CINTA? ATAU BALAS BUDI?
Part 12
☎
"Kakak jangan memanggil dokter"
"Apa!!!"
"Ehm..maksudku biar aku saja yg memanggil dokter. Kak Jodha tunggu disini saja" Sehnaz langsung buru2 keluar dengan tangan yg masih bergetar.
Jodha mengernyitkan dahinya melihat tingkah Sehnaz yg terlihat gugup. Dia kembali ke dekat Shivani.
"Kak.. Aku ada dimana?"
"Kamu jangan banyak bicara dulu ya. Tunggu dokter datang. Nanti kakak ceritakan semuanya" Jodha tersenyum dan dibalas juga oleh Shivani.
Sehnaz berada diruang tamu, dia sedang menelepon dokter pribadi keluarga mereka. Setelah menelepon,Sehnaz berjalan mondar mandir. Tepat pada saat itu Jalal datang.
"Sehnaz, kamu kenapa mondar mandir gitu? Kayak setrikaan aja"
Sehnaz yg mendengar suara Jalal langsung menghampirinya "Kak Jalal, Shivani sudah sadar"
Jalal yg membuka jasnya langsung menghentikan aktivitasnya "Apa? Dia sudah sadar?"
"Iya kak. Bagaimana ini kak kalau Shivani tau dan mengatakan yg sebenarnya. Aku takut kak" Sehnaz memegang lengan Jalal.
"Kamu tenang saja. Ada kakak disini. Apa kamu sudah memanggil dokter?"
"Sudah"
"Ayo kita lihat keadaannya" Setelah Jalal meletakkan tas dan jasnya, mereka berdua menuju ke kamar Shivani.
°
Dokter sedang memeriksa keadaan Shivani. Ada Jodha disebelah Shivani yg setia menemaninya. Sedangkan dibelakang Jodha ada Jalal, Sehnaz dan juga Hamida.
"Nona Shivani keadaannya sudah membaik hanya saja benturan yg keras dikepalanya membuat ingatannya tidak sepenuhnya mengingat kejadian itu. Dia hanya ingat tentang hal sebelum terjadinya kecelakaan. Saya harap nona Shivani jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat sesuatu. Dia harus banyak beristirahat untuk memulihkan tenaganya yg tidak bergerak sama sekali selama 2 bulan" Dokter menjelaskan panjang lebar tentang keadaan Shivani dan Jodha mengangguk mengerti.
"Karena alat2 penunjangnya sudah dilepas, nona Shivani sudah bisa mulai makan makanannya. Saya akan memberinya obat dan juga vitamin untuk memulihkan staminanya" Dokter menulis resep untuk ditebus.
"Terima kasih dok" ucap Jodha dan si dokter mengangguk dan mengucapkan permisi meninggalkan ruangan setelah memeriksa Shivani.
Sehnaz sedari tadi hanya diam dengan wajah gugup dan tangannya berpegangan pada lengan Jalal. Sedangkan Hamidah juga hanya diam dan melihat.
"Kak..mereka siapa?" Shivani yg sedari tadi penasaran dengan ketiga orang yg berada di belakang Jodha akhirnya bertanya.
"Itu tante Hamida, Sehnaz dan juga Jalal. Merekalah yg membantu kita selama kamu dirawat Vani. Kita banyak berutang budi pada mereka" Jodha memperkenalkan mereka bertiga.
"Terima kasih atas bantuan kalian" Ucap Shivani sambil tersenyum.
Sehnaz maju kedekat Shivani. Melihat Shivani yg begitu ramah padanya, ketakutan Sehnaz berkurang "Kau jangan berterima kasih Shivani. Kau temanku jadi sudah kewajibanku menolongmu"
"Jalal,mama ingin bicara denganmu" Hamidah tiba2 saja bicara lalu pergi meninggalkan kamar itu.
"Aku keluar dulu dan Shivani kau harus makan yg banyak supaya cepat sembuh" ucap Jalal. Shivani mengangguk, setelah berpamitan dengan ketiganya Jalal keluar dari kamar dan mengikuti mamanya.
"Vani, apa kamu tidak ingat dengan Sehnaz? Dia temanmu satu kampus" tanya Jodha dan dibalas gelengan kepala oleh Shivani. Sehnaz menelan ludahnya susah payah, dia takut Shivani mengenalinya waktu dia menabraknya.
"Ya sudah tidak apa2. Sekarang kamu makan setelah itu minum obat lalu istirahat lagi ya" Shivani mengangguk. Sebenarnya dia ingin bertanya banyak hal selama dia koma. Tapi biarlah nantinsaja kalau keadaannya sudah membaik.
¥
"Mama kan sudah pernah bilang, kalau gadis itu sudah sadar, dia harus segera keluar dari rumah ini" Kini Hamidah dan Jalal sedang berbicara diruang kerja Jalal yg ada disebelah kamarnya.
"Ma, dia baru saja sadar. Tidak mungkin kita mengusirnya begitu saja. Lagipula kenapa kita tidak biarkan saja mereka tinggal dirumah ini"
Hamidah mengernyitkan dahinya "Kamu kenapa selalu membela mereka. Mama jadi curiga padamu. Jangan2 kamu suka dengan Jodha?"
"Tidak mungkin ma. Aku membantu mereka karena kemanusiaan,tidak lebih dari itu" Jalal mengelak lagi dengan perasaannya.
"Tapi mama merasa sikapmu sedikit berbeda padanya. Kalau kau memang tidak punya perasaan apapun padanya, seharusnya kamu biarkan saja dia pergi dari sini. Toh rasa tanggung jawabmu sudah selesai dengan sadarnya Shivani"
Jalal mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kekerashatian mamanya "Percuma bicara sama mama" Dengan rasa amarah yg ditahan, Jalal keluar dari ruang kerjanya. Kepalanya akan semakin pusing bila terus mendengar ocehan mamanya.
"Jangan kamu kira mama tidak tau dengan perasaanmu yg sebenarnya Jalal. Mama wanita yg melahirkanmu. Meskipun kau menyangkalnya sekeras apapun, tapi hatimu sudah kauberikan padanya tanpa kau sadari" gumam Hamidah melihat Jalal yg keluar dari ruangan ini dengan wajah sendu.
Hari demi hari keadaan Shivani semakin membaik. Meskipun dia masih menggunakan kursi roda, tak menyurutkan niatnya untuk segera sembuh. Tiap hari Shivani menjalani terapi untuk menggerakkan anggota badannya yg kaku. Jodha dan Sehnaz bergantian menemani Shivani. Sehnaz dan Shivani pun menjadi akrab sekarang. Perlahan-lahan Jodha menceritakan tentang kecelakaan itu dan juga tentang perusahaannya yg bangkrut juga rumahnya yg disita. Shivani sempat shock dan tubuhnya ngedrop tapi dengan dukungan dari Jodha dan Sehnaz, akhirnya Shivani bisa bangkit kembali dan Shivani berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap semangat demi kakaknya yg sudah banyak berkorban untuknya. Shivani tidak ingat apapun tentang orang yg menabraknya. Hal itu membuat Sehnaz sedikit lega. Meskipun terdengar jahat tapi mau bagaimana lagi, itulah Sehnaz dengan segala sifatnya.
Mengenai hubungan Jalal dan Jodha masih tetap seperti itu. Masing2 dengan egonya.
Di kantor saat makan siang, Ravi bertekad menyatakan cintanya sebelum dia pindah.
"Jodha, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?" Jodha kaget dengan pernyataan cinta Ravi yg menurutnya begitu cepat.
"Kita memang kenal belum lama Jo. Tapi aku menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu"
"Maaf Ravi tapi sepertinya ini terlalu cepat. Kau pria yg baik dan aku menganggapmu sebagai teman baikku" Ravi kecewa dengan jawaban Jodha.
"Aku akan menunggumu Jodha sampai kau siap menerimaku" Ravi menggenggam tangan Jodha.
"Aku tidak tau Ravi. Aku tidak ingin memberi harapan palsu padamu. Aku.."
"Apa kau mencintai pria lain?"
Jodha terkejut dengan ucapan Ravi. Tiba2 wajah Jalal terbayang. Apa benar dia mencintai Jalal. Jodha merasa seperti pungguk yg merindukan bulan. Kebaikan Jalal yg dianggapnya sebagai rasa suka. Ciuman pertamanya yg sudah dicuri oleh Jalal. Jalal yg sudah membuatnya kacau seperti ini. Jodha takut bila dia menerima Ravi, dia hanya menjadikannya sebagai pelarian dari rasa cintanya ke Jalal. Ravi pria yg baik, Jodha tidak ingin menyakiti hati pria baik seperti Ravi.
Karena Jodha hanya diam, Ravi memanggilnya "Jodha"
Jodha kembali sadar dari lamunannya, "Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan selalu menunggumu. Meskipun aku berada jauh darimu, tapi hatiku tetap milikmu Jodha"
Jodha semakin merasa bersalah pada Ravi. Dia dilema dengan perasaannya sendiri. Biarlah waktu yg akan menjawabnya.
Shivani sudah bisa berjalan tanpa menggunakan kursi roda lagi. Selama Jodha dan Sehnaz tidak bisa menemaninya, Romi lah yg menemani Sehnaz. Jalal yg menyuruh Romi untuk mengajak Shivani Jalan2. Dan merekapun menjadi dekat. Karena usia mereka yg tak terpaut jauh, Shivani memanggil Romi dengan namanya saja. Mereka saling bercerita tentang diri mereka masing2.
Kedekatan mereka tak luput dari mata Jodha. Jodha sering sekali menggoda Shivani bila berhubungan dengan Romi.
"Duh yg sekarang dekat sama Romi, senyumnya terus merekah" mereka berdua sedang duduk diteras sambil melihat bintang dimalam hari.
"Iihh.. Kakak nih apaan sih" Shivani wajahnya merona malu.
"Cieee..yang wajahnya merona" Jodha semakin gencar menggoda dan Shivani semakin salah tingkah. Lalu Jodha tiba2 terdiam.
"Kakak kenapa? Kok tiba2 diam aja"
"Karena kamu sudah sembuh, sepertinya kita harus segera pergi dari sini" Jodha merasa risih dengan tatapan Hamidah yg selalu sinis padanya.
"Secepat itukah kak"
"Kita sudah banyak mereporkan mereka. Sebanyak apapun kakak membalas kebaikan mereka, itu tidak akan pernah cukup. Tapi kakak akan bekerja keras untuk membalas hutang budi kakak pada mereka"
"Lalu kita akan pindah kemana kak?"
"Kakak sudah minta tolong pada febby dan dia bersedia membantu mencarikan rumah kontrakan buat kita. Aku akan minta waktu seminggu lagi tinggal disini selama aku dan Febby mencari kontrakan" Shivani diam, dia akan ikut kemanapun kakaknya pergi.
"Ayo Vani ikut kakak menemui Jalal" Jodha menarik tangan Shivani untuk mengikutinya.
"Tapi ini sudah malam kak"
"Lebih cepat lebih baik kan"
Mereka berdua masuk kedalam rumah Jalal. Jodha menanyakan Jalal pada bi Maham dan bi Maham bilang kalau Jalal ada diruang kerjanya. Bi Maham menyarankan agar Jodha menuju keruang kerja Jalal. Setelah mengucapkan terima kasih, Jodha dan Shivani melangkah ke lantai dua.
Saat sudah ada didepan pintu ruang kerja Jalal, Jodha dan Shivani mendengar keributan didalam sana yg terdengar hingga keluar. Di dalam sana ada Sehnaz, Jalal dan juga Hamida. Sehnaz dan Jalal dalam posisi berdiri sedangkan Hamidah duduk di sofa.
Sebenarnya Jodha tidak ingin menguping pembicaraan mereka, tapi mendengar namanya disebut, mau tak mau membuat Jodha penasaran.
"Kak, ayo kita pergi. Tidak baik menguping pembicaraan orang lain"
"Ssssttt..diamlah Vani"
Jodha tak mendengarkan ucapan Shivani. Jodha mendekat kearah pintu yg tidak sepenuhnya tertutup dan dia mendengar sesuatu yg membuatnya shock.
"Cukup Ma!!!! Mama jangan terus menyalahkan kak Jodha dan Shivani. Yg salah disini adalah aku karena akulah yg menabrak Shivani hingga membuatnya koma"
Duuuaarrrrr......
Komentar
Posting Komentar