Langsung ke konten utama

CINTA? ATAU BALAS BUDI? ( PART 23 )

Mr.cold dataaaaaannnngggg.....

Maaf ya kalau updatenya lama. Kemarin tuh aku sudah nulis separo tapi tiba2 hilang gara2 hpku error. Akhirnya nulis lagi deh. Dan hasilnya makin oleng karena part ini mr.coldnya agak omes…

Hehehe...

Udah ah basa basinya. Langsung capcus ke TKP....

(๑>؂<๑)(๑>؂<๑)




#INTERMEZZO;

Mr.Cold; "Emak. Lama banget baru update ceritaku. Bosen tau nunggunya"

Emak; "Lha,mau gimana lagi Al. Kemarin emak udah capek2 nulis terus ilang gitu aja tulisnnya. Sebel kan"

Mr.Cold:"Tapi gak juga harus buat aku jadi omes dong mak. Image ku yg cold kan jadi luntur" (Sambil merajuk)

Emak; "udah deh. Gak usah pake merajuk segala Al"

Mr.Cold; "Awas loh mak,kalau besok emak telat ngepost lagi. Aku bakal ngajak begum seharem buat demo emak"

Emak; "Ya. Silahkan aja kalau mau demo. Paling ceritamu bakal emak CUT" (sambil mengarahkan telunjuk ke leher)

Si Mr.Cold langsung menciut.

"Hahahaha" Emak ketawa ala valak.  (emang valak ketawanya gitu ya)

------

------

------

-----



# CINTA ATAU BALAS BUDI #

PART 23

-------------------------*****************--------------------------

"Kau..." Jalal kaget dengan kedatangan pria itu.

"Armaan Rahartomo"

"Yes... That's me. How are you bro?" Armaan merangkul Jalal dan dibalas oleh Jalal. Armaan adalah sahabat Jalal sejak kecil. Dia baru saja kembali dari london untuk meneruskan kuliahnya.

"Aku baik bro. Kau tampak berbeda sekali. Aku hampir saja tak mengenalimu"

Armaan tersenyum "Apa aku terlihat lebih tampan?"

"Hahaha... Kau ini masih saja narsis seperti dulu. Tapi kuakui kau sekarang terlihat lebih berwibawa"

"Terima kasih pujianmu"

Mereka berdua tersenyum bahagia karena sudah lama tak bertemu. Sedangkan Jodha mengerutkan keningnya bingung.

"Kapan kamu datang? Kenapa tak memberitahuku" Jalal melepaskan pelukannya.

"Sejak tadi. Aku memang ingin memberimu kejutan. Tante Hamidah bilang kamu sedang mengantar pamanmu,jadi aku tunggu saja" Armaan menoleh ke Jodha, "Apa wanita cantik ini istrimu?"

"Ya. Dia istriku. Jodha,kenalkan ini Armaan,sahabatku"

"Jodha"

"Armaan"

Ucap mereka bersamaan sambil berjabat tangan. Jodha tersenyum dibalas juga oleh Armaan.

"Wah.. Pantas saja kamu buru-buru menikah tanpa menungguku karena  istrimu ini cantik sekali" goda Armaan sambil tersenyum manis.

Jodha tersipu malu dengan pujian Armaan. Jalal jadi jengah dengan godaan Armaan.

"Jangan menggoda istriku bro"

"Ehem.. Cemburu nih"

"Sudah.. Ayo kita duduk" Jalal mempersilahkan Armaan untuk duduk.

"Aku ke kamar dulu,mau menaruh barang-barang" Pamit Jodha.

"Ya. Silahkan"

Jodha berjalan menuju kamarnya dengan masih ditatap oleh 2 pria ganteng.

"Tante juga masuk dulu ya nak Armaan" Hamidah ikut berpamitan.

"Eh.. Iya tan. Silahkan"

Kini tinggal mereka berdua di ruang tamu.

"Gimana kuliahmu? Lancar?"

"Iya. Setelah lulus aku langsung kembali kesini untuk menggantikan papa di perusahaan"

"Aku gak nyangka ternyata kamu berhasil melewati ujian yg diberikan papamu"

"Ini semua kan kulakukan demi dia" wajah Armaan terlihat sendu.

Jalal tersenyum dan menepuk bahu Armaan "Kamu masih merindukannya"

"Tentu saja. Bagaimana kabarnya? Dia baik-baik saja kan"

"Dia baik dan sehat"

Tak lama Jodha datang menghampiri mereka yg masih asyik berbincang setelah membereskan barangnya. Jodha lalu duduk di sebelah Jalal. Sedangkan Armaan berada di depan mereka. Reflek Jalal mengalungkan sebelah tangannya di bahu Jodha sambil kaki sebelahnya diangkat ke kaki satunya. Jodha agak sedikit kaget dengan tindakan tiba2 Jalal.

"Hm.. Mentang2 pengantin baru. Bermesraan terus ya" goda Armaan.

Jalal tersenyum manis sedangkan Jodha terlihat salah tingkah. Dia menoleh ke Jalal dan memberi kode dengan matanya agar melepaskan tangannya namun Jalal justru mengendikkan bahu membuat Jodha melotot ke arahnya.

"Oh iya Jodha,bagaimana caramu melumerkan hati si mr.cold ini,padahal selama ini banyak gadis yg berebut meminta perhatian padanya tapi kau justru dengan mudah menaklukkannya"

"Hah... Aku..tidak melakukan apapun"

"Pasti ada sesuatu di dirimu yg membuat Jalal klepek-klepek" Armaan tersenyum menggoda.

Jodha tersenyum kecut "Andai saja kamu tau kalau kami hanya dijodohkan. Tidak ada sesuatu dariku yg bisa membuatnya mencintaiku" batin Jodha.

"Sudah.. Jangan bertanya terus pada istriku. Lihat wajahnya sudah merah seperti itu"

"Kau cemburu tuan Jalal?" sahut Armaan.

"Aku tidak cemburu. Hanya saja aku kasian melihat wajahnya yg merah karena malu" kini giliran Jalal yg menggoda Jodha. Jodha kembali melotot ke arahnya.

"Ciiee.. Perhatian banget sama istrinya. Kau tau Jodha,dulu Jalal ini orangnya kaku loh. Gak pernah menggoda gadis manapun. Tapi setelah bersamamu,dia banyak berubah" Jalal mendengus mendengar Armaan menyindirnya.

"Silahkan diminum tehnya,Armaan" Jodha mengalihkan pembicaraan.

"Kau benar Jodha. Aku sampai lupa tidak minum. Sahabatku ini mana pernah menawarkan aku minum" Armaan langsung meminum tehnya namun masih sempat mencela Jalal.

"Biasanya kamu juga ngambil minuman sendiri tanpa ditawarin" Sahut Jalal tak terima. Armaan tertawa dengan rajukan Jalal.

Jodha ikut tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Sekali lagi Jodha melihat sisi lain dari seorang Jalal yg hangat dan menjadi dirinya sendiri bila berhadapan dengan sahabat maupun keluarganya.

Saat mereka bertiga asyik berbincang,datanglah Sehnaz dan Shivani yg membawa banyak barang belanjaan.

"Huh.. Hari ini benar-benar melelahkan ya Vani. Kita sampai harus berdesak-desakan untuk mendapatkan barang yg kita mau"

"Iya benar. Aku sampai haus"

Mereka berdua berjalan tanpa melihat ada orang diruang tamu yg melihat ke arah mereka.

"Sehnaz... Shivani"

Mereka berdua langsung bersama-sama menoleh saat Jalal memanggil mereka. Sehnaz terkejut melihat Armaan berdiri di sebelah Jalal. Begitupun dengan Armaan sama terkejutnya.

"Kak... Armaan"

"Hai Sehnaz"

Armaan menghampiri Sehnaz yg masih mematung ditempatnya. Shivani yg berada disamping Sehnaz agak heran dengan sikap Sehnaz.

"Bagaimana kabarmu?" Armaan tidak melepaskan pandangannya sedikit pun pada Sehnaz.

"Aku baik-baik saja kak" jawab Sehnaz dengan canggung"

Jalal ikut melangkah dan menghampiri mereka "Armaan,kenalkan ini Shivani. Adik Jodha"

Armaan lalu menoleh ke Shivani "Hai Shivani,aku Armaan. Sahabat Jalal" Armaan mengulurkan tangannya.

"Shivani,kak" Shivani juga membalas uluran tangan Armaan.

"Kalian darimana saja kok baru pulang"

"Kami.. Berbelanja kak" Shivani menjawab sambil menunjukkan barang bawaannya.

"Ya sudah. Kalian masuk dulu ke kamar. Setelah ini kita akan makan malam bersama"

"Iya kak"

Sehnaz dan Shivani pergi ke kamar mereka. Jodha penasaran kenapa Sehnaz tiba-tiba menjadi pendiam. Biasanya dia yg sering mengoceh. Tapi kenapa begitu bertemu Armaan,dia jadi sedikit aneh.

Selama makan malam berlangsung,Sehnaz kembali menjadi pendiam. Dan Armaan terus saja menatap Sehnaz sedangkan yg ditatap hanya menundukkan kepalanya.

"Jadi kamu sekarang menjadi CEO di perusahaan papamu ya nak Armaan?" Armaan mengalihkan perhatiannya dari Sehnaz ke Hamidah.

"Iya tante. Papa mempercayakan saya mengurus perusahaannya disini"

"Kamu hebat Armaan. Sekarang sudah bisa meneruskan perusahaan papamu" puji Hamidah.

"Terima kasih tante. Saya bisa begini juga karena seseorang" Armaan kembali menatap Sehnaz. Kali ini Sehnaz mendongak menatap Armaan.

"Pasti seseorang yg spesial ya"

"Iya tante"

"Kamu gak ada bedanya dengan Jalal. Sama-sama berubah karena seseorang" Hamidah melirik Jalal. Jalal mengerutkan kening.

"Memang apa yg berubah dariku,Ma?"

"Kamu dulu kan kaku banget dan terlalu serius. Tapi sekarang sudah bisa bercanda" Jalal hanya diam mendengar perkataan mamanya.

"Dan itu kamu berubah karena Jodha" Hamidah kembali melanjutkan kata-katanya. Kini Jodha yg memerah malu.

"Hahaha... Tante benar. Hanya Jodha yg bisa menaklukkan si Mr.Cold" sahut Armaan yg langsung mendapat pelototan dari Jalal.

Suasana kembali ceria setelah sebelumnya ada kecanggungan. Dan Jodha menangkap sesuatu yg ganjil antara Armaan dan Sehnaz. Namun Jodha tak berani bertanya.

®®®

Keesokan paginya,Jodha membantu Hamidah memasak. Hari ini adalah hari kelahiran Hamidah,jadi dia ingin membuat masakannya sendiri dan dirayakan bersama anak-anak dan menantunya dengan perayaan sederhana. Tanpa ada pesta apapun. Selain Hamidah dan Jodha,Sehnaz dan Shivani juga ikut membantu. Jadilah mereka berempat meramaikan dapur. Bi maham juga membantu namun Hamidah menyuruhnya merapikan meja makan dan peralatan dapur. Khusus hari ini dapur akan dikuasai Hamidah.

Hamidah dan Jodha memasak rendang,capcay dan kepiring saos asam manis. Sedangkan Sehnaz dan Shivani kebagian membuat minuman es kelapa muda.

Jalal sehabis mandi dan berpakaian rapi,dia segera menuju ke dapur. Saat Jalal ada di depan pintu dapur,dia melihat semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan kehadiran Jalal tidak ada yg tau. Bau masakan mulai menyengat indra penciumannya. Jalal bersandar di pintu dengan tangan bersedekap di dada melihat orang-orang yg dia sayangi berkumpul disana sambil tersenyum.

Dia melihat Sehnaz yg ribut memotong es batu sedangkan Shivani menyiapkan kelapanya. Lalu pandangan beralih ke Jodha yg membantu mamanya mengaduk masakan di penggorengan. Jodha memakai dress selutut lengan pendek motif polkadot dan memakai apron berwarna merah. Rambutnya digulung dengan sebuah pita rambut hingga menyisakan sedikit helain rambut di telinga kirinya. Entah mengapa menurut pandangan Jalal,Jodha terlihat begitu….SEXY.

Ya tuhan…..pagi-pagi dia sudah berpikiran liar. Jangan sampai pikiran liarnya membuat dia lepas kendali.

Huuffff…..

Jalal menghembuskan nafasnya kasar. Membayangkan Jodha saja sudah membuatnya frustasi seperti ini. Terlebih kejadian tadi pagi,membuatnya meringis merasakan sesuatu yg mendesaknya di bawah sana sehingga pagi-pagi dia harus mandi air dingin.


@ Flashback,,,,,

Jodha bangun terlebih dahulu sebelum Jalal bangun. Dia merasa lega karena kejadian waktu malam pertamanya tidak terjadi lagi dimana dia memeluk Jalal dengan begitu eratnya. Seperti biasa,kali ini gulingnya telah berhasil menyelamatkannya dari rasa malu. Tiba-tiba wajahnya merona mengingat hal itu. Untuk menghilangkan pikiran yg tidak-tidak,dia segera pergi ke kamar mandi.

Saat sudah selesai mandi,Jodha lupa tidak membawa baju ganti saking terburu-buru tadi. Akhirnya dengan terpaksa dia keluar hanya menggunakan handuk yg hanya menutupi area dada hingga pahanya untuk mengambil bajunya. Saat membuka pintu,dia mengintip keluar apakah Jalal sudah bangun atau belum. Begitu melihat Jalal yg masih tertidur,dia memberanikan dirinya keluar dari kamar mandi dengan perasaan was-was. Jodha berjalan mengendap-ngendap seperti maling supaya tidak membangunkan Jalal.

Setelah dia berada di depan lemari pakaiannya,Jodha membuka lemari lalu mulai memilih baju. Selama memilih baju sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat Jalal. Saat memilih baju saking paniknya,dia menjatuhkan beberapa bajunya hingga menimbulkan suara berisik.

“Aduuhhh...kenapa pakai jatuh sih” Jodha mengomel sambil menunduk memunguti pakaiannya.

Jalal yg merasa mendengar suara berisik langsung terbangun dari tidurnya karena kaget. Dia mengerjapkan matanya dan menoleh ke sumber suara yg mengganggu tidurnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Jodha menunduk hanya dengan menggunakan handuk yg memperlihatkan sebagian paha mulusnya yg putih. Mata Jalal sampai melotot melihatnya dan dengan mulut menganga. Dia langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dengan kaki masih berada di atas ranjang.

“Jodha…”

Jodha kaget sampai menjengit. Dia reflek berdiri dan berbalik menghadap Jalal sambil memegang sebuah baju.

“Ya tuhan….” gumam Jodha saat melihat Jalal yg melongo menatap tubuhnya.

Karena pegangannya yg kurang erat dan efek terkejut,membuat handuk Jodha tiba-tiba melorot hampir memperlihatkan belahan dadanya. Reflek Jodha kembali menarik handuknya keatas. Beruntung sebagian tubuhnya tertutupi baju yg dia pegang.

Jalal yg hampir sekilas melihat bagian tubuh Jodha yg indah itu hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya sampai naik turun perosotan di tenggorokannya.

“Maaf” setelah berkata satu kata itu,Jodha langsung buru-buru kembali ke kamar mandi dengan wajah merah padam karena malu. Begitu masuk ke kamar mandi,dia menutup pintu dan bersandar dengan jantung yg berdebar kencang.

“Iihhhh...bodoh...bodoh kau Jodha. Kenapa sih kamu selalu membuat malu dirimu sendiri” Jodha memukul kepalanya. Dia merutuki dirinya sendiri yg selalu bertindak konyol di depan Jalal.

“Bagaimana nanti aku bertemu dengannya. Aku gak akan berani menampakkan wajahku di depannya”

Akhirnya masih dengan wajahnya yg memanas karena malu,Jodha segera berganti pakaian hingga tanpa sadar dia mengambil baju sembarangan. Tapi untung saja baju yg dia ambil masih dibilang bagus untuk dipakai dirumah.

Jangan tanyakan lagi ekspresi Jalal. Dia masih menatap pintu kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdegup tak karuan dan yg paling membuatnya frustasi adalah barang pusakanya yg tiba2 menegang membuatnya meringis menahan sakit.

“Sabar ya jagoan. Kali ini kamu harus puasa dulu. Tapi aku janji,kamu akan bertemu dengan pasanganmu bila waktunya telah tiba” Jalal berbicara seperti orang gila dengan sesuatu di balik celananya. Jalal mengusap wajahnya sambil menggeram frustasi.

“Sepertinya aku harus mandi lagi dengan air dingin. Hhhhhh…..” Jalal kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang lalu menutup wajahnya dengan bantal.

@ Flashback end….



Jalal kembali tersenyum mengingat hal itu sambil menggelengkan kepalanya. Jodha benar2 telah menyiksanya. Melihat Jodha memasak dengan serius,tiba2 muncul ide jahil di kepalanya.

Jalal berjalan ke arah Jodha dengan perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara. Sehnaz dan Shivani melihat Jalal dan ingin menyapanya namun secepat kilat jari telunjuk Jalal ditaruh di mulutnya. Menyuruh agar mereka berdua untuk diam. Sehnaz dan Shivani mengerti dan menuruti perintah Jalal. Mereka berdua terkekeh melihat tingkah Jalal.

Setelah sampai di belakang Jodha,Jalal langsung melingkarkan tangannya di perut Jodha. Memeluknya dari belakang.

“Selamat pagi,Hunny”

Jodha menjengit kaget saat Jalal memeluknya dan berbisik kata mesra di telinganya “Ja...lal…” jawab Jodha terbata-bata.

“Hmmm...kamu masak apa hunny? Baunya wangi sekali”

Hamidah,Sehnaz,Shivani dan bi Maham tersenyum melihat mereka berdua.

“Aku..sedang memasak capcay” Jodha menjawab dengan wajahnya yg merona karena malu dilihat oleh mereka. Jalal tersenyum melihat wajah Jodha yg tersipu malu.

“Ciieeee...pengantin baru nih. Mesra amat sih pagi-pagi. Bikin iri aja” celetuk Sehnaz.

“Ya...namanya juga pengantin baru. Wajar dong kalau mesra terus. Gak ingin sedetik pun berjauhan” Jalal semakin gencar menggoda Jodha. Jodha mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.

Jodha tau Jalal melakukan ini agar mereka terlihat mesra di depan mamanya. Meskipun sebenarnya saat ini hatinya meloncat kegirangan diperlakukan Jalal seromantis ini. Membuat wajahnya panas hingga tak bisa lagi menyembunyikan rona merah itu.

“Sudah Jalal, jangan ganggu Jodha. Nanti masaknya gak selesai-selesai” Hamidah menepuk bahu Jalal.

Jalal melepaskan pelukannya dan entah mengapa Jodha meras kehilangan.

“Aku bantu ya” Jalal berdiri disamping Jodha dan ikut menggoreng dengan tangannya memegang tangan Jodha yg mengaduk masakan.

“Eehhh...sudah tidak usah ikut membantu. Sana ke ruang tamu” Hamidah menjewer telinga Jalal.

“Aduuhh...Ma. Sakit” Jalal mengaduh kesakitan setelah Hamidah melepaskan jewerannya. Jodha,Sehnaz dan Shivani tertawa cekikikan.

“Huhuhu...emang enak dijewer” sahut Sehnaz.

“Dasar nanaz” Jalal melempar sebuah wortel yg sudah diiris ke arah Sehnaz lalu berlari menuju ruang tamu.

“Aaaaaahhh...kakak jahat!”

Hahahahahahhaha….

Suara tertawa Jalal menggema di dapur. Semua yg ada di dapur ikut tertawa melihat interaksi ajaib antara Jalal dan Sehnaz.

Setelah semua masakan siap,bi Maham segera menyiapkannya diatas meja makan. Semua orang lalu berkumpul untuk sarapan bersama. Suasana selama sarapan terasa ramai dengan celotehan Sehnaz. Berbeda sekali dengan sikapnya tadi malam. Sehnaz kembali ceria seperti biasa.

©©©

“Dasar modus! Cari kesempatan dalam kesempitan” Jodha melempar Jalal dengan bantal dan guling secara bertubi-tubi. Setelah sarapan,mereka kembali ke kamar. Dan Jodha mulai menyerang Jalal.

“Hei...apa-apan kamu Jodha” Jalal menangkis serangan Jodha dengan kedua tangannya.

“Kamu tuh tadi ngapain meluk aku”

“Kan aku sudah bilang berapa kali kalau kita harus terlihat mesra di depan mama” Jalal yg masih menangkis serangan Jodha kini menghampirinya untuk menghentikan gerakan Jodha.

Jodha panik karena Jalal mendekatinya. Dia mencari bantal untuk menyerang lagi tapi tidak ada satu bantal pun yg tersisa. Jodha makin terpojok di tepi ranjang.

“Kamu mau apa!”

“Menurutmu?”

Jalal semakin mendekat dan Jodha tak bisa bergerak lagi. Kakinya membentur tepian ranjang dan akhirnya terjatuh di ranjang. Jalal menunduk dan menindih Jodha diatasnya dengan tangannya menahan tubuhnya.

“Jalal...ap..pa yg kaulakukan” Jodha begitu ketakutan. Jalal menatapnya dengan intens membuatnya jantungnya semakin berdebar keras.

“Jangan macam-macam...Jalal”

Jalal tersenyum menyeringai “Kau tenang saja hunny. Aku tidak akan menyentuhmu. Kecuali kau sendiri yang memintanya padaku” Jalal mengedipkan sebelah matanya. Jodha melongo dibuatnya.

Jalal lalu bangkit dan berjalan santai ke kamar mandi sambil tertawa. Dia senang sekali menggoda Jodha. Melihat wajahnya yg ketakutan seperti tadi membuatnya gemas. Jalal sebenarnya tadi hanya ingin menggodanya,namun saat wajahnya berdekatan dengan Jodha dan melihat bibir merahnya membuat dia hampir saja tergoda untuk menciumnya. Beruntung akal sehatnya masih berfungsi dan tidak sampai kebablasan.

Jodha yg masih sock lalu bangun dari tidurnya dan memaki Jalal “Dasar Mr.Cold omes! Awas saja kau!”

Hahahahahaha…..

Jalal malah tertawa semakin kencang mendengar makian Jodha padanya.

°°°°°°

Beberapa hari kemudian,Jodha dan Jalal kembali bekerja seperti biasa. Sebenarnya Jalal tidak mengijinkannya bekerja karena sekarang Jodha sudah menjadi istrinya. Istri seorang direktur.

Apa kata dunia!!!!!

Namun seperti biasa Jodha selalu menentangnya dengan sifat keras kepalanya. Dia tidak mau hanya diam dirumah menjadi istri direktur perusahaan. Itu bukan gayanya sama sekali. Dia bukan tipe wanita yg suka menganggur.

Alhasil mereka berdua berdebat lagi seperti tom & jerry. Padahal mereka pengantin baru.

Jodha disambut hangat oleh para pegawai Jalal. Mereka sekarang sungkan dan lebih hormat ke Jodha. Termasuk Atghah dan Moti. Sebenarnya dia merasa canggung dengan sikap perubahan mereka. Tapi mau bagaimana lagi,ini sudah resiko sebagai istri seorang pimpinan perusahaan bukan. Bahkan mereka semua kini memanggilnya dengan sebutan ‘Bu Jodha’.

Lain lagi dengan Jalal yg kini malah termenung diruangannya. Dia sedang memikirkan sesuatu yg serius. Dia sedang menunggu telepon dari seseorang yg akan mengabarkan berita penting padanya. Jalal mengetuk-ngetuk mejanya dengan pulpen. Seakan tak sabar.

Taka berapa lama hpnya berbunyi. Jalal melihat nama di layar hpnya terpampang nama seseorang yg ditunggunya. Jalal lalu menekan tombol hijau.

“Katakan...” ucapa Jalal dengan tegas.

“Kami sudah menemukannya pak”

“Bagus. Jangan biarkan dia lolos lagi. Dia harus membayar semua yg telah dia lakukan”

“Baik pak. Akan saya bereskan”

Jalal menutup teleponnya dan tersenyum menyeringai “Petualanganmu sudah berakhir. Saatnya kau membayar semuanya”

Pandangan Jalal tertuju pada pigura foto yg ada di meja kerjanya. Foto pernikahannya dengan Jodha.

•••••

Jodha,Sehnaz dan Shivani sedang menonton tv di ruang keluarga. Bel rumah mereka berbunyi tanda ada tamu berkunjung. Bi maham membuka pintu. Setelah menerima tamu,bi Maham segera menghampiri Jodha dengan terburu-buru.

“Non Jodha”

“Iya bi”

“Ada yg ingin bertemu dengan non Jodha” bi Maham berkata dengan sedikit takut.

“Siapa bi?”

“Polisi”

“Polisi!” Jodha,Sehnaz dan Shivani berkata bersamaan.

“Iya. Mereka menunggu di ruang tamu”

Jodha mengerutkan bingung. Kenapa polisi mencarinya. Jodha beranjak dari duduknya dan menghampiri para polisi itu diiringi sehnaz dan Shivani di belakangnya.

Saat Jodha menuju keruang tamu,Jalal turun dari tangga dan melihat Jodha dengan wajah kebingungan. Jalal lalu mengikuti Jodha.

“Selamat sore. Apa anda yg bernama bu Jodha” seorang polisi mengulurkan tangannya pada Jodha.

“Selamat sore pak. Iya benar saya Jodha. Ada yg bisa saya bantu pak” Jodha melihat ada 3 orang polisi.

“Sebelumnya kami minta maaf atas kedatangan kami mengganggu waktu luang anda. Apakah anda kenal dengan orang yg bernama Sarifuddin” Polisi itu memberikan selembar foto pada Jodha. Jodha menerimanya.

“Iya pak. Saya mengenalnya. Dia paman saya”

“Kami meminta izin agar anda ikut kami untuk mengenali mayatnya”

“Apa! Mayat! Apa maksud anda pak” Jodha terkejut bukan main.

“Kami telah menangkapnya dan dia tewas terbakar di dalam mobil saat dikejar oleh anggota kami”

Jodha dan Shivani kembali kaget mendengar berita tentang kematian tragis paman mereka. Jalal yg berada di belakang mereka tersenyum sinis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 &#128283; SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...