Langsung ke konten utama

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 39

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @

PART 39

:-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-)

Meena dan Daniyal berjalan cepat di lorong rumah sakit mengiringi Jodha yg berbaring di brangkar yg didorong oleh para perawat menuju UGD. Meena tampak begitu panik dan gelisah melihat darah yg terus merembes di kaki Jodha. Begitu sampai di depan UGD,para perawat menyuruh Meena dan Dani untuk menunggu diluar.

Dani menuntun Meena untuk duduk di kursi ruang tunggu UGD. Dani merangkul bahu Meena untuk menenangkannya.

“Apa yg terjadi dengan kakakmu Dan? Kalau sampai terjadi apa-apa,mama akan sangat menyesal” Meena menitikkan air matanya melihat keadaan Jodha.

“Ssstt...mama jangan bicara seperti itu. Kak Jodha pasti akan baik-baik saja. Dia wanita yg kuat ma. Kita berdoa saja semoga kakak dan bayinya baik-baik saja” Dani mengelus punggung Meena untuk memberinya semangat padahal dia sendiri juga gelisah tak menentu. Tapi dia sekarang sebagai pengganti papanya harus bisa lebih kuat didepannya.

Sedangkan di tempat lain….

“Anda tidak apa-apa pak Jalal?” tanya Feri, manajer hotelnya. Semua peserta meeting ikut menoleh ke Jalal setelah tadi dia memecahkan gelasnya. Tampak seorang office boy sedang membersihkan pecahan gelas tadi.

“Ah...iya. Aku tidak apa-apa Fer. Lanjutkan saja presentasinya”

Feri kembali melanjutkan presentasinya pada peserta meeting. Jalal mulai konsentrasi meskipun jantungnya masih belum berhenti berdetak kencang sedari tadi.


Di ruang tunggu UGD,Dani berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sedangkan Meena duduk bersama Gulbadan dan saudaranya yg lain yg baru saja datang.

“Dani,apa tidak sebaiknya kamu telepon Jalal?” tanya Gulbadan.

Dani berhenti ditempatnya “Kak Jalal sedang ada rapat penting tante”

“Coba kamu hubungi lagi. Nanti kalau dia tidak dikabari,takutnya dia akan marah pada kita”

“Baik tante. Aku akan menghubunginya lagi”

Dani memencet sebuah nomor di hpnya lalu meletakkan ditelinganya. Panggilan tersambung tapi tidak ada yg mengangkatnya. Dani mencoba lagi menelepon tapi tetap sama. Tidak ada yg mengangkat.

“Dimana kak Jalal?”

Dani mulai kuatir. Akhirnya dia menghubungi nomor telepon kantornya dan yg mengangkat sekretarisnya.

“Selamat siang,Azza hotel”

“Siang mbak. Maaf,apa pak Jalalnya ada?”

“Maaf,ini dengan siapa?”

“Saya Daniyal,adik iparnya.Tadi saya telpon hpnya tapi tidak diangkat”

“Pak Jalal sedang rapat penting pak. Mungkin hpnya tertinggal diruang kerjanya. Apa ada pesan?”

“Tolong sampaikan bahwa istrinya sedang masuk rumah sakit”

“Baik pak Daniyal. Akan saya sampaikan”

“Terima kasih” Dani menutup teleponnya.

“Bagaimana Dani. Sudah bicara dengan Jalal?” tanya Meena.

“Belum ma. Hpnya tertinggal diruangannya. Kak Jalal masih meeting”

Seorang dokte keluar dari ruangan. Semua yg ada disitu langsung menghampirinya.

“Bagaimana keadaan putri saya dok?” tanya Meena dengan gugup.

*

Jalal baru saja keluar dari ruangan meeting saat sekretarisnya menghampirinya dengan tergesa-gesa.

“Pak Jalal”

“Ada apa Siska? Kenapa kamu terburu-buru?”

“Tadi ada telepon dari adik ipar pak Jalal”

“Daniyal?”

“Iya pak”

Jalal mulai gelisah “Memangnya ada apa?”

“Bu Jodha sekarang masuk rumah sakit”

Duuuuaarrrrr…

Jantung Jalal serasa copot dari tempatnya. Ternyata firasatnya tadi benar. Ada sesuatu yg tak beres terjadi. Jalal langsung saja berlari menuju lift saking paniknya,namun Siska berteriak sambil mengikuti Jalal di belakang.

“Hp pak Jalal tertinggal diruangan dan juga kunci mobil bapak”

Jalal langsung berhenti. Dia baru ingat kalau hp dan kunci mobilnya ada di ruang kerjanya. Jalal langsung berbalik arah menuju ruangannya. Setelah mengambil hp dan kunci,Jalal langsung melesat keluar setelah sebelumnya berkata pada Siska.

“Tunda semua jadwalku hari ini. Nanti aku akan kabari lagi begitu sampai di bandung”

“Baik pak”

Jalal masuk ke lift menuju basement parkir. Selama di dalam lift,Jalal mengecek hpnya dan ada 10 missed call dari Daniyal. Jalal mencoba menelepon balik namun sialnya tidak ada sinyal di dalam lift.

“Jodha sayang,apa yg terjadi denganmu?” Jalal mengusap wajahnya. Dalam hati dia berdoa semoga Jodhanya baik-baik saja.

Begitu sampai di basement,Jalal menuju mobilnya dan langsung meluncurkan mobilnya dengan kecepatan yg tak biasanya. Dia begitu panik. Dasinya dia longgarkan karena terasa mencekik lehernya. Begitupun dengan jasnya dia lepas hingga menyisakan kemeja birunya.

Dalam perjalanan Jalal kembali menghubungi Daniyal. Dalam deringan ketiga,Dani mengangkatnya.

“Halo kak”

“Dani,apa yg terjadi dengan Jodha?”

“Tadi kak Jodha pingsan kak dan aku langsung membawanya kerumah sakit”

“Bagaimana keadaannya?”

“Kak Jodha masih diperiksa dokter”

“Aku sekarang dalam perjalanan kesana”

“Iya kak. Tolong berhati-hatilah dalam menyetir. Jangan ngebut. Tetaplah fokus” ucap Dani kuatir.

“Iya Dani” Jalal menutup teleponnya lalu menghubungi Ryan.

Dani tidak membicarakan keadaan Jodha sekarang karena takut Jalal kaget. Dani tidak ingin konsentrasi Jalal mengemudi jadi terganggu.

°°°

2 jam kemudian,Jalal sampai dirumah sakit. Jalal tidak mengindahkan peringatan Dani. Dia menyetir dengan kekuatan penuh dan hampir saja menabrak pembatas jalan. Karena itulah dia datang lebih cepat dari biasanya.

Setelah sampai,Jalal langsung menuju ke kamar inap yg tadi di sms oleh Dani. Perasaannya saat ini campur aduk tak karuan. Panik,kuatir,gelisah,takut dan masih banyak lagi. Dia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Jodha.

Jalal tiba di kamar Jodha dan langsung masuk kedalam. Disana ada Daniyal,Meena dan juga Gulbadan. Semua menoleh ke arah Jalal.

“Jalal” ucap Meena.

Jalal menghampiri ranjang Jodha. Dia melihat Jodha yg terbaring pucat disana. Hatinya miris melihat belahan jiwanya yg tubuhnya dikelilingi dengan alat-alat dokter. Meskipun dia sedang tertidur namun tak mengurangi kecantikannya. Jodha terlihat damai meskipun wajahnya pucat seputih kapas. Daniyal bangkit dari duduknya untuk membiarkan Jalal duduk.

“Kenapa dengan Jodha ma?” Jalal bertanya pada Meena dengan tatapan masih fokus ke Jodha. Tangannya kini menggenggam tangan kiri Jodha.

“Jodha tadi pingsan dan darah merembes di kakinya” jawab Meena dengan sedikit terisak. Gulbadan memegang pundak Meena untuk memberinya kekuatan.

Jalal memejamkan matanya. Dia seakan ikut merasakan kesakitan yg Jodha alami. Pikiran2 buruk mulai menghantuinya.

“Apa kata dokter?”

Saat Daniyal akan menjawab,seorang suster masuk dan menyela pembicaraan mereka “Maaf,apa suami dari nyonya Jodha sudah datang?”

Jalal menoleh ke suster itu “Saya suaminya sus”

“Dokter memanggil anda pak. Ada yg ingin beliau bicarakan dengan anda”

“Baik sus. Saya akan kesana” Jalal melepaskan genggamannya, “Ma,tante. aku pergi menemui dokter dulu”

Meena dan Gulbadan mengangguk.

“Tolong jaga Jodha Dan”

“Iya kak”

Jalal mengikuti suster tadi untuk menemui dokter.

°°°

“Bagaimana keadaan istri saya dok?”

Seorang dokter pria yg telah berumur paruh baya itu menghela nafas “Keadaan bu Jodha sangat lemah. Kurangnya asupan gizi dan terlalu stress membuat daya tahan tubuhnya melemah hingga membuatnya pingsan dan pendarahan”

Jalal sangat kaget mendengar ucapan dokter “Lalu bagaimana keadaan kandungannya?”

“Beruntung ibu Jodha memiliki kandungan yg kuat. Bayinya tidak apa-apa”

“Alhamdulillah” Jalal mengucapkan syukur.

“Saya harap anda memperhatikan pola makan istri anda dan juga bu Jodha jangan terlalu banyak pikiran. Di usia kandungannya yg sekarang cukup rawan keguguran. Jangan sampai dia stress. Dukungan anda dan keluarga sangat penting baginya. Saya bukannya ingin menakuti anda tapi bila kejadian ini terulang lagi,saya tidak bisa memastikan bahwa kandungan ibu Jodha bisa selamat lagi”

^^^^

Jalal kini duduk di kursi yg ada disamping ranjang. Dia setia menunggu Jodha sampai membuka matanya. Beberapa menit yg lalu,Meena,Gulbadan dan Daniyal pamit pulang.

Sebelum pulang,Meena minta maaf pada Jalal. Dia merasa bersalah tidak bisa menjaga Jodha dengan baik.

“Maafkan mama Jalal. Kamu sudah menitipkan Jodha pada mama. Tapi mama lalai menjaganya hingga dia seperti ini” Meena kembali menangis. Jalal memeluknya.

“Mama jangan bicara seperti itu. Ini musibah. Kita ambil hikmahnya saja dari kejadian ini ma. Aku tidak menyalahkan mama ataupun Daniyal. Justru aku berterima kasih karena mempunyai ibu mertua dan adik ipar seperti kalian. Mama sudah menjaganya sejak Jodha masih dalam kandungan sampai dia dewasa. Mama tidak perlu merasa bersalah”

Meena melepaskan pelukan Jalal lalu membelai rambutnya “Jodha beruntung memiliki suami sepertimu,nak. Sekarang mama tidak perlu kuatir dengan Jodha karena dia mempunyai suami dan keluarga yg melimpahinya banyak kasih sayang. Papanya bisa beristirahat dengan tenang disana”

Jalal tersenyum lalu Meena mencium keningnya sebagai tanda sayangnya pada Jalal yg seperti anaknya sendiri.



Jalal menggenggam tangan Jodha yg dingin. Dia mencoba menyalurkan kehangatannya pada tubuh Jodha. Dilihatnya penuh cinta wajah wanita yg telah mencuri hatinya itu dengan tatapan sendu. Dia sungguh tidak tega melihat tubuh Jodha yg dipasang dengan infus.

“Sayang. Aku mohon bukalah matamu. Apa kamu tidak merindukanku?”

Tanpa sadar sebutir air mata mengalir di matanya. Dia berharap Jodha bisa mendengarnya.

“Maafkan aku karena meninggalkanmu. Kau tau,dikantor hatiku tidak tenang terus memikirkanmu. Melihat tatapan sedihmu saat aku meninggalkanmu tadi. Rasanya aku ingin kabur saja dari meeting tadi. Perasaanku tidak enak sejak awal. Dan firasatku ternyata benar. Maafkan aku sayang. Please...bukalah matamu Jodha. Aku rindu senyumanmu dan manja mu bila bersamaku. Aku rindu semua yg ada padamu. Aku membutuhkanmu sayang”

Meleleh sudah air mata Jalal yg sejak tadi ditahannya. Dia sudah tidak kuat lagi menahannya. Dia menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak didengar oleh Jodha. Setelah menguasai emosinya,Jalal mengusap air matanya. Dia tidak boleh menangis di depan Jodha. Dia harus menjadi kekuatan bagi Jodha karena ayah Jodha kini sudah tiada.

•••

Tengah malam,Jodha sadar dari tidurnya setelah sekian jam pingsan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau dengan sinar lampu. Dia melihat sebuah ruangan warna putih dan bau khas obat-obatan. Tangan kirinya merasakan agak berat dan saat dia menoleh,dia melihat Jalal tertidur dengan kepala disandarkan diranjang. Sedangkan tangan Jalal menggenggam erat tangannya.

“Ja...lal…” ucap lirih Jodha hampir tak bersuara.

Tangannya mencoba bergerak meskipun agak susah karena gemggaman Jalal. Namun gerakan kecil itu bisa membuat Jalal terbangun.

“Jodha….kau sudah sadar sayang”

“Ja...lal…”

“Syukurlah kau sudah sadar” Jalal langsung menekan tombol yg ada disamping ranjang untuk memanggi dokter.

Mendengar suara yg agak berisik,Daniyal yg tidur di sofa ikut terbangun “ada apa kak?”

“Dani...kakakmu sudah sadar”

Dani yg mendengar Jodha sudah sadar langsung melompat menuju ke ranjang Jodha “Kak Jodha...kau sudah sadar” Dani tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Jalal.

“Aku...ha...us…” Jodha merasakan tenggorokannya tercekat.

“Kamu haus sayang. Akan kuambilkan”

Jalal mengambil gelas yg berisi air minum lalu menyodorkan ke Jodha yg sudah diberi sedotan. Dengan hati-hati Jalal membantu Jodha. Setelah selesai minum,Jalal menaruh kembali gelasnya.

Jodha yg ingin bicara langsung ditahan oleh Jalal “Sayang,kamu jangan banyak bicara dulu. Tunggu dokter memeriksamu dulu ya”

Jodha mengangguk meskipun dia ingin bertanya banyak hal. Tak berapa lama dokter datang dan mulai memeriksanya.

“Keadaan bu Jodha sudah mulai berangsur membaik. Namun anda harus bedrest selama satu bulan. Anda jangan terlalu banyak gerak dan juga pikiran yg bisa membuat anda stress. Pola makan juga dijaga agar kandungan anda selalu sehat”

“Bagaimana keadaan kandungan saya dok?” tanya Jodha yg sejak tadi penasaran.

“Syukurlah kandungan anda baik-baik saja meskipun anda mengalami pendarahan. Tapi tidak terlalu serius”

Jodha lega setelah mendengar penjelasan dokter. Tadinya dia begitu kuatir terjadi sesuatu dengan kehamilannya.

“Baiklah. Saya permisi dulu. Jangan lupa pesan saya. Semoga cepat sembuh bu Jodha”

“Terima kasih dok”

Dokter dan dua orang suster itu meninggalkan ruangan setelah memeriksa Jodha. Kini tinggal mereka bertiga.

“Kamu dengar kan sayang. Kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran” ucap Jalal sambil mengelus rambut Jodha. Jodha tersenyum.

“Kamu disini Dani. Mama bagaimana?”

“Mama dirumah bersama tante Gulbadan. Aku disini disuruh mama untuk menemani kak Jalal.Besok pagi aku akan mengabari mama kalau kakak sudah baikan”

“Ya sudah. Sekarang kamu tidurlah Dani. Besok kamu kan harus ke kantor. Biar aku yg menemani kakakmu”

Daniyal mengangguk. Dia memang lelah setelah seharian tadi merawat Jodha. Daniyal kembali berbaring di sofa.

“Sekarang kamu juga tidur sayang. Ini masih tengah malam. Biar aku menjagamu. Hm..”

Mata Jodha berkaca-kaca “Maafkan aku Jalal”

“Hei...kenapa kamu minta maaf” Jalal membelai pipi Jodha.

“Karena kelalaianku,aku hampir saja kehilangan bayi kita” Jodha tak kuasa menahan air matanya.

“Sssttt…. Sudah kamu jangan menangis. Semuanya sudah berlalu. Bayi kita baik-baik saja sayang” Jalal menghapus air mata Jodha lalu berdiri memeluknya.

Jodha menyandarkan kepalanya di dada Jalal. Dia mengeratkan pelukannya. Jalal mencium pucuk kepala Jodha dan mengelus punggungnya untuk memenangkannya.

“Ingat pesan dokter sayang. Jangan banyak pikiran. Aku akan selalu bersamamu”

“Terima kasih Jalal. Terima kasih atas semua cinta yg kauberikan padaku. Aku tidak tau bagaimana bila gak ada kamu”

Jalal melepaskan pelukannya lalu duduk di pinggir ranjang menghadap Jodha “Aku yg berterima kasih padamu karena sudah memberiku begitu banyak kebahagiaan dengan memberiku anugrah yg tak ternilai”

Jalal mengelus perut Jodha lalu menciumnya.  Jalal lalu berbisik di perut Jodha seakan bicara dengan bayinya “Hai anak Daddy. Baik-baik di perut Mommy ya. Jangan rewel dan jangan buat Mommy capek. Mommy dan Daddy sudah tidak sabar menunggumu lahir ke dunia ini. We love you sayang”

Jodha terharu melihat perlakuan Jalal. Dia kembali menangis tapi tangis kebahagiaan.

“We love you too,Daddy” ucap Jodha dengan suara dibuat seperti anak kecil.

“Kenapa kamu menangis lagi sayang?”

“Ini tangis bahagia Jalal”

“Kamu kalau menangis gak cantik loh” goda Jalal dan sukses membuat Jodha cemberut.

Jalal tersenyum “Senyum dong. Jangan cemberut gitu. Aku kangen dengan Jodha yg ceria dan manja” Jalal menarik sudut bibir Jodha supaya tersenyum.

Akhirnya mau tidak mau Jodha menyunggingkan senyumnya. Jalal memang selalu saja bisa membuatnya senang.

“Nah...kalau begini kan cantik. Ini baru nyonya Jalal yg mempesona”

“Gombal”

Jalal terkekeh “Ayo tidur. Kalau kita bicara terus nanti kita malah begadang sampai pagi”

“Tidurlah bersamaku” ucap Jodha dengan manja.

“Hah…”

“Iihhh…kok bengong gitu. Temani aku tidur disini. Berbaringlah disebelahku dan peluk aku sampai aku tidur”

“Oohhh...ternyata kamu sekarang pintar modus ya” Jalal naik ke ranjang lalu berbaring di samping Jodha dengan hati-hati agar tidak terkena infus.

“Iissshhh..siapa yg modus. Harusnya aku yg bilang gitu ke kamu. Kan kamu yg biasanya modus” Jodha mulai memeluk Jalal dan mencari tempat yg nyaman dengan membaringkan kepalanya di ceruk leher Jalal.

“Siapa tau kamu yang ingin duluan”

Jodha mendongak “ingin apaan?”

“Ya...ITU” Jalal menekankan kata itu sambil mengedipkan matanya.

“Dasar omes! Aku masih sakit begini,pikirannya masih saja omes” Jodha mencubit perut Jalal.

“Aaaww… Hahahaha...aku hanya bercanda. Sudah,tidurlah”

Jodha kembali membaringkan kepalanya lalu memejamkan matanya “Selamat malam Jalal”

“Good night sweetheart. I love you” Jalal mengecup rambut Jodha lalu ikut memejamkan matanya.

Daniyal yg sedari tadi belum tidur,tersenyum dengan mata terpejam mendengar pembicaraan mereka berdua.

“Semoga kalian selalu bahagia” doa Daniyal dalam hati.


~~~

Keesokan paginya, Ryan dan Hamidah mengunjungi Jodha dirumah sakit. Daniyal pergi ke kantor dan gantian Meena yg berjaga dirumah sakit.

“Bagaimana keadaan kamu Jo?”

“Aku sudah baikan ma”

“Mulai sekarang kamu jangan sedih lagi ya. Kamu juga harus menjaga kandungan kamu”

“Iya ma”

“Oh iya Jo. Tadi Aisha dan Shia sebenarnya mau ikut. Tapi tidak bisa karena Abiel badannya masih panas. Sedangkan Shia juga ada acara disekolahnya. Dia kangen banget sama kamu” ucap Ryan.

“Iya kak. Tidak apa-apa. Aku juga kangen sama Shia dan Abiel. Kangen kelucuan mereka”

“Maka nya kamu cepat sembuh biar kamu bisa bertemu dengan keponakan-keponakanmu itu” sahut Meena.

“Iya ma”

Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit,akhirnya Jodha diperbolehkan pulang karena keadannya sudah membaik. Jodha kembali kerumah Meena. Setelah seminggu berada disana,Jodha diboyong Jalal kembali ke Jakarta setelah keadaannya benar-benar pulih untuk bepergian Jauh.

¥¥¥

1 bulan kemudian,pernikahan Daniyal dan Tania digelar. Meskipun acara pernikahan tidak terlalu mewah namun tetap meriah. Hanya ada satu kurang dia acara itu yaitu tanpa kehadiran Bharmal.

€€€

Tak terasa kehamilan Jodha sudah menginjak tujuh bulan. Jodha sudah tidak lagi ngidam yg aneh2. Namun tetap saja sifat manjanya tidak bisa hilang pada Jalal. Dia selalu mencari-cari perhatian pada Jalal bila Jalal sedang sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan sekarang Jodha lebih agresif ke Jalal.

Kini Jodha yg selalu menggoda Jalal untuk memenuhi hasratnya. Dan hal itu tentu saja disambut baik oleh Jalal. Sekarang keadaan berbalik,biasanya Jalal yg modus duluan tapi kini Jodha yg lebih modus. Jalal saja sampai heran. Mungkin karena hormon kehamilan yg membuatnya seperti itu.

Kandungan Jodha telah diperiksa USG dan hasilnya menunjukkan bahwa jenis kelamin bayi mereka adalah laki-laki. Jalal bahagia sekali memdengarnya karena dia akan mempunyai jagoan yg kelak akan menjaga Jodha.

Sejak tau jenis kelamin bayi nya,Jalal mulai mendekorasi kamar untuk anaknya dengan nuansa maskulin. Dindingnya diwarnai dengan cat biru dan pernak-perniknya menggunakan gambar spiderman. Tokoh superhero idolanya.

Saat ini Jodha dan Jalal sedang duduk berdua di kursi balkon kamar mereka. Mereka duduk sambil berpelukan.

“Sayang”

“Hmmm…”

“Kenapa kamu membuat dekorasi kamar anak kita dengan tokoh superman?”

“Karena aku mau bila dia dewasa nanti dia bisa menjadi pahlawan untuk Mommy nya dan keluarganya”

“Kamu sudah menyiapkan nama untuknya” tanya Jodha.

“Belum”

“Kenapa?”

“Kita akan bersama-sama memberinya nama”

“Aku yakin nanti dia akan tampan sepertimu”

“Tentu saja. Dan nanti kalau kita punya anak lagi dan anak kita perempuan,pasti akan cantik sama sepertimu”

Jodha tersenyum. Hidupnya sekarang bahagia karena ada Jalal disampingnya. Pria yg sangat dia cintai. Pria yg sudah membuatnya tidak takut untuk jatuh cinta.

Jalal memegang dagu Jodha dan mendongakkan ke arahnya “Aku mencintaimu Jodha. Selamanya”

“Aku juga mencintaimu Jalal. Selamanya”

Detik berikutnya Jalal mencium bibir Jodha dengan lembut. Bibir manis yg sudah menjadi candu baginya. Mereka berciuman di bawah sinar rembulan. Suasana malam hari yg damai seakan memberi restu bagi mereka berdua untuk mereguk kebahagiaan bersama selamanya.



~ END ~





•••••••


“JANGAN PERNAH TAKUT JATUH CINTA KARENA CINTA ITU DATANG TANPA PERNAH KITA DUGA. BERBAHAGIALAH BAGI ORANG-ORANG YG MASIH DIBERI NIKMAT CINTA. KARENA DENGAN CINTA KITA BISA MERASAKAN KEHIDUPAN YG DAMAI DI DUNIA INI”








~~~~÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷~~~~~~~





Sampai disini dulu ya teman2 ff JTJC ini.

Terima kasih sudah bersedia membaca ff abal-abal ini meskipun lama updatenya.

Terima kasih buat support dan koment kalian padaku selama ini. Maaf tidak bisa menyebutnya satu persatu. Tapi yg pasti aku senang sekali bisa menghibur kalian dengan ff ini. Dengan kemodusan Jalal yg super akut dan kebawelan Jodha.

Maafkan emak bila ada kata-kata dalam setiap komenan emak apabila menyinggung perasaan kalian semua. Emak hanya mencoba agar suasana tidak garing dengan sesekali bercanda.

Insyaallah tinggal part epilog yg akan hadir.

Salam ; Dari emak dan juga Mr.Modus serta Jodha.

I LOVE YOU ALL…..


BYE…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...