Langsung ke konten utama

CINTA? ATAU BALAS BUDI? (Part 11)

�� CINTA? ATAU BALAS BUDI?  ��

Part 11

��������������☎��������

Mereka berdua sama2 terdiam dengan pikiran masing2. Tak ada yg memulai pembicaraan sehingga suasana benar2 sunyi. Yg terdengar hanya bunyi jangkrik yg saling bersahutan 'krik..krik'
Karena suasana yg canggung ini akhirnya Jodha mulai bicara "Ehmm.. Sudah larut malam, aku akan pergi tidur. Selamat malam"

Jalal tersentak "Selamat malam"

Jodha meninggalkan Jalal dengan berjalan dibelakangnya. Karena kurang awas, tanpa sengaja Jodha tersandung batu yg tertutup oleh rerumputan. Saat Jodha akan jatuh, dengan refleks Jalal menahan tubuh Jodha sehingga Jodha tidak sampai terjatuh. Kini jarak mereka begitu dekat. Mereka saling berpandangan intens. Menyelami kedalaman mata masing2.

Suasana yg sunyi dan hawa yg dingin yg menusuk kulit semakin mendukung kebersamaan mereka saat ini. Pandangan Jalal beralih ke bibir ranum Jodha. Jalal perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke Jodha dengan memiringkan kepalanya. Jodha menahan nafasnya saat Jalal mendekatinya. Lalu bibir Jalal menempel di bibir Jodha. Hanya menempel dan itu sukses membuat Jodha membelalakkan matanya. Jalal menunggu respon dari Jodha. Karena tidak ada penolakan dari Jodha, Jalal mulai memagut bibir Jodha sambil memejamkan matanya.

Jodha yg masih shock masih diam tak membalas ciuman Jalal. Tangan kanan Jalal yg semula ada di bahu Jodha beralih ke tengkuk Jodha untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang Jodha, merapatkan ketubuhnya. Jalal melumat bibir Jodha hingga membuat Jodha membuka bibirnya dan lidah Jalal berhasil masuk ke dalam mulut Jodha. Jodha yg awalnya hanya diam kini mulai membalas ciuman Jalal yg begitu menghipnotisnya sambil ikut memejamkan matanya. Kedua tangannya diletakkan didada Jalal. Mereka saling melumat,mengecap,  memagut dan membelit lidah masing2. Rasa bibir Jodha yg manis membuat Jalal enggan melepaskan ciumannya. Karena kehabisan nafas akhirnya mereka melepaskan ciuman.

Jodha menunduk karena wajahnya kini merona hingga terdengar Jalal memanggilnya "Jodha"

Jodha mendongakkan wajahnya dan melihat Jalal yg menatapnya penuh arti. Jodha menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdetak begitu cepat dan wajahnya merah karena malu lalu tanpa mengucap apapun dia pergi begitu saja meninggalkan Jalal yg masih menatap punggungnya.

"Jodha" gumam Jalal.

������

Diatas ranjangnya, Jodha membolak-balikkan tubuhnya. Untung saja Moti tidur nyenyak dan tidak mendengar suara berisik derit ranjangnya. Jodha memiringkan tubuhnya dan teringat kembali kejadian tadi. Dia memegang bibirnya lalu tersenyum. Ini adalah ciuman pertamanya. Dulu bersama mantannya dia hanya berpegangan tangan dan berpelukan. Jodha tidak pernah mengijinkan pacarnya untuk menciumnya. Tapi kenapa dia membiarkan Jalal yg notabene bukan siapa-siapa untuk menciumnya.

"Aku pasti sudah gila" Jodha menggigit bibir bawahnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Sedangkan di kamar lain, Jalal juga tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon kamarnya. Dia tidak habis pikir kenapa dia bisa lose control seperti tadi. Jalal mengusap rambutnya tanda dia sedang gelisah. Bagaimana besok dia harus bersikap pada Jodha.

"Apa yg kaulakukan Jalal? Kenapa aku selalu tidak bisa mengendalikan diriku bila didekatnya. Shit!! Kau jangan seperti ini Jalal. Apapun yg kaulakukan padanya selama ini hanya sebagai bentuk rasa tanggung jawab. Jangan pernah libatkan perasaan!!" batin Jalal bergolak didalam hatinya. Di satu sisi dia senang bisa merasakan rasa manis bibir Jodha yg selalu menggodanya untuk mencicipi. Tapi disisi lain, hatinya menolak perasaan suka-nya pada Jodha.

"hhh...lebih baik aku tidur daripada aku jadi gila" Jalal masuk kekamar menuju ranjangnya dan mulai memejamkan matanya.

������

Keesokan harinya, para peserta meeting mulai berolahraga senam pagi. Jodha terlihat bersemangat sekali hingga membuat Moti heran.

"Kamu kenapa sih Jodha? Dari bangun tidur sampai sekarang kamu tuh senyum2 sendiri dari tadi. Bukannya ini hari terakhir kita disini, kenapa kamu malah gembira gitu"

"Ada deh. Mau tau aja"

"Iisshh.. Kau ini. Sombong banget gak mau bagi2 bahagianya" Moti cemberut dan Jodha tertawa.

Setelah berolahraga, para peserta membersihkan diri masing2 sekaligus berbenah untuk pulang nanti. Lalu mereka sarapan bersama. Setelah sarapan, mereka keruang meeting untuk rapat terakhir sekaligus penutupan.

Selama rapat, Jalal terlihat berbeda. Dia lebih banyak diam dan sama sekali tidak melirik Jodha. Jodha jadi heran dengan sikap Jalal, padahal kemarin dia masih terlihat ramah dan banyak senyum.

Meeting ditutup dengan kata penutup oleh Jalal selaku Direktur utama. Semua merasa sedih karena harus berpisah dengan rekan kerja yg berbeda provinsi ini. Dan harus menunggu setahun lagi untuk mereka bertemu kembali.

Setelah acara berakhir, para peserta meeting berkumpul untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Jalal tetap tidak melirik ke Jodha sedikitpun. Bahkan disaat sesi bersalaman pun, Jalal hanya tersenyum tipis padanya.

Akhirnya mereka kembali ke Jakarta menggunakan bis yg menjemput mereka. Para peserta meeting tidak akan pernah melupakan apa yg sudah mereka alami selama acara berlangsung yaitu kebersamaan antar rekan kerja yg berbeda provinsi, adat, suku dan budayanya termasuk Jodha yg tidak akan pernah melupakan ciuman pertamanya. Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam akhirnya mereka tiba didepan kantor dan saling berpisah untuk pulang kerumah masing2. Jodha danJalal pulang bersama setelah sebelumnya Ravi menawarkan Jodha untuk dia antar sampai kerumah tapi Jodha menolaknya secara halus karena Jalal sudah memanggilnya untuk pulang bersama.

Didalam mobil mereka hanya diam tak ada yg mulai pembicaraan. Keadaan menjadi canggung kembali setelah kejadian malam itu. Padahal sebelum itu mereka berdua terlihat biasa dan nyaman. Mobil telah sampai didepan rumah Jalal dan berhenti. Saat Jodha akan keluar, Jalal mencegahnya.

"Tunggu Jodha"

Jodha yg sudah memegang kenop pintu menghentikan tangannya dan menoleh ke Jalal "Ya"

Jalal bingung harus bicara apa. Jalal menatap kedepan dan menghembuskan nafas dia mulai berkata "Tentang ciuman itu.."

Jalal berhenti dan membuat Jodha penasaran menanti kata berikutnya "Lupakan saja tentang ciuman itu. Anggap saja tidak pernah terjadi. Itu terjadi karena.. aku hanya terbawa suasana saja" Jalal memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir jantungnya lalu menoleh ke Jodha. Jalal terkejut melihat mata Jodha yg mengisyaratkan kekecewaan.

Jodha merasa seperti diterbangkan kelangit tinggi lalu dihempaskan begitu kuat ke tanah. Kalian pasti tau bagaimana rasanya. Sakit..

Beberapa saat Jodha terdiam tak bisa berkata apa2. Dia cukup terkejut dengan ucapan Jalal yg terlihat santai saat mengucapkannya. Berarti selama ini dia yg keGR-an. Menganggap Jalal sedikit menaruh perasaan padanya.

"Tenang saja, aku juga akan melupakannya dan menganggap itu semua tidak pernah terjadi. Terima kasih sudah sudah banyak membantuku selama ini" Dengan rasa sesak didada, Jodha berusaha untuk tidak menangis. Dia membuka pintu mobil dan langsung masuk ke paviliun.

Jalal meremas setirnya dengan kuat. Dia merasa seperti pria yg paling brengsek. Setelah mencium bibir gadis itu,dia menyuruh Jodha untuk melupakannya. Cih!!! Bahkan ciuman itu tidak akan pernah bisa dia lupakan.

Jodha masuk kedalam kamar Shivani dan menyapanya setelah menyapa seorang suster yg menjaganya. Begitu suster itu keluar, tumpah juga air mata Jodha yg sejak tadi ditahannya.

"Maafkan kakak,Vani. Seharusnya kakak senang pulang dari puncak tapi malah kakak menangis. Kenapa rasanya begitu sakit saat dia bilang kalau ciuman itu tidak berarti apa2 buatnya. Kakak memang bodoh menganggap kebaikannya selama ini sebagai rasa sayang. Kakak terlalu naif bukan? Mana mungkin seorang direktur seperti dia menyukai kakakmu ini yg tidak mempunyai apa2" Jodha mencurahkan semua isi hatinya pada Shivani yg masih tertidur tenang. Jodha tau meskipun Shivani tidak mendengarnya, namun setidaknya dia bisa mencurahkan semua yg dia rasakan pada adik kesayangannya.

Jodha tidak ikut makan malam bersama Sehnaz dan Hamida dengan alasan dia sedang capek. Padahal dia hanya tidak ingin bertemu dengan Jalal.

������

Jalal dan Jodha mulai bekerja seperti biasa tapi ada yg berbeda dengan hubungan mereka berdua. Sejak hari itu, Jalal menghindar dari Jodha. Bahkan bila saat makan siang di cafetaria kantornya, Jalal seakan menghindari kontak mata dengan Jodha. Sikapnya benar2 berubah pada Jodha. Saat dirumahpun, Jalal jarang sekali ikut makan malam dengan Sehnaz dan Hamida. Sehnaz heran dan bila dia bertanya, Jalal selalu beralasan sedang sibuk. Padahal sebenarnya dia sedang sibuk bergulat dengan hatinya yg kacau balau karena Jodha.

Kini justru Ravi yg gencar mendekati Jodha. Dia sudah menyukai Jodha sejak awal bertemu dengannya. Sebelum Ravi pindah bogor, dia harus segera menyatakan perasaan cintanya sebelum terlambat.

������

Jodha dan Sehnaz kini sedang sibuk membuat makalah milik Sehnaz di kamar Shivani. Sehnaz merasa kesulitan dan meminta bantuan Jodha agar membantunya menyelesaikan makalahnya.

Jari2 tangan Shivani tiba2 bergerak. Lalu perlahan-lahan matanya terbuka. Shivani mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau oleh sinar lampu. Jodha dan Sehnaz masih sibuk dengan kegiatan mereka dan tidak menyadari Shivani yg telah sadar.

"Ka...Kakak"

Jodha dan Sehnaz yg mendengar suara lirih Shivani menoleh. Mereka berdua sama2 terkejut. Jodha langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri ranjang Shivani.

"Ya tuhan Shivani..kamu sudah sadar sayang. Terima kasih tuhan kau mengabulkan doaku" Jodha bersyukur Shivani telah sadar dari komanya.

Sehnaz berdiri mematung ditempatnya. Tangannya bergetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin. Dia takut rahasianya terbongkar.

"Sehnaz, Shivani sudah sadar. Aku harus memanggil dokter"

"Tunggu kak" Cegah Sehnaz.

"Kenapa Sehnaz?"

"Kakak jangan memanggil dokter"

"Apa!!! "

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...