�� JANGAN TAKUT JATUH CINTA ��
Part 21
����������������������⛪⛲����
Jodha dan Jalal sarapan nasi padang bersama2.Mereka dan Bharmal senyum2 melihat mereka berdua.Bharmal merasa bahagia karena Jodha sudah bertemu pria yg mencintainya.
"Jalal, kamu gak balik ke jakarta?" Tanya Jodha disela makannya.
"Memang kenapa?Kau mengusirku?"
"ck..bukan begitu.Kamu kan harus kerja" Jodha berdecak.
"Aku kan seorang CEO,jadi terserah aku mau cuti kerja atau enggak"
"Iisshh...kau ini.Aku gak mau kamu gak kerja gara2 aku.Lagian meskipun kamu seorang CEO bukan berarti kamu bisa sembarangan"
"Iya sayang,aku ngerti.Aku cuti kan juga karena jenguk calon mertua"
"kau selalu saja cari alasan"Jodha mencebikkan bibirnya.Bharmal,Meena dan Daniyal tertawa melihat mereka ribut seperti anak kecil.
"Pa,aku berangkat ke kantor dulu. Tapi sebelum ke kantor,aku pulang kerumah,mengambil beberapa file" ucap Daniyal pada Bharmal.
Jodha yg mendengar ucapan Daniyal langsung menyahut "Dani,aku ikut pulang kerumah. Ada barang yg ingin kuambil" Daniyal mengangguk, "Jalal,kamu gak pa-pa kan aku tinggal sebentar"
"Iya gak pa-pa. Asal jangan tinggalkan aku selamanya" ucap Jalal tanpa rasa malu didepan keluarga Jodha. Jodha membelalakkan matanya sedangkan Meena,Bharmal dan Daniyal hanya tersenyum menanggapi.
Selesai makan,Jodha dan Daniyal pamit pulang sedangkan Jalal permisi keluar kamar untuk menelepon keluarganya.
©©
"Kak,apa kakak sudah tahu kalau Surya datang kerumah kita?" tanya Daniyal. Kini mereka ada didalam mobil menuju kerumah.
"Iya aku tau. Surya juga datang padaku dan meminta maaf. Dia bilang juga minta maaf ke papa & mama dan dia bilang kalau kau memukulinya"
"Haha..ya,aku memukulnya. Dia pantas mendapatkannya setelah apa yg dia lakukan padamu kak. Apa kau sudah memaafkannya kak?"
"Aku memaafkannya Dani. Tidak baik menyimpan dendam. Hal itu hanya akan membuat hati kita kotor. Oh iya Dani,Surya bukan hanya mendapat pukulan darimu tapi Jalal juga memukulnya" Jodha mengatakannya sambil mengingat kejadian itu,sungguh mengerikan bila Jalal sedang marah.
"Benarkah!" Dani tersenyum, "wah..berarti kak Jalal cocok nih denganku. Dan waktu pertama aku bertemu dengannya,aku tau kalau dia seorang pria yg baik buat kakak dan bisa menjaga kakak" ujar Daniyal serius.
"Tapi mengapa kamu pertama melihatnya dengan tatapan menyelidik begitu"
"Haha..aku cuma ingin menguji kak Jalal saja. Aku boleh tanya sesuatu kak?"
"Apa?"
"Apa kakak mencintai kak Jalal?"
Jodha menoleh ke Daniyal "eh...itu...aku" jawab Jodha terbata-bata sambil wajahnya memerah malu. Daniyal yg melihat kakaknya salah tingkah hanya tersenyum "ya ampun kak! Tinggal bilang IYA saja susah amat sih" goda Daniyal.
"Iih...kau ini" Jodha memukul lengan Daniyal.
"Kakak tidak perlu meragukan cinta kak Jalal ke kakak. Meskipun aku baru bertemu dengannya. Aku tau kalau dia sangat mencintaimu kak" Daniyal mencoba meyakinkan kakaknya.
"Sok tau kamu!" Jodha pura2 sinis untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Sudah saatnya kakak membuka hati untuknya. Dia itu pria yg humoris juga. Aku yakin dia bisa membuat kakak melupakan trauma yg kakak takuti. Percaya deh sama aku" Daniyal memegang tangan Jodha untuk meyakinkannya.
Jodha tersenyum "terima kasih Dani. Aku bersyukur punya adik yg bijak seperti kamu. Kamu jadi seperti kakak buatku" Jodha balas menggenggam tangan Daniyal.
"Itulah gunanya adik laki2 kak,bisa merangkap menjadi kakak dan adik buat kakak perempuannya. Karena aku juga bertugas buat menjaga kakakku yg paling cantik ini"
Mereka tertawa bersama dan tak terasa sudah sampai dirumah karena saking asyiknya ngobrol. Melepaskan kerinduan mereka setelah beberapa bulan tak bertemu.
❄��
* Di rumah sakit.
"Bagaimana kabar ayahnya Jodha!" tanya Hamida di telepon. Jalal sedang berada diruang tunggu ruang inap Bharmal.
"Keadaan beliau sudah membaik ma"
"alhamdulillah..nanti siang mama dan Ryan akan kesana untuk menjenguk ayahnya Jodha. Tolong sampaikan salam mama ya"
"Iya ma" Jalal nenutup teleponnya lalu masuk kedalam.
Didalam ada dokter yg sudah selesai memeriksa Bharmal. Bharmal duduk bersandar di kepala ranjang, "keadaan anda sudah mulai membaik tuan Bharmal. 2 hari lagi anda bisa segera pulang" ucap si dokter.
"Terima kasih dok" ucap Meena.
"Sama2. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh tuan Bharmal dan jaga kesehatan anda setelah pulang dari sini" Bharmal mengangguk dan dokter permisi keluar.
Jalal mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Bharmal, "ehm...om dapat salam dari mama saya dan nanti siang mama akan kesini untuk menjenguk om"
"Salam kembali Jalal.Tidak perlu repot2 mamamu kesini.Om udah baikan"
Jalal tersenyum "Tidak apa-apa om. Tidak merepotkan kok. Sekalian silaturahmi"
"Jalal,boleh om tanya sesuatu padamu"
"Iya om,silahkan"
"Apa kamu tau tentang masa lalu Jodha?"
"Yang saya tau kalau Jodha pernah ditinggal oleh calon suaminya yg bernama Surya. Dan saya juga sudah bertemu dengan dia"
"Kau bertemu Surya?" tanya Meena.
"Iya tante. Saya dan Jodha pernah salah paham karena kehadiran Surya. Tapi sekarang semuanya sudah terselesaikan"
Bharmal menghela nafas berat "apa Jodha tidak pernah cerita tentang acara pernikahannya yg gagal?"
Jalal kaget "apa? Pernikahan gagal? Tidak pernah om"
"Hm..om sudah menduga kalau Jodha pasti tidak akan menceritakannya. Dia tidak ingin aibnya diketahui oleh orang lain" Bharmal tertunduk sedih.
Jalal semakin bingung dengan ucapan Bharmal. Apa maksudnya dengan pernikahan Jodha yg batal? Kenapa Jodha tidak pernah bercerita? Banyak sekali pertanyaan di kepala Jalal. Bharmal yg mengerti kebimbangan Jalal langsung menceritakan semuanya. Dimana Jodha ditinggalkan Surya disaat hari pernikahannya sampai Jodha harus pindah ke Jakarta untuk memulai hidup barunya. Jalal yg mendengar cerita Jodha seketika membuat amarahnya kembali mencuat. Tapi dia mencoba menahannya dengan mengepalkan tangannya. Dia sudah berjanji pada Jodha untuk bisa mengendalikan amarahnya. Apalagi didepan calon mertuanya.
"Om harap kamu bisa bersabar dalam menghadapi Jodha. Jodha pasti menolak kan jika membicarakan tentang pernikahan!" tebak Bharmal ketika melihat Jalal yg tengah berpikir.
"Iya om. Papa dan mama pernah menanyakan tentang kapan kami menikah. Tapi Jodha menjawabnya dengan tidak" ucap Jalal jujur.
"Maafkan Jodha. Dia masih trauma dengan pernikahan. Dia takut bila dia menikah,kejadian itu akan terulang. Om juga tidak ingin bila Jodha masih terpenjara dalam traumanya. Om juga ingin dia segera menikah dengan orang yg dia cintai dan mencintainya. Om sakit juga karena terlalu memikirkan Jodha. Sampai kapan dia terus seperti ini.." mata Bharmal berkaca-kaca dan Meena memegang tangan Bharmal untuk memberinya dukungan.
Jalal ikut terenyuh mendengar keinginan Bharmal, "Om tidak perlu kuatir lagi dengan Jodha. Ada saya yg akan menjaganya. Saya berjanji om,saya akan membantu Jodha melupakan traumanya. Saya akan membuatnya bahagia dengan cara saya (termasuk kemodusan akut saya) hingga dia akan lupa dengan semua kesedihannya karena saya sangat mencintai Jodha"
"Om percaya padamu Jalal. Om percaya kalau kamu begitu mencintainya dari cara kamu memandangnya dan memperlakukannya. Om sekarang bisa bernafas lega dan melepasnya untukmu"
"Terima kasih om atas kepercayaannya. Saya tidak akan mengecewakan om dan tante" Jalal tersenyum lega karena sudah mendapat restu dari camernya. Kini tinggal menaklukkan si jutek...hahaha.
Tanpa mereka sadari,ada seseorang yg mendengar pembicaraan mereka lalu pergi dari ruangan itu dengan berurai air mata.
^^
Beberapa sanak keluarga Bharmal dan Meena menjenguk Bharmal. Jodha juga ada disana setelah kembali dari rumah dan tadi bertemu dengan sepupunya di rumah sakit lalu mereka bersama-sama menuju ruangan Bharmal.
Jalal diperkenalkan pada sepupu dan juga paman bibi Jodha.Mereka semua senang dengan sosok Jalal karena dia pria yg supel,humoris,mudah bergaul,modus dan juga tentu saja sangat tampan.Bahkan sepupu perempuan Jodha begitu memuja Jalal.Jodha hanya menanggapi dengan datar.Entah mengapa Jalal merasa ada yg berbeda setelah Jodha pulang dari rumahnya. Jodha lebih banyak diam meskipun Jalal sudah menggodanya.Jalal makin bertanya-tanya karena sikap Jodha yg berubah sinis padanya.
"Ehm..maaf semuanya.Saya ingin bicara berdua dengan Jodha sebentar" Jalal melirik ke Jodha tapi Jodha pura2 tak perduli.
"Iya Jalal. Silahkan" ucap Meena.
"Ciee...cieee...yg mau berduaan" goda Rahma,sepupu Jodha menggodanya.
Semua orang tersenyum mendengar godaan Rahma termasuk Jalal sedangkan Jodha hanya tersenyum tipis. Jodha dan Jalal keluar ruangan dan Jalal mengajak Jodha ke sebuah taman yg letaknya tak begitu jauh dari kamar Bharmal. Mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang yg ada di taman itu.
"Kau kenapa Jodha?"
"Aku? Aku tidak apa-apa" jawab Jodha menatap lurus kedepan, dia tidak mau melihat wajah Jalal.
"Lihat aku Jodha!" Jalal memegang dagu Jodha dan mengarahkan ke arahnya, "apa kau marah padaku?" tanya Jalal dengan lembut.
"Tidak"
"Lalu kenapa kamu berubah sinis padaku?"
"Apa kau mencintaiku karena kasihan?" tanya Jodha.
"Apa maksudmu Jodha"
"Setelah kau mendengar semuanya tentang diriku,apa kau masih bisa mencintaiku atas dasar cinta,bukan kasihan" Jodha menatap Jalal tajam.
"Kau ini bicara omong kosong apa Jodha! Aku mencintaimu bukan karena kasihan tapi tulus dari hatiku. Walau aku sudah mendengar cerita tentangmu,itu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa cintaku padamu. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"
"Aku...aku tidak ingin dikasihani Jalal. Aku tidak ingin kau berjanji pada papaku karena keadaanku. Aku...."
"Cukup Jodha" Jalal menutup mulut Jodha dengan jari telunjuknya, "apa aku harus membuktikan rasa cintaku padamu Jo!" Jodha hanya diam,"Baik.Kalau itu maumu. Aku akan membuktikannya" Jalal berdiri dan lalu berjalan ke tengah taman. Dia berdiri ditempat lalu berbalik ke arah Jodha yg masih duduk di kursi, "Aku akan berteriak disini dan mengatakan pada semua orang kalau aku mencintaimu"
gawat!! Jalal modusnya udah tingkat Dewa...
BalasHapus