# CINTA ATAU BALAS BUDI #
PART 22
(╬▔皿▔) (╬▔皿▔) (╬▔皿▔) (╬▔皿▔)
Malam semakin larut. Para tamu undangan mulai meninggalkan pesta satu persatu. Keluarga Jodha yg dari luar kota pamit untuk masuk ke dalam kamar yg sudah dibooking oleh Jalal untuk beristirahat dan besok bisa segar kembali untuk kembali ke rumah.
Sang mempelai pengantin juga ikut berpamitan pada keluarganya menuju ke kamar setelah sebelumnya makan malam bersama keluarga besarnya. Mereka berdua kelaparan karena belum sempat makan sejak akad tadi. Begitu sampai di kamar pengantin,Jodha masuk kedalam lalu duduk di meja rias melepaskan semua aksesoris yg menempel di tubuhnya. Sedangkan Jalal menutup pintu dan menguncinya lalu menghempaskan pantatnya di sofa yg berada tak jauh dari meja rias. Jalal mengamati Jodha yg sedang sibuk melepaskan aksesoris yg ada dikepalanya.
Karena banyaknya jepitan yg bersarang dirambutnya,membuat Jodha agak kesusahan melepaskannya. Kadang dia meringis kala jepit2 itu mengenai catok kepalanya. Jodha rasanya ingin buru-buru melepaskan semuanya hingga terlihat tak sabaran. Yg Jodha inginkan sekarang adalah segera mandi lalu mengistirahatkan tubuhnya yg terasa lelah dan lengket. Bahkan dia tak memperhatikan Jalal yg sedari tadi menatapnya saking sibuknya dia dengan rambutnya.
Jalal yg melihat Jodha kerepotan hanya tersenyum geli. Bahkan Jodha tidak mau minta tolong padanya bila memang dia membutuhkan bantuan.
"Dasar keras kepala" gumam Jalal.
Melihat Jodha yg kerepotan sendiri,Jalal bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jodha. Jalal kini berada di belakang Jodha yg dan membantu melepaskan jepitan rambutnya. Jodha terkejut dengan tindakan Jalal yg tiba-tiba itu.
"Kalau butuh bantuan bilang saja" ucap Jalal sambil melepas jepitan kecil di rambut Jodha dan masih tersenyum geli.
Jodha yg melihat Jalal dari kaca di depannya hanya mendengus "Aku bisa sendiri"
"Kamu sudah kerepotan begini masih menyangkal saja. Apa kau takut aku menyentuhmu?" Kini Jalal tersenyum menyeringai.
"Jangan macam-macam Jalal! Ingat perjanjian kita" Jodha meletakkan kedua tangannya didepan dada dengan wajah yg sedikit takut.
Jalal tertawa "Hahaha... Wajahmu lucu sekali Jo. Aku hanya ingin membantumu. Jangan GR dulu"
Jodha kembali mendengus mendengar Jalal menertawakannya.
"Kau yg mandi dulu atau aku? Atau kita mandi bersama?" Jalal mengedipkan matanya.
Mata Jodha membelalak lebar. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berbalik menghadap Jalal "Jangan bermimpi Jalal. Lebih baik aku yg mandi dulu" Jodha berjalan ke arah kopernya. Membukanya dan mengeluarkan baju tidurnya. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh. Membuat Jalal kembali tertawa terbahak.
Jalal melepas bajunya hingga tersisa kaos putih ketat dan celana panjang pengantinnya yg membungkus tubuh sixpacknya yg masih terlihat. Jalal duduk kembali di sofa dan memencet remote tv. Dia menonton tv sambil menyenderkan tubuhnya di sofa sembari menunggu Jodha mandi. Saat Jalal asyik menonton tv,hpnya berbunyi. Melihat nama yg ada di layar membuat Jalal tersenyum lalu mengangkatnya.
"Hai bro. Kenapa kamu gak datang di pernikahanku hah! Sudah lupa dengan Sahabatmu"
"......"
"Dasar kau ini. Kita sudah lama tak bertemu dan kini kau juga tak datang ke acara pentingku. Sahabat macam apa kau ini?"
"....."
"Hahaha.... Ok. Aku tunggu kedatanganmu. Iya... Iya... Akan kukenalkan kamu dengan istriku"
"....."
"Ok. Bye"
Saat Jalal mematikan hpnya,Jodha sudah keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai baju tidur dan kini sibuk mengeringkan rambutnya yg basah dengan handuk sambil berjalan ke meja rias. Jodha bahkan tidak tau bila Jalal terus melihatnya dengan terpesona.
Entah mengapa penampilan Jodha saat ini seakan terlihat sexy di mata Jalal. Jodha mengenakan gaun tidur berwarna hijau, rambutnya yg basah sehabis keramas. Membuat jakun Jalal turun naik dan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ehm..."
Deheman Jalal menghentikan gerakan Jodha. Jodha baru sadar kalau dia tidak sendirian di kamar ini. Ada Jalal,suaminya. Jodha menoleh ke arah Jalal yg kini berjalan mendekatinya. Jantung Jodha tiba2 berdegup kencang.
"Sekarang giliranku yg mandi. Di sebelah ranjang ada kado dari teman2 jika kau ingin membukanya" Jalal mengatakannya dengan sedikit parau menahan sesuatu dalam dirinya yg tiba2 menegang. Tanpa menoleh lagi,Jalal langsung menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit keras.
Braakkk...
Debuman pintu yg keras membuat Jodha berjengit kaget. Akhirnya dia bernafas lega karena Jalal tidak melakukan apa2 padanya. Jodha melihat beberapa kado yg berserakan di dekat ranjang king size itu lalu dia duduk di ranjang dan mengambil kado2 itu satu persatu.
Sedangkan di dalam kamar mandi,Jalal bersandar di pintu kamar mandi "Damn!! Kau benar2 menyiksaku Jodha. Sampai kapan aku akan bertahan menenangkannya" Jalal memaki-maki frustasi sambil melihat ke bawah di daerah sekitar pahanya. Dia meringis tersiksa.
Tanpa babibu lagi Jalal melucuti pakaiannya, berjalan ke shower dan membuka krannya. Dia biarkan air shower meredakan gairahnya.
*
Jodha mulai membuka kadonya satu persatu. Ada yg memberi satu set perhiasan,satu pasang pakaian batik, baju tidur bahkan satu set pakaian dalam berbagai merek. Jodha menggelengkan kepalanya melihat kado dari temannya dan juga kerabatnya. Yg terakhir dia membuka sebuah kado kotak besar dihiasi pita cantik yg juga ukurannya besar.
"Apa isinya ya? Besar banget" Jodha heran dengan isi kotak itu.
Dan ketika Jodha membukanya,betapa terkejutnya dengan isinya. Dua buah lingerie transparan berwarna pink dan hitam lengkap dengan G-stringnya. Jodha membelalakkan matanya dan menelan ludahnya tak percaya. Jodha melihat ada secari kertas kecil dan membacanya.
"Buat kak Jodha tersayang. Dipakai ya kado dari kami biar kak Jodha terlihat sexy dan kak Jalal jadi klepek-klepek... Xixixixi..... Dari adik2mu.. SEHNAZ-SHIVANI"
"Sehnaz... Shivani" Jodha berteriak seolah-olah ada mereka berdua di dalam kamar.
Jodha mengangkat lingerie itu tinggi2 dan kembali menelan ludah "Masa aku harus pakai baju kekurangan bahan kayak gini.... Iihhhh"
Tepat pada saat itu,Jalal keluar dari kamar mandi. Buru2 Jodha memasukkan kembali lingerie itu kedalam kotak dan menyembunyikannya di bawah ranjang.
"Bisa gawat kalau ketahuan Jalal" batin Jodha.
Jodha bergegas merapikan kado2 yg tadi telah dibukanya dan memasukkan ke lemari. Jalal heran melihat Jodha yg mondar-mandir.
"Kamu ngapain mondar-mandir gitu"
"Eh.. Ini sedang merapikan kado yg kubuka tadi"
"Oh ya. Emang isinya apa saja. Aku ingin lihat"
"Hah... Tidak usah. Isinya hanya perlengkapan untuk wanita kok" Jodha menjawabnya dengan sedikit gugup. Jalal memicingkan matanya curiga.
Jodha lalu naik ke ranjang dan merapikan bantal guling. Dia tadi juga sudah merapikan bunga2 yg bertaburan di atas ranjang. Jalal lalu ikut naik ke atas ranjang. Jodha meletakkan dua buah guling ditengah-tengah mereka. Jalal mengernyitkan dahinya.
"Kenapa guling ditaruh ditengah?"
"Ini adalah batas antara kamu dan aku. Biar kamu gak macam-macam"
"Ya ampun Jodha. Sampai segitunya. Kamu tenang aja. Aku gak akan melanggar perjanjian" Dengan hati dongkol Jalal berbaring telentang dengan tangan kanan dilipat menyangga kepalanya. Jalal merasa kecewa dengan ketidakpercayaan Jodha padanya.
"Siapa tau kan. Buat jaga-jaga" Jodha ikut berbaring namun dia tidur miring membelakangi Jalal.
Jalal menoleh ke arah Jodha yg terlihat punggungnya. Dia menghembuskan nafasnya dan mencoba menutup matanya untuk tidur. Nasibnya buruk sekali. Di malam pertama pernikahannya dia tidak bisa menikmatinya seperti pasangan pengantin lainnya. Apes sekali bukan...
Sedangkan Jodha juga berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi kenapa sulit sekali. Apa karena sekarang dia satu ranjang dengan Jalal. Hatinya masih merasa was-was.
Tak berapa lama dia mendengar denguran halus dari orang disebelahnya menandakan kalau Jalal sudah tertidur. Perlahan Jodha membalikkan tubuhnya menjadi telentang. Dia menoleh ke arah Jalal yg tertidur lelap.
"Huh.. Kamu enak sekali bisa tidur. Sedangkan aku malah masih melek begini" gumam Jodha.
Jodha menghela nafas lalu memejamkan matanya. Lama kelamaan kantuk mulai menyerangnya dan akhirnya dia pun ikut terlelap menyusul Jalal ke alam mimpi.
Pukul 2 malam Jalal terbangun dari tidurnya. Dia seperti merasakan ada sesuatu yg memeluknya. Perlahan Jalal membuka matanya dan terkejut dengan pemandangan disampingnya.
Bagaimana tidak terkejut bila kini Jodha dalam posisi memeluknya dalam tidur. Kepala Jodha berada di bahu kanan Jalal dengan mata yg masih tertutup rapat. Sesekali terdengar suara hembusan nafas Jodha. Sedangkan tangan Jodha melingkar di perut Jalal.
Jalal sampai mengucek matanya dan mencubit pipinya sendiri untuk memastikan ini bukanlah mimpi.
"Aaww.. Sakit ternyata. Berarti benar Jodha memelukku tapi dia tak sadar" gumam Jalal lirih.
Perlahan Jalal ingin memindahkan tubuh Jodha,namun tiba2 sisi iblisnya berbicara "Hai Jalal...buat apa kamu memindahkan istrimu. Biar saja dia memelukmu sampai pagi. Toh dia juga tidak sadar kan. Kalau dia sadar, dia pasti sudah menamparmu. Dikira kamu yg memeluknya. Gunakan kesempatan ini. Kapan lagi kamu bisa sedekat ini dengannya"
Jalal tersenyum menyeringai "Hmm.. Benar juga. Baiklah,biarkan saja seperti ini. Lagipula Jodha terlihat nyaman dengan posisi ini"
Jodha menggeliat dalam tidurnya dan Jalal mulai gelisah. Ditepuknya punggung Jodha menggunakan tangan kanannya yg berada dibawah tubuh Jodha.
"Sssshhh..." Jalal berdesis seperti ibu yg menidurkan bayinya.
Tak lama Jodha kembali mengeratkan pelukannya. Mungkin dia mengira Jalal adalah guling dan Jalal semakin mendekap Jodha lebih erat.
"Ternyata nasibku tidak terlalu apes juga. Tidak apa malam pertama tak dapat jatah tapi mendapat pelukan" Senyum terus tersungging di bibirnya.
"Good night honey. Nice dreams" ucap Jalal sambil mencium pucuk kepala Jodha. Perlahan dia pun mulai memejamkan mata.
•••
Sinar mentari mulai mulai menyinari bumi. Cahayanya masuk melalui celah-celah jendela kamar sepasang pengantin baru yg tidur nyaman saling berpelukan. Jodha menggeliat dan perlahan-lahan membuka matanya karena pantulan sinar sang surya.
"Hoam.. Sudah pagi" ujar Jodha sambil menguap.
Eh... Tapi tunggu sebentar. Jodha merasa ada yg aneh. Dia berada dekat sekali dengan Jalal. Bahkan aroma tubuh Jalal menusuk indra penciumannya. Dia semakin kaget saat tangannya melingkar di perut Jalal. Perlahan Jodha mendongakkan kepalanya lalu membelalakkan matanya.
Apa-apan ini? Mengapa dia bisa tidur di pelukan Jalal. Bukankah tadi malam dia sudah memasang guling sebagai penghalangnya.
Ya tuhan... Jodha melihat di tepi ranjang tergeletak guling yg tadi malam dia pasang di tengah.
"Jadi... Tadi malam aku tak sadar tidur memeluknya. OMG!" Jodha menutup mulutnya.
Dia beranjak dari tidurnya sambil menggelengkan kepala. Sekali lagi dia melihat Jalal. Apakah Jalal sudah bangun atau belum.
"Dia tau gak ya kalau aku tidur sambil memeluknya? Tidak...tidak. Dia pasti tidak tau. Kalau sampai dia tau,aku bakalan malu"
Jodha terus mengoceh. Dia kemudian berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Saat pintu kamar mandi tertutup, Jalal membuka sebelah matanya. Mengintip Jodha apakah sudah masuk kamar mandi. Setelah dirasa keadaan aman,dia membuka kedua matanya.
"Hahaha.. Jodha... Jodha. Kau mengira aku tidak tau. Padahal aku yg semakin erat memelukmu"
Jalal terus saja tertawa. Sebenarnya dia sudah bangun sejak tadi. Hanya saja dia pura-pura tertidur lagi saat Jodha bangun. Dia masih ingin menikmati memeluk tubuh Jodha.
"Kalau tiap pagi seperti ini. Bisa awet muda nih" Jalal terkekeh mendengar ucapannya barusan.
Setelah selesai membersihkan diri,Jodha dan Jalal bersama keluar kamar untuk sarapan bersama keluarganya. Selama mereka berjalan bersisian,Jodha tidak banyak bicara. Dia masih ingat kejadian pagi tadi.
"Aku harap Jalal tidak tau kalau aku memeluknya semalam. Iisshhh... Kenapa aku kepikiran hal itu terus" batin Jodha sambil meringis.
Sedangkan Jalal sedari tadi tersenyum secara diam-diam tanpa Jodha sadari. Kini mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Di restoran hotel mereka sudah ditunggu Hamidah,Sehnaz,Shivani,Imran beserta istri dan anak2nya. Rencanya dia pulang hari ini ke Bali.
"Selamat pagi semua" sapa Jalal dan Jodha.
"Pagi"
"Duh... Pengantin baru pagi-pagi sudah sama-sama keramas nih" Goda Sehnaz. Semua yg ada disana tersenyum. Jodha merona malu dan Jalal pura-pura cuek. Dia sudah biasa dengan godaan adiknya.
"Sehnaz... Jangan goda kakakmu" sahut Hamidah, "Ayo kita sarapan"
Semua duduk ditempat masing-masing. Setelah pesan makanan,mereka mulai sarapan bersama. Sehnaz tak henti-hentinya menggoda Jalal. Jalal jadi risih dan malu karena ada paman Jodha dan keluarganya. Jalal terus menatap tajam ke Sehnaz namun dibalas Sehnaz dengan cengiran.
Selesai sarapan,mereka kembali ke kamar dan bersiap untuk pulang. Sebelum pulang kerumah,Jodha dan Jalal akan mengantar paman Ihsan dan keluarganya ke bandara.
Ihsan menunggu di lobi bersama Hamidah,Sehnaz dan Shivani. Tak lama Jalal dan Jodha datang.
"Sudah siap paman?" tanya Jalal.
"Iya"
"Sehnaz,Shivani. Kalian mau ikut mengantar atau tidak"
"Kami gak ikut kak. Takut ganggu pengantin baru" jawab Sehnaz mulai menggoda.
"Kau ini" Jalal geram karena sehnaz selalu menggodanya.
"Jangan marah kak. Aku dan Sehnaz mau jalan-jalan dulu. Paman,bibi. Maaf ya aku gak bisa ngantar" Ujar Shivani.
"Iya. Tidak apa-apa. Kami berangkat dulu. Terima kasih bu Hamidah sudah menerima kami" Jawab Ihsan.
"Sama-sama pak Ihsan. Hati2 di Jalal"
Ihsan beserta istri dan anak2nya bersalaman pada Hamidah,Sehnaz dan Shivani lalu berangkat ke bandara diantar Jodha dan Jalal.
Begitu sampai bandara,Ihsan berpamitan.pada Jodha dan Jalal "Paman pulang dulu ya. Kalian yg rukun. Bila ada masalah dalam rumah tangga,selesaikan secara baik-baik"
"Iya paman" jawab Jodha dan Jalal.
"Bibi titip Jodha ya Jalal. Dia tidak ada keluarga disini" ucap Sumarni.
"Iya bi. Saya akan menjaganya"
"Jodha,kamu nurut sama suami. Karena kamu sudah menjadi tanggung jawabnya"
"Iya bi"
"Kak Jodha. Kami pulang ya. Kami pasti rindu kakak. Nanti kalau kakak sudah punya anak,kasih tau kami ya" ucap Yuda.
Jodha tersenyum "iya"
"Pasti nanti anaknya kak Jodha dan kak Jalal kalau cowok ganteng dan kalau cewek pasti cantik" sahut Bima.
"Ya pastinya kak. Ayah dan ibunya aja ganteng dan cantik" Lasmini,si bungsu tak mau kalah bicara.
Semua tertawa mendengar celoteh mereka. Jodha dan Jalal saling melirik saat mereka semua tertawa.
Jodha dan Jalal kini berada di mobil setelah tadi mengantar paman Jodha. Suasana di mobil hening tanpa ada satupun yg bicara. Jodha kini tinggal dirumah Jalal dan juga Shivani. Hamidah menyuruh mereka tinggal dirumah karena biar rumah tidak sepi dan tidak memperbolehkan Jalal keluar dari rumah itu.
Jodha mengerutkan keningnya saat melihat keluar jendela. Jalan yg dia lewati sekarang tidak menuju ke rumah Jalal.
"Jalal,kita mau kemana?"
"Aku ingin memberimu kejutan" Jalal tersenyum misterius.
"Kejutan apa?" Jodha penasaran.
"Nanti juga kamu akan tau. Yg pasti kamu pasti akan senang dengan kejutanku"
"Yakin banget"
"Iya dong"
Jalal kembali tersenyum. Dan Jodha mencebikkan bibirnya. Kenapa Jalal pakai main rahasia-rahasiaan.
Jalal terus melajukan mobilnya ke sebuah kompleks perumahan yg tak asing lagi bagi Jodha. Dia semakin heran.
"Kok kita kesini? Ini kan..."
Jodha tidak melanjutkan bicaranya karena Jalal sudah berhenti di depan rumah yg cukup besar namun tidak sebesar rumahnya. Jalal membunyikan klakson dan tak lama keluar seorang satpam membukakan gerbang.
"Selamat siang pak Jalal"
"Siang juga pak Tarjo. Semua baik-baik saja kan?"
"Iya pak. Semuanya aman"
"Terima kasih pak"
"Selamat datang nyonya Jodha" Pak Tarjo menyapa Jodha yg masih terlihat bingung.
"Eh... Iya. Terima kasih pak"
Jalal memasukkan mobil kedalam dan berhenti di depan pintu rumah "Itu tadi Pak Tarjo. Satpam rumah kita"
"Rumah kita?"
"Iya. Ayo turunlah"
Jodha turun dengan pelan-pelan. Dia masih tak percaya kalau dia akan menginjakkan kakinya di rumahnya lagi.
Ya.. Jodha sekarang berada dirumahnya yg dulu disita oleh bank,rumah masa kecilnya. Rumah yg dibeli ayahnya dengan kerja keras dan keringat. Dia berjalan menuju pintu sambil mengingat kembali memori saat dulu masih bersama ayah dan ibunya.
Bayangan saat dia dan Shivani kecil bermain bola di teras bersama ayahnya tiba2 melintas begitu saja. Matanya memanas dan siap mengeluarkan liqiud bening dari mata indahnya. Jalal yg melihat mata Jodha berkaca-kaca seakan ikut merasakan kesedihan istrinya.
"Kenapa kamu membawaku kesini Jalal?"
Jodha tersenyum menenangkan "Ayo kita masuk dulu. Aku beritahu di dalam kenapa kita ada disini"
Jalal mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pintu. Jalal masuk kedalam diikuti Jodha yg mengekor dibelakangnya. Jodha semakin shock melihat keadaan di rumah ini. Tanpa sadar dia menutup mulutnya.
Rumah ini masih tetap seperti dulu. Kursinya,dekorasinya,mejanya,semuanya masih persis sama saat sebelum terakhir kali dia melihat rumah ini.
"Bi Lina..." Panggil Jalal.
Lalu keluarlah wanita paruh baya dari arah dapur. Jodha membelalakkan matanya begitu melihat wanita itu.
"Bibi... Bi Lina"
"Non Jodha"
Jodha langsung memeluk Wanita yg sudah sejak kecil menjadi pengasuhnya dan harus berpisah dengannya karena rumah yg disita.
"Bibi..." Jodha menangis di pelukan Bi Lina. Jalal terenyuh melihat dua orang yg saling menyayangi ini.
Bi Lina melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Jodha "Nona tambah cantik tapi agak kurusan"
"Bagaimana kabar bibi?"
"Alhamdulillah bibi sehat. Non sendiri sehat kan"
Jodha mengangguk sambil tersenyum. Dia begitu gembira bisa kembali bertemu dengan pengasuhnya itu.
"Bagaimana bibi bisa ada disini?"
"Ceritanya panjang non"
"Aku yg mengajaknya kesini Jodha" Sahut Jalal. Jodha dan Bi Lina sama2 menoleh ke Jalal, "Aku membawamu kesini karena ini kejutan untukmu"
"Jadi ini kejutanmu?"
"Iya. Kamu kan sudah tau kalau rumah ini sudah aku beli lagi dari bank. Dan aku juga sudah mengatasnamakan rumah ini dengan namamu. Jadi rumah ini sekarang milikmu sepenuhnya"
"Apa..." Jodha seakan tak percaya dengan kata-kata yg diucapkan Jalal tadi.
"Anggap saja rumah ini sebagai kado pernikahan dariku"
Jodha melongo sedangkan Bi Lina senyum-senyum gaje. Banyak sekali pertanyaan di benak Jodha yg ingin dia tanyakan pada Jalal dan Jalal tau akan hal itu dilihat dari wajah Jodha yg kepo.
"Silahkan kamu reunian saja dengan Bi Lina. Pasti banyak yg ingin kalian bicarakan. Aku akan keluar untuk bicara dengan pak Tarjo" Jalal lalu keluar tanpa memperdulikan Jodha yg masih penasaran.
"Udah non. Ayo kita bicara di dalam bibi akan buatkan minuman untukmu dan nak Jalal"
"Bibi jangan panggil aku non. Sudah berapa kali sih aku bilang"
"Hahaha.. Ternyata kamu masih sama seperti dulu. Aku memanggilmu begitu karena gak enak sama nak Jalal"
"Sudah,gak usah pedulikan dia. Aku kangen teh buatan bibi" Jodha bergelayut manja di lengan Bi Lina. Dia memang manja bila sudah bertemu dengan bi Lina nya.
***
"Maaf ya,bibi tidak hadir di pernikahanmu karena nak Jalal yg menyuruh. Katanya dia ingin kasih kejutan buatmu. Tapi bibi senang sekali melihatmu sudah menikah"
"Tidak apa-apa bi. Jadi ini semua rencananya dia?"
"Iya"
"Bagaimana ceritanya bi?"
"Beberapa bulan setelah rumah ini disita,Nak Jalal datang kerumah bibi dan menceritakan semuanya. Dia ingin bibi kembali kesini dan mengurus rumah ini. Tapi dia ingin bibi berjanji untuk tidak memberitahukan hal ini dulu padamu. Biar kejutan katanya" Jodha hanya mengangguk, "Bibi senang sekali kamu bisa mendapatkan suami seperti dia. Selain tampan,dia juga baik hati" Bi Lina menggodanya.
Jodha salah tingkah digoda oleh Bi Lina "Bibi belum tau aja bagaimana dia. Dia itu menyebalkan" batin Jodha tak berani bersuara.
"Dan kelihatannya dia begitu mencintaimu"
Jodha kaget dengan ucapan bi Lina "Darimana bibi tau"
Bi Lina menggengam tangan Jodha sambil tersenyum "Bibi bisa melihatnya. Dan kamu juga jangan terlalu memendam perasaanmu. Bisa menyesakkan dada"
Jodha gugup dan salah tingkah "Bibi nih ngomong apa sih" Dia menyesap tehnya untuk menghilangkan kegugupannya.
Bi Lina kembali tersenyum "Mungkin saat ini kamu belum menyadarinya. Bibi harap kamu jangan sampai menyesal bila memendamnya terlalu lama"
Wanita paruh baya itu tentu tau dengan perasaan Jodha karena dia yg merawat Jodha sejak kecil untuk membantu ibunya Jodha,Meena yg saat itu juga bekerja bersama ayahnya. Sehingga dia sudah seperti ibu kedua bagi Jodha. Meskipun mereka baru bertemu kembali.
Jodha hanya diam mendengar ucapan bi Lina. Dia tidak mau terlalu berharap karena takut akan kecewa lagi.
Tak lama Jalal masuk menghampiri mereka.
"Kata pak Tarjo,pipa yg ada di kamar utama macet ya bi?" tanya Jalal lalu duduk disebelah Jodha. Jodha sampai kaget karena Jalal tiba-tiba duduk disebelahnya lalu meminum teh milik Jodha.
"Eeh... Itu tehku. Kenapa diminum? Itu minumanmu" Jodha menunjuk gelas yg ada di depan Jalal.
"Benarkah? Aku tidak tau. Karena aku haus ya aku langsung minum saja" jawab Jalal tanpa rasa bersalah. Jodha mendengus.
Bi Lina tersenyum melihat mereka "Tidak apa-apa Jo. Kata orang tua jaman dulu,kalau suami istri makan atau minum dari piring atau gelas yg sama maka rasa cintanya akan makin bertambah"
"Tuh dengerin bi Lina ngomong" Sahut Jalal.
Jodha mengerutkan keningnya sambil mencibir "Narsis banget biar dibela sama bibi"
"Biarin"
Bi Lina tertawa "Kalian ini. Sudah jadi suami istri tapi kayak tom & jery" Jodha memalingkan mukanya saat Jalal meliriknya "Oh iya nak Jalal pipanya kemarin memang macet tapi sudah diperbaiki" Jalal mengangguk.
Setelah beberapa jam dirumah Jodha,mereka berdua pamit pulang pada bi Lina.
Mereka kini sudah berada di mobil.
"Kamu bisa sering2 main kerumahmu. Kamu bisa menaruh baju-bajumu sebagian dirumahmu. Nanti aku juga akan menaruh bajuku sebagian disini. Biar enak kalau mau main kesini. Aku akan menjelaskannya pada mama" Ucap Jalal sambil menyetir.
"Kenapa kamu melakukan ini Jalal?"
"Apa?"
"Kenapa kamu melakukan ini?" ulang Jodha.
"Ya karena kamu istriku dan rumah itu memang hakmu dari dulu"
"Hanya itu alasanmu" Jodha memicingkan matanya curiga.
"Iya. Hanya itu. Aku hanya tidak ingin kalau milikmu diambil oleh orang lain. Apalagi karena seseorang yg membuatmu harus kehilangan harta peninggalan ayahmu"
Jodha spechless. Dia teringat kembali pamannya yaitu Sarif. Orang yg telah membuat perusahaan ayahnya bangkrut hingga membuat Jodha harus kehilangan rumahnya.
"Terima kasih" Ucap Jodha tulus. Ternyata benar ucapan Jalal kalau dia akan bahagia dengan kejutan ini.
"Sama-sama" balas Jalal.
"Tak akan kubiarkan pamanmu itu hidup tenang Jo. Akan kucari dia kemanapun untuk membayar semua penderitaanmu" batin Jalal berjanji dengan penuh amarah.
Mereka berdua telah sampai dirumah Jalal. Jodha dan Jalal masuk kedalam rumah dan disambut oleh Hamidah.
"Kalian darimana? Kok baru pulang" tanya Hamidah. Jodha dan Jalal mencium tangan Hamidah.
"Kami dari rumahnya Jodha"
"Rumahnya Jodha?" Kening Hamidah berkerut.
"Nanti aku jelaskan ma. Aku mau ke kamar dulu"
"Eeh.. Tunggu" cegah Hamidah.
"Ada apa ma?"
"Ada yg ingin bertemu denganmu"
"Siapa?"
"Hai Jalal"
Jodha dan Jalal menoleh ke arah suara seorang pria. Jalal kaget dengan kedatangan pria itu.
"Kau…”
Komentar
Posting Komentar