JANGAN TAKUT JATUH CINTA
Part 20
⛪⛲
Jodha terus memanggil papanya. Jalal merasa sedih melihat Jodha menangis. Mereka memegang bahu Jodha untuk menenangkannya. Daniyal yg berada disamping Jalal menepuk bahunya "Kak,bisa kita bicara"
Jalal menoleh lalu mengangguk. Daniyal mengajak Jalal duduk di sofa yg berada di depan ranjang Bharmal.
"Ada apa Dani?"
"Apa kakak mencintai kak Jodha?" Tanya Daniyal dengan wajah serius.
"Tentu saja aku mencintainya. Sangat mencintainya" ucap Jalal mantap.
"Aku harap kakak jangan pernah menyakiti hatinya. Aku tidak ingin melihat kak Jodha terpuruk lagi"
"Aku janji padamu Dani. Aku tidak akan pernah membuatnya menangis. Aku akan membahagiakannya."
"Aku percaya padamu kak. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaannya."
"Terima kasih kau sudah percaya padaku. Aku mengerti kalau kau sangat menyayangi Jodha dan tak ingin melihatnya sedih" Jalal menepuk punggung Daniyal. Daniyal tersenyum padanya.
Daniyal berdiri dari duduknya lalu menghampiri mamanya "Ma,lebih baik mama dan kak Jodha pulang untuk istirahat. Biar Dani yg menjaga papa"
"Tidak Dani,aku mau disini menjaga papa. Biar kamu sama mama yg pulang" tolak Jodha.
"Tidak,biar kamu,Dani dan Jalal saja yg pulang. Mama mau menunggu papa" jawab mamanya tak mau kalah.
Karena saling berebut menjaga Bharmal,akhirnya Jalal berdiri dan ikut angkat bicara "Biar saya dan Jodha yg menjaga Om Bharmal tante. Lebih baik tante dan Dani pulang. Pasti kalian capek karena sedari tadi menjaga om"
Jodha menyetujui usul Jalal "iya ma,benar apa kata Jalal. Sekarang gantian aku dan Jalal yg menjaga papa. Besok pagi mama dan Dani bisa kesini. Biar mama istirahat. Jodha gak mau kalau mama ikutan sakit nanti" Jodha mencoba membujuk mamanya.
Mereka saling berpandangan dengan Dani "baiklah,mama dan pulang dulu. Kalau ada apa2 telpon mama ya"
Jodha mengangguk. Meena mengambil tasnya dan berpamitan pada Jodha & Jalal. Jodha kembali duduk disamping papanya. Dia melihat ke Jalal "Jalal,lebih baik kamu tidur saja. Kamu kan belum istirahat dari tadi. Biar aku menjaga papa"
"Aku akan temani kamu sayang" jawab Jalal sambil tersenyum.
"Ck...kau ini keras kepala sekali. Lihatlah wajahmu lelah seperti itu"
"Aku akan tidur kalau kamu menyanyikan lagu dan aku tidur pangkuanku" Jalal tersenyum menyeringai.
Jodha membelalakkan matanya mendengar ucapan Jalal "Kau ini seperti anak kecil saja pakai dinyanyikan lagu segala" Jodha mencibir.
"Terserah aku dong. Kalau kamu gak mau nyanyi,aku juga gak mau tidur"
Hhhh...Jodha mendesah berat. Susah memang kalau berhadapan dengan bayi besar. Belum menikah saja sudah manja begini,apalagi sudah menikah. Jodha akan menjadi ibu bayi besar sebelum waktunya...hahaha
"Eh...kenapa aku jadi mikir sampai ke pernikahan" batin Jodha.
Akhirnya Jodha menuruti Jalal. Bukan karena kalah dengan sikap keras kepala Jalal tapi karena kasihan saja dengan Jalal yg terlihat lelah belum tidur sama sekali. Jalal menggandeng tangan Jodha dan menyuruhnya duduk di sofa depan ranjang Bharmal agar Jodha bisa mengawasi Bharmal bila sadar nanti. Jalal lalu tidur telentang dan menaruh kepalanya di pangkuan Jodha. Jodha sedikit canggung dengan posisi mereka sekarang ini tapi dia berusaha agar tidak terlihat gugup. Tangan kanan Jodha membelai rambut Jalal,tangan kiri Jodha digenggam oleh kedua tangan Jalal dan diletakkan di dadanya.
"Jodha"
"Hmmm..." Jodha menjawab tapi pandangannya ke Bharmal.
"Aku minta maaf soal kemarin" wajah Jalal terlihat sendu.
Jodha menunduk melihat Jalal "Kamu kenapa gak dengerin penjelasan aku dulu. Main pergi aja" jawab Jodha.
"Iya,aku benar2 minta maaf sayang. Aku cemburu saat melihatmu bersamanya dan aku takut kamu akan kembali padanya."
"Hahaha...." Jodha tertawa.
Jalal mengerutkan keningnya "kenapa kamu tertawa?"
"Aku tidak mungkin kembali padanya karena dia sudah punya istri"
"Benarkah? Jadi dia sudah menikah" Jalal tersenyum, dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Iya. Wanita yg kemarin memangku kepala Surya sehabis kau pukuli kan istrinya"
"Oohhh"
"Lagian aku mau jelasin,kamu keburu marah gitu" Jodha mencebikkan bibirnya, "aku maafin kamu tapi janji jangan mengulanginya lagi."
"Hehehe...iya deh aku janji gak bakal marah dan mengulangi lagi" Jalal memegang kedua telinganya, "sekarang nyanyi dong buat pengantar tidurku" rajuk Jalal.
"Ck...mau nyanyi apa?"
"Terserah.pokoknya jangan lagu doyang gumang. Yg ada nanti aku bukannya tidur tapi malah joget" jawab Jalal asal jeplak.
"Hahaha...kamu tuh aneh. Masak lagu pengantar tidur goyang dumang" Jodha terlihat berpikir sebentar lalu mulai menyanyi.
* Inn aankhon mein tum...
Jab se ho gaye ghoom...
Saara jahaan tera chehara...
Preet ye rang ab to tere sang...
Aur bhi ho gaya gehara... (2x)
Jodha bernyanyi sambil membelai rambut Jalal. Perlahan-lahan Jalal mulai memejamkan matanya,terlena dengan suara merdu Jodha. Akhirnya Jalal tertidur bahkan sangat nyenyak.
"Eeh...sudah tidur! Cepat sekali." Ucap Jodha heran sambil memandang wajah Jalal lekat, "Aku bersyukur ada kau yg menemaniku Jalal disaat aku sedih dan membutuhkan seseorang. Meskipun kau itu Mr.Modus akut tapi kau selalu menghibur dan membuatku nyaman saat di dekatmu. Maafkan aku mungkin saat ini aku belum bisa mengatakan padamu tentang isi hatiku. Tapi suatu hari nanti aku janji bila saatnya tepat,aku akan mengatakan padamu kalau aku mencintaimu JALALUDDIN ALARIC AZZAHIDI" ucap batin Jodha lalu dia menunduk dan mencium kening Jalal. Ini pertama kalinya dia mencium Jalal,secara sembunyi2 lagi. Kalau saja Jalal tau,dia pasti akan melompat jingkrak2 sambil koprol.
Hahaha....Jodha tidak bisa membayangkan bila Jalal benar2 melakukan itu. Jodha tiba2 menguap dan dia ikut mengantuk. Akhirnya Jodha tertidur dengan masih memangku kepala Jalal dan dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
@@@
Beberapa jam kemudian,Jodha terbangun karena,mendengar rintihan seseorang. Jodha terkesiap karena suara rintihan itu adalah suara papanya. Jodha bangun perlahan dan menaruh kepala Jalal di sofa dengan hati2 agar tidak membangunkannya. Jodha bangkit dan menghampiri papanya.
"Papa...papa sudah bangun" Jodha memencet tombol disamping ranjang untuk memanggil dokter.
Bharmal membuka matanya dan berkata lirih "Jo...Jodha"
"Iya pa. Jodha disini. Papa jangan banyak bergerak dulu. Dokter akan segera datang"
Tak berapa lama dokter datang lalu memeriksa Bharmal. Jodha lalu menelepon mama dan adiknya.
"Jalal...Jalal...bangun! ini sudah pagi" Jodha menggoyang bahu Jalal untuk membangunkannya.
Jalal perlahan-lahan membuka matanya dan melihat wajah cantik Jodha "Jodha...hai...selamat pagi. aku lama ya tidurnya" Jalal duduk lalu menggeliatkan badannya.
Jodha terpana melihat wajah bangun tidur Jalal, "Meskipun baru bangun tidur kenapa wajahnya masih terlihat tampan" batin Jodha.
Jodha menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran anehnya pagi ini. Jodha berkata dengan sedikit gugup "I..iya. Kamu tidurnya nyenyak banget. Sekarang sebaiknya kamu mandi. Ini ada baju Daniyal,pakailah untuk mengganti baju mu"
"Bagaimana keadaan papamu?"
"Tadi papa bangun dan keadaannya sudah mulai membaik. Setelah disuntik,papa tidur lagi"
"Alhamdulillah kalau sudah membaik" Jalal menerima baju dari Jodha dan beranjak ke kamar mandi. Tapi sebelum ke kamar mandi,Jalal menyapa Meena yg duduk di kursi samping ranjang Bharmal.
Saat Jalal sudah masuk ke kamar mandi,Meena menggoda Jodha "dia pria yg baik dan sangat mencintaimu Jodha. Ibu bisa melihat itu di matanya. Kau beruntung bisa mendapatkannya."
Jodha hanya tersenyum malu mendengar Meena,menggodanya. Bharmal tiba2 bangun "Meena.."
Meena dan Jodha langsung mendekat ke Bharmal. Mereka berdua senang melihat Bharmal sudah membaik.
**
Jalal selesai mandi lalu keluar dari kamar mandi. Jalal terlihat segar selesai mandi,apalagi dia memakai kemeja warna kuning milik Daniyal. Bharmal,Meena dan Jodha serempak menoleh ke arah Jalal. Bharmal mengerutkan keningnya melihat Jalal yg tiba2 keluar dari kamar mandi.
"Siapa dia?" Bharmal bertanya ke Jodha dan Meena.
"Dia Jalal pa,pacar Jodha" jawab Meena.
"Apa? Pacar?" Bharmal langsung mencoba duduk dari tidurnya. Meena dan Jodha kaget dan langsung membantu Bharmal untuk duduk dan bersandar di ranjang.
Jalal sedikit berlari menghampiri Bharmal untuk ikut membantunya "hati-hati om"
"Iya. Terima kasih. Siapa tadi namamu?" Tanya Bharmal.
"Saya Jalal,om" Jalal mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Bharmal.
"Kok aku sepertinya pernah melihatmu tapi dimana ya?" Bharmal mencoba mengingat.
"Iya pa. Mama juga merasa seperti pernah melihat nak Jalal" sahut Meena.
"Dia adalah JALALUDDIN ALARIC AZZAHIDI pa. Ceo dari Azza Hotel. HOTEL ternama di Jakarta" tiba2 Daniyal menyahut dari arah pintu,Menjawab rasa penasaran Bharmal dan Meena. Semua orang menoleh ke Daniyal. Jalal hanya tersenyum. Niat hati ingin menyembunyikan identitasnya tapi akhirnya terbongkar juga.
"Oohh..jadi kamu Jalal putra dari Humayun Azzahidi yg beberapa waktu lalu muncul di majalah bisnis ya" Bharmal memandang Jalal dengan tatapan kagum.
"Pantas saja mama juga sepertinya tidak asing saat melihat Jalal" Meena ikut mengagumi Jalal.
"Waaahh...papa tidak menyangka kamu bisa berpacaran dengan CEO muda yg sukses Jodha" goda Bharmal ke Jodha.
Jalal tersenyum bangga melirik Jodha. Sedangkan Jodha hanya melongo melihat rasa kekaguman papa dan mamanya ke Jalal dan mencibir ke arah Jalal.
"Huh...bisa besar kepala dia dipuji seperti itu" gumam Jodha.
Setelah itu mereka mulai berbincang-bincang. Jalal senang karena keluarga Jodha menerimanya dengan tangan terbuka. Dia tidak perlu susah payah merebut hati mereka seperti dia menaklukkan Jodha.
"Kak Jalal dan kak Jodha sarapan dulu nih. Aku membawakan nasi padang buat kalian" Daniyal menyela pembicaraan mereka.
"Jodha,kamu sarapan dulu gih sama Jalal. Temani dia makan" ucap Meena.
Jalal dan Jodha mengangguk lalu duduk di sofa dan mulai sarapan bersama.
asyik langsung dapet restu nih dari ortu Jodha...teh Sari, Jalal Alaric, punya saudara kembar kan? mau dong...
BalasHapusGak punya mbk. Saudaranya cuma Ryan aja😃
BalasHapus