# JANGAN TAKUT JATUH CINTA #
PART 1
₪₪₪
* Jodha POV *
Hari ini adalah hari pernikahanku. Aku akan menikah dengan Surya, lelaki pilihan orang tuaku.
Ya....aku memang dijodohkan dengannya karena orang tuaku bersahabat dengan kedua orangtua Surya. Dan karena persahabatan itulah, mereka menjodohkan kami agar hubungan mereka makin erat.
Awalnya aku belum menyukainya. Karena memang aku belum begitu mengenalnya. Setelah pertemuan kami yg pertama,perlahan-lahan kami mulai mencoba mengenal diri masing2. Dia pria yang baik,tampan dan itu membuatku nyaman dengannya.
Selama kurang lebih 6 bulan kami dekat,aku mulai merasakan rasa itu....
CINTA...
Aku mencintai Surya,tapi aku tidak tau apakah dia juga merasakan hal yg sama padaku. Tapi selama 6 bulan ini dia selalu perhatian padaku.
Orang tua kami senang sekali melihat kedekatan kami. Hingga mereka memutuskan untuk segera menikahkan kami. Tepat 7 bulan setelah pertemuan kami,pernikahan dilangsungkan.
Dan disinilah aku sekarang,di depan cermin melihat pantulan diriku memakai baju kebaya pengantin. Apakah aku bahagia? Tentu saja aku bahagia karena aku menikah dengan orang yg kucintai.
Tapi entah kenapa masih ada yg mengganjal di hatiku. Ada rasa bahagia sekaligus gelisah. Aku masih tidak tau apakah Surya juga mencintaiku atau tidak. Dia tidak pernah mengatakan apapun.
Mamaku masuk kedalam kamarku dan berdiri di belakangku dengan memegang bahuku "mama tidak menyangka,kamu akan menikah. Sepertinya baru kemarin kamu baru bisa belajar berjalan" ucap mama dengan mata berkaca-kaca.
Aku memegang tangan mama lalu berdiri dan berbalik memeluknya "mama jangan nangis dong,ini kan hari bahagiaku" aku jadi ikut menangis.
"Mama menangis bahagia sayang....sudah...kamu jangan ikut menangis,riasanmu nanti rusak" mama membelai rambutku yg tertutupi oleh bunga melati.
Aku melepaskan pelukanku. Mama mengusap air mataku. Kami tersenyum bersama.
"Ayo kita keluar,calon suamimu sudah menunggu"
Riasanku agak berantakan. Perias langsung memperbaikinya. Tak berapa lama aku keluar kamar digandeng oleh mama.
₹₹
Diruang tamu sudah banyak tamu yg menungguku dan juga calon suamiku. Dia terlihat tampan dengan pakaian pengantin berwarna putih senada dengan kebayaku. Tapi begitu melihat wajahnya,mengapa dia kelihatan seperti tegang? Apa dia baik2 saja? Atau karena dia tegang dengan pernikahan ini?
Entahlah mengapa perasaanku merasakan akan ada hal buruk yg terjadi. Tapi aku menepis semua pikiran negatifku karena ini adalah hari bahagiaku.
Kini aku duduk disamping Surya. Dengan jarak dekat seperti ini,aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Pak penghulu memulai acara ijab kabul.
"Sudah siap?" Tanya pak penghulu.
Surya mengangguk ragu. Aku masih penasaran dengan sikapnya. Dari belakang,mama menyampirkan selendang putih pada kami berdua.
Pak penghulu mengulurkan tangannya ke arah Surya dan disambut olehnya. Aku menunduk dengan jantung berdebar.
Pak penghulu mulai mengucapkan akad,setelah itu Pak penghulu menyentak tangan Surya pertanda bahwa dia harus mulai bicara. Bukannya Surya berbicara tapi dia hanya diam. Pak penghulu mengulangi lagi kata2nya tapi Surya tetap saja diam.
Aku dan semua orang yg ada disini bingung kenapa Surya tidak berbicara sama sekali. Wajahnya terlihat kaku. Pak penghulu sampai memanggilnya beberapa kali. Mamanya Surya menghampiri Surya dan menepuk bahunya. Surya terkesiap dan langsung melepaskan tangannya dari pak penghulu. Aku semakin bingung akan sikapnya.
Surya menoleh padaku. Dia menghembuskan nafasnya berat, dia menatapku dengan tatapan bersalah lalu berkata "Maaf"
Setelah mengucapkan satu kata itu,Surya langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan aku yg masih diam ditempat. Semua orang mulai berbisik-bisik. Mamanya Surya mengejarnya entah kemana. Sedangkan aku masih tetap diam terpaku ditempat.
Pikiranku kosong,bahkan suara orang2 yg mulai ramai pun tak aku hiraukan. Tak terasa air mataku jatuh dipipiku. Mamaku memegang bahuku dan memanggilku "Jodha..."
Bahkan panggilan mama tidak membuatku sadar. Aku terlalu shock. Kulihat ke sekeliling,orang2 menatapku dengan pandangan iba. Mama terus2an memanggilku hingga aku mendengar dia menangis. Kini papaku ada di depanku dan membelai rambutku "Jodha...sayang"
"Pa..." hanya itu yg bisa aku keluarkan dari bibirku.
"Jodha..." papa memanggilku lagi.
"Apa aku bermimpi pa?"
Papaku terlihat mencoba menahan tangisnya. Aku tau papa juga sedih melihatku tapi dia sebagai kepala keluarga tidak boleh lemah. Papaku menggeleng menjawab pertanyaanku.
Ya tuhan... ini nyata.
Surya meninggalkanku saat acara akad. Aku beranjak dari dudukku lalu berlari ke kamar sambil menangis. Aku tak memperdulikan mama papaku yg memanggilku. Aku tak perduli dengan riasanku yg kini mungkin sudah berantakan. Yg aku inginkan hanya menangis.
Aku masuk kekamar,aku copot semua hiasan yg ada dikepalaku. Aku tak memperdulikan rambutku yg acak2an. Aku menangis dengan duduk di bawah dan kepalaku direbahkan diatas ranjang. Aku menangis terisak. Rasa malu,sedih,marah,sakit hati, semua kini bersarang dalam diriku. Pantas saja sejak tadi perasaanku tidak enak.
"Kenapa???"
Kata itu yg sekarang ada dipikiranku. Kenapa dia lakukan ini padaku. Apa salahku???
Disaat aku masih menangis,mama masuk ke kamarku. Dia menghampiriku dan membelai rambutku. Aku menoleh ke mama dan aku memeluknya. Aku kembali menangis di pelukan mama.
"Menangislah bila itu bisa membuatmu tenang sayang..mama akan selalu ada untukmu" Mama mencoba menenangkanku.
"Kenapa ma, dia tega melakukan ini padaku?"
"Kamu yg sabar ya. Ini salah satu ujian dari tuhan. Ingat Nak.. bersabar bukan berarti kamu lemah. sabar adalah bukti bahwa kamu tegar menghadapi segala ujian yg datang dalam hidupmu. Mungkin ini pertanda bahwa Surya bukan jodohmu" mama berhenti sejenak lalu berkata,"mama dan papa minta maaf" Kini mama ikut menangis.
Aku melepaskan pelukanku dan melihat mama "kenapa mama minta maaf?"
"Karena perjodohan ini,kamu harus menanggung malu dan kesedihan"
"Mama jangan bicara begitu. Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Apa yg kalian lakukan itu juga demi kebaikanku. Lagipula aku juga menyetujui pernikahan ini ma.." Aku tidak mau mama ikut merasakan sedih.
Mama menghapus air mataku. Keningku dicium untuk menyalurkan rasa sayangnya padaku.
"Ya sudah,kamu istirahat. Jangan banyak pikiran..hm..mama akan membereskan semuanya"
'Membereskan semuanya' itu maksud mama mungkin membereskan pernikahanku yg batal. Aku mendesah berat.
"Iya ma. Makasih"
Mama beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar dari kamarku. Aku masih diam terduduk di ranjang.
Hari ini benar2 melelahkan dan aku tidak tau bagaimana menghadapi esok hari dengan masih menanggung rasa malu.
₹₹₹
* Malam hari...
Rumahku sudah terlihat rapi setelah acara akad nikah yg batal tadi pagi. Meskipun masih ada sedikit beberapa hiasan di dinding.
Aku, papa, mama dan Daniyal adikku makan malam dalam keheningan. Entahlah kenapa suasana jadi canggung seperti ini. Sepertinya papa dan mama masih merasa bersalah padaku.
Setelah makan malam yg canggung,aku berpamitan kembali ke kamarku. Hari ini aku sedang malas beraktivitas apapun setelah kejadian tadi pagi. Aku memandang baju pengantinku dengan lesu.
Setelah hari ini,aku tidak mau lagi jatuh cinta. Cukup sekali cintaku hancur. Aku tak ingin lagi mencintai bila hanya mendapat luka. Aku akan menjauhkan diriku dari yg namanya cinta. Dan Aku masih trauma dengan yg namanya pernikahan.
Kepalaku terasa berat memikirkan hal ini. Kupijat kepalaku pelan hingga aku mendengar suara papa yg berteriak.
"Untuk apa lagi kalian kesini!! Apa masih belum cukup membuat keluargaku malu"
Suara papa begitu keras hingga terdengar di kamarku. Aku mengerutkan keningku "papa bicara dengan siapa sampai marah seperti itu"
Aku yg penasaran langsung keluar dari kamar. Aku melangkah menuju ruang tamu. Aku mendengar suara om Darwis,papanya Surya berbicara dengan suara sendu.
"Maafkan kami Bharmal. Aku juga tidak menyangka Surya akan melakukan itu"
"Kalau memang dia tidak mau menikahi anakku,seharusnya dia bilang dari awal!" Papa ku masih berbicara dengan penuh amarah.
"Papa" aku memanggil papa.
Semua orang kini menoleh ke arahku. Papaku,mamaku,Daniyal,om Darwis dan tante Elda (mamanya Rian).
"Jodha..." ucap om Darwis.
Aku menghampiri papa dan mencoba menenangkannya "papa jangan marah2,ingat kesehatan papa"
"Jodha,,,tolong maafkan Surya dan kami berdua. Ini semua salah kami yg terlalu memaksanya. Hingga dia harus melakukan hal ini" Om Darwis berbicara sambil menundukkan kepalanya.
Aku menoleh ke om Darwis "mungkin akan sangat sulit memaafkan Surya,om. Saya sudah terlanjur sakit hati. Hati siapa yg tidak sakit bila dipermalukan seperti ini" aku mulai menangis lagi. Mama mendekatiku dan mengelus bahuku memberi kekuatan.
"Om tau Jodha, Surya sudah keterlaluan. Om sudah menghajarnya karena sudah membuat malu. Om benar2 minta maaf Jodha"
"Mulai sekarang,persahabatan kita cukup sampai disini Darwis" ucap papaku tiba2 sambil membelakangi om Darwis.
"Kak Bharmal,tolong jangan bicara seperti itu. Kita sudah lama bersahabat. Jangan memutuskan persahabatan kita seperti ini" Tante Elda menangis sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Namun papa tidak perduli dan lebih memilih pergi meninggalkan kami.
Adikku yg sedari tadi diam kini angkat bicara "kalau aku bertemu dengan bajingan itu,pasti aku akan menghajarnya hingga dia lupa bagaimana caranya bernafas!!!"
Daniyal mengepalkan tangannya. Dia juga marah melihat keluargaku dipermalukan. Agar suasana tidak semakin panas, mama membawa Daniyal beranjak dari sini. Kini tinggal kami bertiga.
"Saya tidak tau om bagaimana harus bersikap. Aku masih menghormati om dan tante. Tapi tentang Surya,saya mungkin sulit untuk memaafkannya. Apalagi tidak ada penjelasan apapun darinya. Saya minta maaf om"
Aku tidak tahan lagi. Aku meninggalkan mereka menuju ke kamarku. Aku kembali menangis.
"Kau harus kuat Jodha" gumamku sambil menghapus air mataku.
awal mula cerita yang sangat sedih
BalasHapus