KAMULAH JODOHKU
Bag.2
~~~~~~~÷÷÷÷~~~~~~~~~
JODHA POV
Aku sedang duduk disebuah bangku taman sambil memperhatikan kakakku dan sahabatku dari kejauhan. Ruqaya dan Surya sedang bermain sepeda dimana Surya membonceng Ruqaya. Setelah tadi aku yg dibonceng oleh Surya kini giliran Ruqaya.
Aku tersenyum melihat mereka tertawa bersama. Mengingatkanku saat masa-masa kecil kami dulu.
*Flashback
Ruqaya,Jodha dan Surya saling bersenda gurau di taman yg sering mereka kunjungi. Ketiga anak ini kemana-mana selalu bersama hingga orang-orang menyebut mereka tiga serangkai. Mereka bertiga juga bersepeda bergantian.
“Ayo,giliranku yang naik kak Ruq. Dari tadi kamu terus” ucap gadis cilik dengan rambut dikepang merajuk ke kakaknya.
“Iya Jo. Sebentar lagi ya”
“Tenang aja Jo. Nanti kamu juga dapat giliran” sahut Surya sambil merangkul bahu Jodha.
Jodha terus saja cemberut dan tak berapa lama Ruqaya menghentikan sepedanya lalu menyerahkannya ke Jodha.
“Ini naiklah. Kalau tidak kamu akan cemberut terus sampai pulang nanti”
“Asyik…” Jodha begitu gembira akhirnya dia bisa naik sepeda.
“Kak Surya...dorong sepedanya ya”
“Ay..ay...Jo” Surya berlagak hormat ke Jodha layaknya anak buah hormat pada pimpinannya.
Jodha dan Ruqaya tertawa melihat tingkah Surya yang menurut mereka lucu.
*Flashback off
Aku tersenyum mengingat kenangan itu. Kenangan masa kecil yang tak akan pernah kulupakan. Kini kami bertiga sudah dewasa dan punya kesibukan masing-masing. Karena kesibukan itulah yang membuat kami jarang berkumpul seperti dulu. Kalau aku masih bisa bertemu dengan Ruqaya dirumah tapi itupun juga tidak tiap hari.
Karena sejak dulu kami selalu bersama-sama,semua orang menyebut kami tiga serangkai. Bahkan kami juga membuat gelang dari anyaman hasil karya kami dan kami beri nama RSJ.
Kenapa kami beri nama itu karena nama itu adalah singkatan dari nama kami bertiga. RSJ yg berarti Ruqaya Surya Jodha. Bukan Rumah Sakit Jiwa. Banyak yg mengira itu singkatan dari nama di gelang kami. Namun setelah dijelaskan mereka jadi mengerti.
Tiga buah gelang berwarna biru yang kami pakai di tangan kiri kami masing-masing. Sampai saat ini pun kami masih mengenakannya. Mungkin juga sampai kami nanti menua.
Aku sibuk menjadi pegawai kantoran. Ruqaya dengan sanggar baletnya dan Surya dengan tugas dokternya. Dan saat inilah kami bisa berkumpul karena kebetulan tidak ada yg sibuk. Kesempatan ini kami gunakan untuk bernostalgia kembali.
“Jodha…”
Ruqaya memanggilku sambil melambaikan tangannya. Aku balas dengan melambaikan tangan juga.
Aku menatap Surya yg membonceng Ruqaya. Aku terpesona dengan Senyuman Surya yang menurutku sangat manis. Aku telah menyimpan perasaan pada Surya sejak kami masih kecil hingga sekarang rasa itu tak pernah pudar.
Aku menulis semua perasaanku di buku diary. Buku yang sejak kecil sampai dewasa selalu menemani hari-hariku. Di buku itulah rahasia terbesarku kusimpan. Dan rahasia itu akan aku ungkapkan bila waktunya telah tiba. Butuh keberanian besar untuk menyatakannya pada Surya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha memberanikan diri mengatakannya suatu saat nanti. Dan aku berharap dialah Jodohku.
€
JALAL POV
Aku sedang berada di studio rekaman milikku. Hari ini ada penyanyi pendatang baru yg sedang rekaman album perdananya. Aku ikut serta mengawasi dia rekaman karena akulah yang mengorbitkannya. Namanya Nazima Mukhtar. Dia wanita yg cantik dengan kulitnya yang putih dengan rambut sebahu.
Bukan rahasia lagi bila aku selalu berhubungan dengan penyanyi wanita yg aku orbitkan. Anggap saja itu sebagai imbalan karena aku sudah membuat mereka terkenal. Terserah orang menganggapku bajingan atau playboy. Aku tak perduli. Yang penting aku bersenang-senang. Bukankah hidup hanya sekali. Jadi untuk apa kita hanya bergalau ria. Setelah aku bosan dengan mereka,maka aku akan mencari yang lain yang menurutku lebih menarik.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan Nazima,asistenku tiba-tiba datang mengagetkanku.
“Pak Jalal. Ada telepon dari nyonya Hamidah”
“Oh astaga...Mamiku menelepon” batinku.
Sebenarnya aku tadi mau menyemprot asistenku dengan makian karena sudah menggangguku. Aku memang marah bila aku sedang ada proses rekaman tapi diganggu dengan hal-hal yang tidak penting. Namun kuurungkan saat mendengar mami yang meneleponku.
“Baiklah,akan kuterima”
Aku berdiri dari dudukku lalu berjalan menuju ruang sebelah yg dibatasi oleh kaca. Aku mengangkat telepon.
“Halo mam. Ada apa?”
“Ada apa!Ada apa! Apa mami tidak boleh meneleponmu” suara mamiku melengking diseberang sana membuatku harus menjauhkan telepon itu dari telingaku.
“Maaf mam. Aku gak bermaksud begitu. Hanya saja aku sedang sibuk”
“Sibuk pacaran”
“Oh...come on mam. Aku saat ini sedang bekerja. Kenapa mami menuduhku seperti itu”
“Mami tidak menuduhmu tapi memang itu sudah kebiasaanmu kan”
Jalal memutar bola matanya “Mami ada apa telepon aku?”
“Kamu kapan kerumah. Sudah seminggu kamu tidak pulang. Apa kamu sudah tidak sayang mami lagi”
“Aku sedang sibuk dengan peluncuran album perdana penyanyi pendatang baru mam. Maaf kalau aku belum bisa kerumah”
“Sejak kamu tinggal di apartemen,selalu alasan pekerjaan yang membuatmu tidak pulang kerumah. Mami kangen kamu sayang”
“Mami kalau sudah merayuku begini pasti ada maunya kan. Aku sudah bilang mam. Aku gak mau dijodoh-jodohkan. Ini sudah zaman modern mam”
“Kalau kamu tidak dijodohkan,sampai kapan kamu akan melajang terus. Apa kamu seumur hidup ingin menyendiri terus. Atau jangan-jangan kamu ada…”
“Stop mam! Aku masih normal ok. Aku masih muda,belum saatnya menikah”
“Kamu selalu alasan seperti itu. Pokoknya mami gak mau tau. Sabtu besok kamu harus pulang kerumah. Titik!”
Mami menutup teleponnya saat aku ingin menyahut. Aku menghela nafas. Mami kalau sudah ada maunya harus dituruti. Aku kembali ke tempat rekaman dan Nazima sudah menyelesaikan rekamannya.
“Hai Jalal. Wajahmu kenapa kusut begitu” tanya Nazima yang duduk disebelahnya.
“Tidak apa-apa beb. Hanya ada sedikit masalah”
“Oohh. Ehm, Jalal. Bagaimana hasil rekamanku tadi?”
“Bagus. Sangat bagus. Kamu memang penyanyi terbaik beb” puji Jalal sambil mencium punggung tangan Nazima.
“Thanks beb” balas Nazima sambil tersenyum.
“Apa kau tidak ada acara hari ini?”
“Tidak ada”
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman”
“Oohhh...i like it. Thanks beb” tangan Nazima bergelanyut manja di lengan Jalal.
AUTHOR POV
Ruqaya dan Surya selesai bersepeda. Mereka berdua lalu menuju ke Jodha. Mereka berdua tertawa sambil berjalan. Setelah sampai di depan Jodha,Ruqaya dan Surya duduk di samping Jodha.
“Sudah selesai bersepedanya?” tanya Jodha.
“Yup” sahut Surya.
“Kamu tau Jo. Tadi Surya hampir saja menabrak seorang ibu gemuk. Hahahaha....” Ruqaya tertawa terbahak.
“Oh ya,kok bisa”
“Tadi dia gak konsen dan hampir saja menabrak bila aku tidak teriak padanya”
Ruqaya tak berhenti tertawa sedangkan Surya juga ikut tertawa.
“Iya Jo. Untung Ruqaya berteriak padaku,kalau tidak aku pasti sudah dapat omelan dari ibu itu”
Hahahahaha...
Kini Jodha ikut tertawa setelah mendengar ucapan Surya. Ruqaya mengambil air mineral dari tasnya dan menyerahkan satu botol ke Surya.
“Aku pergi beli es krim dulu ya. Entah kenapa aku ingin makan es krim. Apa kalian mau juga?” tanya Jodha.
“Tidak”
Surya dan Ruqaya bicara bersamaan. Jodha mengerutkan keningnya.
“Kompak banget..”
Surya dan Ruqaya sama-sama tersenyum.
“Ya sudah. Aku beli dulu”
Jodha berdiri dari duduknya menuju ke tempat penjual es krim cone yang tak jauh dari bangku tempat mereka duduk.
Begitu sampai di depan penjual es krim,Jodha langsung memesannya.
“Pak,es krimnya satu”
Jalal dan Jodha bicara bebarengan. Mereka lalu saling berpandangan heran.
“Maaf mbak,mas. Es krimnya tinggal satu” kata si penjual.
“Kalau begitu buat saya pak” sahut Jalal.
“Eeh..enak saja. Aku duluan yang pesan. Kamu main serobot saja” Jodha merasa tak terima.
“Hei nona, siapa yang cepat dia yang dapat”
Si penjual lalu menyerahkan es krim yang tinggal satu itu ke Jalal. Jalal menerimanya lalu menyerahkan uangnya.
“Loh pak. Kenapa bapak menyerahkan es krim itu ke dia. Kan saya duluan yg pesan”
“Maaf mbak. Tapi mas ini yang lebih dulu”
“Nah,kau lihat nona. Aku yang pesan dulu. Bye...” Jalal melambaikan tangannya sambil mengedipkan matanya.
“Aargghhh...dasar pria sialan” Jodha menghentakkan kakinya karena kesal lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di tempat Ruqaya dan Surya,Jodha menghempaskan pantatnya di bangku dengan kasar hingga membuat mereka berdua kaget.
“Astaga…” pekik Ruqaya kaget.
“Hei Jodha, kamu kenapa?” tanya Surya heran melihat wajah Jodha yang ditekuk.
“Itu tadi ada orang main nyerobot aja beli es krimnya. Padahal aku dulu yang memesannya”
“Ya ampun. Kirain ada apa. Beli lagi dong yang lain”
“Gak ada. Es krimnya tinggal satu. Apalagi itu es krim kesukaanku. Aku bener-bener kesel sama dia” Jodha menarik-narik tali tasnya sebagai pelampiasan kekesalannya.
“Kamu ini seperti anak kecil. Umur boleh dewasa tapi tingkahmu masih saja seperti anak kecil. Nanti siapa pria yang mau denganmu kalau sikapmu seperti ini” ucap Ruqaya yang heran dengan sikap Jodha yang masih kekanak-kanakan.
Jodha semakin cemberut mendengar omelan Ruqaya. Dia langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
“Jodha…” panggil Surya tapi Jodha tak menghiraukannnya, “Kamu seharusnya jangan bicara seperti itu Ruq” Surya menoleh ke Ruqaya.
“Habis Jodha kadang keterlaluan. Dia kan sudah dewasa. Tidak sepantasnya kelakuannya seperti itu”
“Ayo kita susul dia” Ruqaya mengangguk dan mereka berdua menyusul Jodha.
Sedangkan ditempat yang sama namun agak berjauhan,Jalal menyerahkan es krim itu pada Nazima yang sedang menunggunya.
“Ini es krimnya beb”
“Terima kasih”
“Hhhh...demi mendapatkan satu es krim ini,aku harus bertengkar dulu dengan wanita galak”
“Benarkah” Nazima menghentikan kegiatannya menjilat es krim.
“Iya. Dia tidak mau mengalah tapi aku juga tidak menyerah. Untung si penjual es krim berpihak padaku. Kalau tidak mungkin aku masih beradu mulut dengan wanita tadi” Jalal memasang aksi memelasnya.
“Oouuww...kasihan my beb” Nazima membelai pipi Jalal.
“Tidak apa-apa beb. Demi kamu,aku akan melakukan apapun”
Jalal merangkul bahu Nazima dan disandarkan dibahunya. Nazima tersipu dengan perlakuan Jalal padanya. Dan hal itu sudah biasa bagi Jalal. Bukan Jalaludin Akbar namanya bila tidak bisa membuat wanita tersipu dengan rayuan gombalnya.
Namun tiba-tiba Jalal teringat dengan Jodha. Entah kenapa bayangan Jodha yang marah-marah terlintas di benaknya.
“Sebenarnya dia wanita yang cantik tapi sayang galak. Kalau tidak pasti aku tadi sudah merayunya. Dan dia pasti klepek-klepek dengan rayuanku” batin Jalal tersenyum dengan PDnya.
*
Surya sedang tidak ada praktek dirumah sakit. Dia berencana bertemu Jodha untuk mengatakan sesuatu. Surya mengirimkan pesan BBM ke Jodha untuk bertemu di sebuah cafe langganan mereka.
Jodha yang menerima pesan itu tentu saja sangat senang karena Surya bilang bahwa mereka hanya berdua tanpa Ruqaya. Dan kesempatan inilah yang akan Jodha gunakan untuk menyatakan perasaannya pada Surya. Bila tidak sekarang,kapan lagi dia mendapat kesempatan. Pulang kerja dia sudah bersiap-siap menemui Surya.
Tepat pukul 5 sore,Jodha tiba di cafe tempat mereka bertemu. Cafe bernuansa alam yang sejak dulu sudah menjadi langganan mereka bertiga. Surya sudah sampai terlebih dahulu. Saat melihat Jodha datang,dia melambaikan tangannya dan Jodha menuju ke arahnya.
“Hai kak,sudah lama?” Jodha duduk di depan Surya.
“Tidak lama. Baru lima menit”
“Oohhh”
“Kamu pesan apa?”
“Aku pesan milkshake saja”
“Kau tidak pesan makanan?”
“Tidak kak. Aku belum lapar” Tentu saja Jodha tidak lapar karena saat ini dirinya sedang bahagia.
“Baiklah”
Surya lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman. Seorang pelayan datang lalu mencatat pesanan mereka. Setelah mencatatnya,pelayan itu pamit meninggalkan mereka.
“Kak Surya kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku berdua saja tanpa mengajak kak Ruq”
“Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan Ruqaya tidak boleh tau dulu”
Jodha semakin berbinar mendengar ucapan Surya. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kakak”
“Benarkah”
Jodha mengangguk.
“Ayo katakan”
“Tidak. Kakak dulu yang mengatakannya”
“Baiklah. Aku dulu” Surya menghembuskan nafasnya lalu berkata “Aku...mencintaimu…”
Jodha terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdebar dengan cepat. Ternyata selama ini Surya juga mencintainya.
“I love you…” sekali lagi Surya mengatakannya.
Jodha menyunggingkan senyumnya. Dia masih terdiam. Tiba-tiba saja lidahnya kelu tak dapat bicara. Padahal tadi dia sudah menyiapkan kata-katanya. Mungkin karena dia terlalu bahagia hingga tak bisa berkata-kata.
“Jodha,kenapa kamu diam?”
“Aa..ku..”
“Bagaimana kata-kataku? Sudah menyakinkan belum untuk mengatakan hal itu padanya”
Senyum Jodha langsung memudar saat dia mendengar kata terakhir yang Surya ucapkan. Keningnya berkerut.
“Padanya?”
“Iya. Aku mengatakan kata itu untuk Ruqaya. Siapa lagi…”
Duaaaaarrrrr.…….
#Next,,,,
Komentar
Posting Komentar