg terbaik baginya.
berantem antara Joja jangan panjang2 teh Sari, bagian modusnya aja yang panjang...
BalasHapusHehehe....tenang aja...setelah ini tinggal part2 yg penuh kemodusan dan kejahilan uncle jalal
BalasHapus