Langsung ke konten utama

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 37

# JANGAN TAKUT JATUH CINTA #

PART 37

(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)

Jodha dan Jalal berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Begitu mendengar berita dari Bi Lina bahwa Aisha akan melahirkan,tanpa sempat mengganti baju,mereka berdua langsung pergi kerumah sakit. Jalal sempat marah karena tidak ada seorang pun yg memberitahunya. Di jalan tadi dia menelepon Ryan tapi tidak diangkat oleh Ryan. Akhirnya dia menelepon papanya. Humayun mengatakan bahwa Aisha masih dalam proses melahirkan. Sedangkan Arshia dititipkan pada bi Lina karena anak itu tadi sudah tertidur saat Aisha mengalami kontraksi dan dibawa ke rumah sakit.

Akhirnya Jodha dan Jalal menemukan kamar Aisha setelah bertanya pada suster jaga. Mereka masuk kedalam dan semua berkumpul disana.

"Pa.. Ma"

Humayun dan Hamidah menoleh. Ryan dan Aisha yg sedang menggendong bayi mungil di dekapannya tersenyum ke arah mereka berdua.

"Oh.. Jalal,Jodha. Kemarilah. Kalian punya keponakan lagi. Seorang jagoan" ujar Humayun sumringah.

Jalal dan Jodha mendekat ke arah Aisha "Selamat ya kak. Lengkap sudah kalian mempunyai putra dan putri" ucap Jalal.

"Terima kasih"

"Dia tampan sekali dan pipinya merah. Wajahnya persis Arshia. Ihhh... Lucu" Jodha memegang pipi bayi yg tertidur lelap itu.

"Jelas saja tampan Jo. Siapa dulu daddy nya" Ucap Ryan sumringah.

Jalal mencebik "Iiisshhh.. Kumat deh narsisnya"

Semua tertawa mendengar ucapan Jalal.

"Apa dia sudah menyusu kak?"

"Sudah barusan dan langsung tertidur"

Tak berapa lama suster datang "Maaf nyonya Aisha. Bayinya akan kami taruh di boksnya setelah menyusui. Anda harus istirahat"

"Iya sus. Silahkan"

Suster itu mengambil bayi dari dekapan Aisha dan membawanya keluar.

"Sebaiknya kita pulang ma. Biar Aisha istirahat dulu"

"Iya pa. Jalal,Jodha kalian tidak pulang?"

"Sebentar lagi ma"

"Ya sudah. Papa sama Mama pulang dulu ya Sha. Besok mama kesini lagi. Kamu harus banyak istirahat" Hamidah pamit ke Aisha sambil mencium keningnya.

"Iya Ma. Terima kasih"

"Jaga Aisha baik-baik Ryan. Besok mama akan bawa Arshia juga kesini. Pasti dia akan bertanya dimana Mommy Daddynya"

"Iya ma. Aku titip Shia dulu"

Humayun dan Hamidah keluar dari kamar dan kini tinggal Jodha dan Jalal.

"Sebaiknya kamu juga pulang Al. Kasian Jodha pasti capek setelah dari pesta. Besok kalian bisa kesini lagi"

"Iya kak,sebentar lagi. Oh iya,apakah jagoannya sudah punya nama?"

"Sudah. Namanya ABIEL RYANSA ABQORI"

"Waah... Namanya bagus. Nama tengahnya diambil dari nama kak Ryan dan Kak Aisha ya"

"Iya Jo. Kami memanggilnya Abiel"

"Proses persalinannya gimana ka?"

"Alhamdulillah lancar Jo. Tidak seperti Arshia dulu saat dia keluar lehernya terlilit tali pusar"

"Syukurlah kalau begitu"

Setelah cukup lama berbincang,Jalal mengajak Jodha untuk pulang. Karena malam sudah larut. Sedangkan Ryan menunggu Aisha dirumah sakit.

Keesokan harinya,Hamidah dan Jodha serta Arshia menjenguk Aisha dirumah sakit. Arshia merengek terus minta bertemu adiknya karena gak sabar ingin menggendongnya. Hamidah dan Jodha hanya geleng2 kepala melihat tingkah Arshia.

Setelah 2 hari dirawat dirumah sakit,Aisha dan bayinya diperbolehkan pulang karena sudah sehat. Suasana di rumah Jalal kembali ramai dengan kehadiran anggota keluarga baru.

7 hari setelah kelahiran Abiel,Ryan daan Aisha mengadakan acara Akikah untuk Abiel. Keluarga besar Aisha dan Ryan semua hadir. Ryan juga mengundang keluarga Jodha yg ada di Bandung.

Acara Akikah berjalan lancar dan khidmat dengan mengorbankan 2 ekor kambing gemuk dan sehat. Setelah acara selesai,keluarga besar mereka berkumpul diruang keluarga.

"Abiel kok gak mirip Mommy Daddynya ya? Kok malah mirip Arshia" Ujar Clarissa,mamanya Aisha.

"Iya dong grandma. Dedek Abiel mirip Shia. Kan Shia kakaknya" Sahut Shia polos hingga membuat semua orang yg mendengarnya tertawa.

"Kalau dedek Abiel mau diambil uncle,boleh gak sayang?" Tanya Jalal menggoda Shia.

"Gak boleh uncle! Kan uncle sudah mau punya dedek sendiri yg ada di perut aunty Jo"

Hahaha...  Suasana kembali ramai dengan celotehan Shia. Meskipun suara ramai tapi si mungil Abiel masih terlelap di gendongan Mommynya.

"Oh ya Daniyal,kapan kamu akan menikah menyusul kakakmu?" tanya Hamidah ke Daniyal yg datang bersama Bharmal dan Meena.

"Dua bulan lagi tante"

"Iya lebih cepat lebih baik. Jangan terlalu lama biar tak jadi fitnah"

"Benar bu Hamidah. Saya juga ingin agar Dani segera menikah sebelum saya pergi menghadap tuhan" ucap Bharmal.

"Papa kenapa ngomongnya gitu" Jodha mendekat ke Bharmal dan bersandar di bahunya.

"Umur manusia kan tidak ada yg tau sayang. Setidaknya sebelum papa pergi,papa sudah tenang melihat kedua anak papa sudah menikah dan bahagia dengan keluarganya"

Suasana yg tadinya gembira berubah menjadi sedih. Untuk mengalihkan pembicaraan,Hamidah membahas tentang kehamilan Jodha.

Di hari yg cerah ini,Jodha sedang santai dirumah . Aisha sedang ke dokter bersama Hamidah untuk mengimunisasi Abiel. Jadi dia sendirian dan tidak ada yg dia kerjakan. Akhirnya dia memutuskan untuk merawat wajahnya dengan maskeran. Sudah lama dia tidak memperhatikan wajahnya.

Jodha mulai memoles masker di wajahnya. Untuk mengusir sepi,dia membunyikan mp3 playernya lalu berbaring di sofa. Tidak lupa dua buah irisan mentimun dia taruh di atas kedua matanya.

Terdengar lagu Truly,Madly,Deply mengalun indah di kamar ini. Sesekali Jodha ikut bersenandung. Tangannya juga tak tinggal diam ikut bergerak diatas perutnya yg diganjal dengan bantal sofa.

Tak berapa lama,ada seseorang  membuka pintu. Dia adalah Jalal. Jalal melihat Jodha yg berbaring di sofa sambil mendengarkan lagu. Jalal menutup pintu secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dengan langkah yg pelan dia menghampiri istrinya setelah menaruh jas dan tas kerjanya. Jalal sengaja berada di belakang sandaran sofa untuk menggoda istrinya dan...

CUP...

Kecupan singkat mendarat di bibir Jodha dan dengan cepat Jalal menyembunyikan dirinya di belakang sandaran sofa. Jodha yg merasakan bibirnya dicium seseorang langsung kaget dan bangkit dari tidurnya sambil melepas mentimun di kedua matanya.

"Siapa?" Jodha mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tak melihat siapa2. Jalal terkikik sambil menutup mulutnya agar tak terdengar.

"Iihh.. Siapa sih? Kok gak ada orang. Apa aku tadi bermimpi ya" Jodha mengendikkan bahunya tak peduli. Kembali dia berbaring dan menutup lagi kedua matanya dengan mentimun.

Sekali lagi Jalal menggoda istrinya namun kini dia berlutut di sebelah sofa. Dia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Jodha dan mulai menciumnya.

"Hmmmpptt"

Jodha yg kembali mendapat serangan terkejut dan mulai bersuara "Ap..pa yg kaulakukan"

Sebelum Jodha meneruskan bicaranya,Jalal terus melumat bibirnya. Tak menghiraukan kekagetan Jodha. Jodha berontak dengan memukul dada Jalal tapi Jalal dengan sigap memegang kedua tangannya. Masker yg ada di wajah Jodha berantakan dan mentimunnya sudah jatuh entah kemana. Dengan sekuat tenaga Jodha mendorong tubuh Jalal hingga jatuh di lantai.

"Hhhh..." Jodha duduk dengan nafas ngos-ngosan dan mencoba menetralkan jantungnya.

"Kamu apa-apaan sih! Bikin kaget aja"

"Mencium istriku yg lagi maskeran" ucap Jalal tanpa rasa bersalah.

"Iihhh... Dasar Mr.modus. Ngambil kesempatan dalam kesempitan" Jodha melemparkan bantal sofa ke tubuh Jalal dengan bertubi-tubi.

"Hahaha... Iya ampun istriku sayang. Jangan ngambek dong"

Saat Jodha kehabisan bantal buat dilempar,dia melihat mp3nya dan berniat melempar Jalal dengan benda itu.

"Eeh... Eh... Jangan dilempar. Nanti bisa benjol kepalaku" Jalal menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.

"Huh.. Siapa juga yg mau melempar mp3ku. Sayang banget tau" Jodha beranjak dari duduknya. Jalal terkekeh melihat Jodha yg cemberut.

"Kamu kok sudah pulang jam segini?" Jodha menuju wastafel untuk membersihkan wajahnya yg belepotan gara2 ulah Jalal. Gagal sudah rencananya untuk maskeran.

"Nanti om Danu mau datang kesini. Waktu kita nikah dia kan tidak bisa datang karena tugas. Baru sekarang dia bisa kesini karena sedang off"

Danu adalah adik dari Humayun. Dia adalah seorang pilot yg sering bertugas ke luar negeri.

"Oohhh" Jodha hanya ber-Oh ria. Jalal mendekati Jodha lalu memeluknya dari belakang.

"Eehh..ngapain meluk aku. Aku lagi cuci muka nih"

"Kangen sayang" ucap Jalal manja.

"Hadeeh.. Tiap hari ketemu masih kangen saja"

"Aku kan gak bisa jauh dari kamu walau sebentar saja"

"Lebay"

"Biarin. Sama istri sendiri juga"

Hp Jalal berbunyi mengganggu kemesraan mereka.

"Tuh ada telpon. Angkat sana"

"Huh... Siapa sih yg menelepon. Ganggu orang lagi berdua" Jalal melepaskan pelukannya. Dengan langkah malas Jalal mengangkat teleponnya.

"Halo"

"...."

"Eh iya om. Sudah sampai mana?"

"Ok. Aku akan kesana sekarang"

"...."

"Iya om" Jalal menutup teleponnya dan mengambil kunci mobilnya.

"Siapa yang" tanya Jodha sambil memegang handuk kecil setelah membasuh wajahnya.

"Om danu sudah ada di bandara. Aku jemput dia dulu ya sayang. CUP" tak lupa Jalal mengecup bibir Jodha dan keluar kamar.

"Iya. Hati-hati sayang"

✈✈✈

Setelah menjemput om Danu di bandara,malam harinya setelah makan malam. Semuanya berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.

"Maaf ya om tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Tapi om sudah diwakili oleh istri dan anak om. Kalian pasti tau kesibukan om" Danu berbicara pada Jodha dan Jalal yg duduk didepannya.

"Iya om tidak apa-apa. Kami mengerti" jawab Jalal.

"Oh iya Jodha. Suamimu ini kan orangnya modus. Kamu yg sabar ya menghadapi dia" Danu menyindir Jalal. Jalal cemberut. Jodha terkekeh.

"Aku sudah tau sifat modusnya om. Memang agak susah menghadapinya" gurau Jodha.

"Seperti om gak modus saja. Kan kemodusanku juga keturunan dari papa dan om danu"

Hahaha...

Semua tertawa mendengar ucapan Jalal tapi tidak dengan Humayun. Dia malah melotot ke Jalal. Jalal meringis dipelototi oleh papanya.

"Oh iya Jo. Beberapa hari lalu om terbang ke india. Saat tiba di bandara dan turun dari pesawat,om melihat pria yg mirip suamimu"

"Mirip aku om?" tunjuk Jalal pada dirinya.

"Iya. Mirip banget kamu sama dia" Jodha penasaran, "Itu loh. Dia itu artis india yg terkenal jadi raja siapa itu?" Danu memegang dagunya tanda dia sedang berpikir.

"Raja akbar?" tanya Jodha.

"Haah... Iya itu dia. Yg istrinya 3 kan?" Danu begitu bersemangat seperti memenangkan sebuah kuis tanya jawab.

Jodha langsung menegakkan tubuhnya yg tadinya bersandar di sofa "Jadi,om Danu ketemu dengan Rajat Tokas ya?" Jalal melongo melihat ke-antusias-an Jodha.

"Oohh.. Namanya Rajat tokas. Iya ketemu di bandara. Cuma lihat dari jauh aja. Gak tau juga dia mau kemana"

"Wah.. Asyik banget om bisa ketemu Rajat tokas. Tau gitu aku bisa minta tolong agar om Danu bisa selfi dengannya"

"Iisshh... Lebay banget kamu yang. Lihat aku kan sama saja" Jalal mendengus.

"Ya lain dong. Meskipun kalian mirip pasti ada yg beda" Jodha masih keukeh.

"Tapi kalau om lihat sepertinya mereka berdua mirip banget. Seperti pinang dibelah golok. Apalagi bantetnya. Sama persis. Xixixi" Danu malah mengolok Jalal.

"Hahaha. Bener banget om. Tau nih anak mirip siapa. Padahal mama,papa dan aku termasuk tinggi. Kok dia lain sendiri" Ryan ikut mengompori.

"Meskipun aku bantet tapi kegantenganku juga tak kalah darimu kak" Jalal menyeringai, Ryan mendengus, "Kak Ryan ini bukannya membela adiknya sendiri malah jadi provokator"

"Kenyataannya memang begitu" Ryan terkekeh.

Jalal cemberut dan Jodha mencoba menenangkannya dengan mengelus lengannya "Jangan menggodaku sayang. Nanti kamu tanggung sendiri akibatnya" Jalal berbisik di telinga Jodha.

"Iihh.. Siapa yg menggoda sih"

"Ini tangan kamu bisa membangunkan macan tidur" Jalal melirik tangan Jodha yg mengelus lengannya. Sontak Jodha langsung melepaskan tangannya sambil mencebik. Jalal terkekeh.

Aisha yg dari tadi menggendong Abiel yg tidur berpamitan pada semua "Abiel sudah tidur,saya ke kamar dulu ya om untuk membaringkan Abiel"

"Iya Sha silahkan. Kasian cucu om kalau tidak segera ditidurkan"

Aisha bangkit dari duduknya "Shia gak tidur sayang. Besok kan sekolah" tanya Aisha pada Arshia yg duduk di pangkuan Danu.

"Bentar lagi mommy. Shia masih kangen sama grandpa Danu"

"Ya sudah. Jangan malam ya kalau mau bobo"

"Ok mommy"

Aisha berjalan menuju kamarnya didampingi Ryan. Sedangkan yg lain masih asyik berbincang-bincang.

*^_^**^_^*

Tak terasa sudah menginjak 3 bulan kandungan Jodha,dia mulai merasakan ngidam yg aneh-aneh. Seperti pagi ini saat Jalal akan berangkat kerja. Sudah rutinitas sehari-hari,Jodha memakaikan dasi ke Jalal. Saat sedang sibuk mengikat dasi,Jodha mulai melancarkan jurus ngidamnya ke suami tercinta itu.

"Sayang"

"Hm"

"Aku pengen"

Jalal yg kepalanya tadi mendongak,kini menundukkan kepalanya sejajar dengan Jodha dan menatapnya intens "Aku sudah berpakaian rapi begini kamu minta. Kok gak tadi aja habis mandi. Tapi kalau kamu memaksa,aku juga gak bakalan nolak" Jalal mulai membuka kancing bajunya.

"Iihhhh... Apaan sih sayang. Kenapa kamu buka kemejamu"

"Loh.. Kan kamu sendiri yg bilang pengen. Pengen 'Itu' kan?" Jalal menekankan kata 'Itu' sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Dasar omes. Siapa yg minta 'itu'. Aku tuh pengen sesuatu" Jodha mengikat dasi Jalal dengan kuat.

"Aarrghh... Sayang. Apa yg kaulakukan. Kamu mau membunuhku ya" Jalal merasakan sakit karena Jodha mencekiknya.

"Salah sendiri selalu pikirannya omes" Jodha melonggarkan kembali dasinya.

"Ok. Aku minta maaf. Sekarang kamu minta apa?" Jalal bernafas lega.

"Tapi kamu janji harus penuhi permintaanku"

"Selama permintaanmu bisa aku penuhi. Aku janji akan melakukannya"

"Beneran"

"Iya sayangku..."

"Aku ingin bertemu dengan Rajat tokas"

"Apaaa! Rajat tokas!"

"Iya"

"Apa tidak ada yg lain sayang. Bagaimana bisa bertemu dengan dia yg jauh di india sana. Lagipula dia kan artis yg punya banyak kesibukan"

"Aku gak mau tau. Pokoknya aku ingin bertemu dia. Ini juga permintaan anakmu"
Jalal memicing curiga "Apa benar ini permintaan dede bayi? Bukannya kamu"

"Terserah. Mau percaya atau tidak" Jodha merajuk lalu duduk di tepi ranjang.

Jalal mulai pusing kalau Jodha sudah mulai merajuk. Dia memijit keningnya. Setelah itu menghampiri Jodha dan duduk bersimpuh di didepannya "Sayang. Wajahku kan sudah mirip dengan dia. Lihat aku kan sama saja" Jalal berusaha membujuk namun Jodha tak bergeming.

"Enggak. Pokoknya aku ingin bertemu Rajat tokas!" Jodha menaikkan nada bicaranya.

Jalal menghembuskan nafas mencoba bersabar dengan tingkah Jodha yg seperti anak kecil.

"Kalau kamu sedang tidak hamil,pasti sudah aku marahi" Batin Jalal.

"Begini saja. Bagaimana kalau ketemu dengan artis indonesia. Seperti aliando syarief atau Al Ghazali. Aku bisa mencoba menemui mereka" Jalal masih mencoba membujuk Jodha namun Jodha masih diam. Tak lama hpnya berbunyi dan Jalal mengangkatnya.

"Ya,ada apa?"

".... "

"Ok. Sebentar lagi aku berangkat" Jalal menutup teleponnya.

"Sayang,aku harus berangkat. Setengah jam lagi aku ada meeting"

Jodha masih diam dengan tangan bersedekap di dadanya.

"Nanti kita bicarakan lagi ya. Jangan ngambek dong sayang"

Jalal berdiri lalu membungkuk untuk mencium kening Jodha lalu mengecup bibirnya yg cemberut.

"Love you sayang"

Jalal memakai jasnya dan mengambil tas kerjanya lalu keluar dari kamar. Jodha berdiri lalu berjalan ke balkon kamar. Dari balkon dia melihat Jalal yg masuk ke mobil. Entah kenapa dia begitu sensitif sejak dia hamil. Jodha mengelus perutnya dan tanpa terasa air mata meluncur di pipi chubbynya.

Jalal yg sedang mengikuti meeting kurang begitu konsentrasi karena masih memikirkan Jodha yg merajuk padanya. Dia tidak menyangka kalau hormon wanita hamil bisa berubah-ubah dan lebih sensitif. Sebenarnya dia sebelumnya sudah tau tentang ibu hamil yg ngidam saat Aisha mengandung Arshia. Bahkan dulu Jalal sering mengolok-olok Ryan bila Aisha sudah ngidam yg aneh-aneh. Tapi kini dia sendiri merasakan susahnya menghadapi ibu hamil yg harus selalu dituruti kemauannya. Sepertinya dia harus lebih menyiapkan stok ekstra kesabaran dalam menghadapi Jodha.

Sore hari Jalal pulang kerja. Dia masuk kamar dan melihat Jodha duduk di kursi yg ada di balkon kamarnya. Jalal mendekatinya dan langsung memeluknya dari belakang membuat Jodha kaget.

"Kenapa melamun sayang"

"Ehm.. Aku gak melamun kok"

Jalal melepaskan pelukannya lalu duduk disamping Jodha "Kalau kamu gak melamun kenapa tidak tau kalau aku datang dan menyambutku"

"Maaf" Jodha menundukkan kepalanya.

"Hei.. Kamu kenapa sayang" Jalal menangkup wajah Jodha dan kaget melihat mata Jodha yg berkaca-kaca, "Sayang,kamu kenapa nangis?"

Jodha masih tak berani menatap Jalal "Aku minta maaf"

"Kenapa kamu minta maaf. Lihat aku sayang"

Jodha menatap Jalal "Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu dengan keinginanku"

"Ssttt... Kamu gak perlu minta maaf sayang. Aku ngerti dengan keadaanmu. Justru aku yg seharusnya minta maaf karena tidak bisa mengabulkan keinginanmu" Jalal menghapus air mata Jodha.

Jodha merebahkan kepalanya di dada Jalal dan memeluknya "Aku gak jadi ingin ketemu Rajat tokas"

Jalal tersenyum "Benarkah?"

"Akhirnya" batin Jalal lega.

"Iya. Tapi aku ingin yg lain"

Jalal melepaskan pelukan Jodha "Ingin apa?"

"Aku ingin makan rujak cingur khas surabaya"

Kening Jalal berkerut "Dimana belinya? Sepertinya agak susah mencarinya"

"Tuh kan. Kamu pasti gak mau lagi mengabulkan permintaanku" Jodha cemberut.

"Eeehh.. Bukan begitu sayang" Jalal bingung.

"Memangnya harus sekarang ya?"

"Enggak!  Tahun depan! Ya sekarang dong. Gimana sih"

Jalal menggaruk kepalanya yg tidak gatal. Dia berpikir dimana harus mrncari rujak cingur khas surabaya. Tiba-tiba dia teringat seseorang. Jalal mengeluarkan hp dari saku celananya "Sebentar ya sayang"

Jalal mendial sebuah nomer menghubungi seseorang. Jodha mengerutkan keningnya,penasaran dengan orang yg dihubungi Jalal.

Jalal menunggu orang diseberang untuk mengangkat teleponnya. Setelah deringan ketiga baru diangkat oleh orang itu.

"Halo... Assalamualaikum" Jawab seorang wanita.

"Waalaikumussalam... Emaaak"

Jodha bergumam "Emak"

"Eh... Anakku yg paling ganteng telepon. Ada apa nih? Kangen ya sama emak" Si emak begitu sumringah mendengar suara Jalal.

"Enggak mak. Aku cuma ingin minta tolong"

"Jiiiaahhh... Kirain kangen sama emak. Ternyata telpon emak karena ada udang dibalik rempeyek to" Emak langsung lemes.

"Hehehe..." Jalal nyengir, "Begini mak,aku minta tolong kirimin rujak cingur surabaya. Istriku lagi ngidam nih"

"Hah! Ngirim rujak cingur kesana. Bocah edan! Ya mana bisa Jalal. Sampe sana sudah basi dan jadi bubur"

"Terus gimana mak. Jodha inginnya sekarang dan aku gak tau harus cari dimana"

"Hadeehh... Bikin pusing nih punya anak satu yg gantengnya gak ketulungan" Si emak tepok jidat sedangkan Jalal malah nyengir. Jodha kepo dengan pembicaraan Jalal dengan emaknya.

"Emak punya solusi nih"

"Apa mak?"

"Emak punya kenalan disana yg jualan rujak cingur khas surabaya dan dia juga asli orang surabaya. Kamu beli saja disana dan bilang kalau emak yg kasih tau. Emak kasih alamatnya. Buruan catet"

Jalal buru-buru bangkit dari duduknya lalu mengambil secarik kertas dan pulpen. Dia mulai menulis alamat yg diberi tau oleh emak. Sedangkan Jodha hanya diam memperhatikan suaminya yg sibuk sendiri.

"Baik mak. Terima kasih banyak. Pokoknya emak memang Is the best"

"Iya dong. Emak gitu loh"

"Ya sudah emak. Aku mau mencari rujak cingurnya dulu"

"Woke lah. Titip salam buat Jodha ya,mantuku yg cantik. Jaga diri dan bayinya"

"Iya mak. Terima kasih. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"

Jalal menutup teleponnya lalu menghampiri Jodha "Sayang,dapat salam dari emak"

"Waalaikumussalam. Kamu ngomong apa saja sama emak"

"Aku tanya rujak cingur ke emak"

"Oohhh"

"Oh iya sayang, aku keluar dulu ya untuk membelinya" Jalal terburu-buru keluar.

"Eeeh... Kamu gak mandi dulu"

"Enggak usah. Nanti saja. Bye sayang"

Jodha hanya bisa melongo melihat Jalal yg pergi dengan terburu-buru.






===================================================







Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...