Langsung ke konten utama

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 38

Assalamualaikum….

Mr.Modus datang. Maaf ya kalau updatenya lama. Hampir sebulan. Nih gara-gara si emak sibuk ama Mr.Cold jadinya Mr.Modus merajuk. Daripada emak dicuekin terus,ya udah dilanjut aja.

Untuk part ini ada sedikit scene dewasanya 20++. Mohon yg dibawah umur jangan ikut membaca ya.

HAPPY READING...



# JANGAN TAKUT JATUH CINTA #

PART 38

(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)


Setelah ngidam rujak cingur,ngidam Jodha semakin aneh dan membuat Jalal kewalahan menurutinya.

Pulang kerja,Jalal bukannya disambut dengan senyuman namun malah ditahan Jodha di depan pintu rumah. Hari ini Jodha ngidam mangga muda yg harus dipetik langsung dari pohonnya.

"Sayang...aku mau mangga muda"

"Iiisshh...suami baru pulang kerja bukannya disambut dengan ciuman,malah minta mangga muda" Jalal mencebik.

"Tapi si baby yg minta" Jodha mengelus perutnya.

"Hmm..baiklah. Aku akan belikan" Jalal akan berbalik tapi Jodha mencegah.

"Eehhh...jangan!"

"Kenapa?"

"Aku mau buah mangga yg dipetik dari pohonnya langsung. Tuh..." Jodha menunjuk kearah pohon.

"Hah..aku...harus manjat sayang"

"Iya"

"Beli saja di pasar ya sayang" Jalal memasang wajah memelas.

"Enggak! Pokoknya aku mau kamu yg ngambil mangga itu dari pohonnya"

Jalal menghela nafas. Susah sekali membujuk istrinya.

"Baik sayang. Akan kuambilkan"

Jalal menekuk celana panjangnya sampai lutut. Jasnya dibuka dan lengan kemejanya digulung sampai ke siku. Jalal mulai menyeberang ke depan diikuti oleh Jodha dan meminta izin pada si pemilik mannga. Setelah diijinkan,Jalal mulai naik ke pohon mangga milik tetangga. Beruntung Jalal mempunyai tetangga yg memiliki pohon mangga yg berada diseberang rumahnya.

Dengan susah payah Jalal memanjat pohon itu. Kemejanya yg berwarna putih jadi kotor. Jalal memetik mangga satu persatu yg langsung ditangkap oleh Jodha.

Jodha begitu gembira mendapatkan mangga yg dia inginkan. Setelah mengumpulkan beberapa buah mangga,Jalal turun ke bawah. Dia menepuk-nepuk kemeja dan celananya yg kotor. Tanpa dia duga,Jodha tiba2 memeluknya.

“Terima kasih suamiku tersayang”

Jalal yg awalnya kaget lalu tersenyum dan membalas pelukan Jodha “Apa sih yg enggak buat kamu. Kamu suruh aku memetik bintang pun,akan kulakukan”

“Gombal”

“Tapi kamu suka kan”

Jodha memukul bahu Jalal pelan. Jalal malah tertawa melihat Jodha yg bersikap manja padanya.

“Ya sudah. Mangganya kan udah dapat. Sekarang kita pulang ya. Aku lapar sayang”

Jodha melepaskan pelukannya “Ayo. Aku sudah buat masakan kesukaan kamu”

“Aku bukan lapar itu” Jalal memasang wajah serius.

“Lalu…”

Jalal tidak menjawab tapi hanya menaik turunkan alisnya menggoda. Jodha yg tau kode dari Jalal langsung membelalakkan matanya.

“Aarrgghh….dasar omes” Jodha mencubit lengan Jalal.

“Aaww...sakit yang”

“Biarin. Otak kok isinya omes melulu”

“Kan omesnya cuma sama kamu yang” Jodha mendengus.

Jalal dan Jodha lalu berpamitan pada tetangganya yg punya pohon mangga tadi dan mengucapkan terima kasih kemudian Jalal merangkul bahu Jodha kembali kerumah.

^^^^

Hari ini Jodha sarapan bersama yg lain tapi ada yg berbeda dengan Jodha. Dia tidak mau makan nasi. Mencium bau nasi saja sudah membuatnya mual. Akhirnya dia hanya makan roti dan meminum susu ibu hamil. Jalal agak kuatir karena Jodha yg tidak mau makan nasi. Akhirnya Jalal dan Jodha menanyakan ke dokter kandungan yg menangani Jodha.

“Tidak apa-apa pak Jalal. Selama bu Jodha masih mau makan roti ataupun buah,asupan gizi untuk bayi masih mencukupi. Mungkin hanya beberapa bulan atau sampai bulan ke sembilan bu Jodha akan mengalami hal itu karena faktor bawaan bayi. Setelah melahirkan,bu Jodha bisa makan dengan normal kembali”

Jalal merasa lega setelah mendapat penjelasan dari dokter. Semoga bayinya tidak terlalu rewel karena Jalal begitu kasian melihat Jodha yg seperti tersiksa bila mual terus-menerus.

Beberapa hari kemudian,Jodha ngidam burger dan pizza. Awalnya Jalal kira hanya sekali itu saja jodha ngidam dua makanan itu,tapi ternyata perkiraannya salah. Jodha hampir tiap hari bergantian minta burger dan pizza sebagai pengganti nasi yg tidak bisa dia makan karena mual. Jalal hanya bisa pasrah menuruti istri tercinta. Kalau tidak,bisa dipastikan dia tidak akan mendapat jatah. Hahahaha,,,,


@@@

Pagi hari saat suasana mulai sedikit terang,dua orang anak manusia sedang sibuk bergelung di ranjang. Suara erangan dan desahan menggema di kamar ini. Saat ini posisi Jodha membelakangi Jalal. Tubuh mereka begitu erat dimana punggung Jodha menempel dengan dada bidang Jalal. Tangan kanan Jalal dijadikan bantal oleh kepala Jodha sedangkan tangan kirinya dia lingkarkan di perut Jodha.

Kejantanan Jalal bergerak maju mundur di kewanitaan Jodha dengan ritme pelan karena Jalal tak ingin menyakiti bayi di dalam kandungan Jodha. Tubuh mereka berdua dipenuhi oleh keringat akibat aktivitas panas mereka meskipun AC diruangan itu menyala.

“Aaahhhh….Jalal” desah keluar dari bibir Jodha. Tangannya menggenggam tangan Jalal begitu erat untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

“Kau menyukainya sayang?” ucap Jalal dengan suara serak akibat gairah yg kini melandanya.

Sesekali Jalal mencium bahu Jodha menyalurkan cintanya. Suara percintaan mereka beradu dengan desahan dan erangan. Jodha hanya bisa mengangguk tanpa bisa bersuara. Hanya suara desahan yg dia keluarkan.

Makin lama ritme yg Jalal ciptakan semakin cepat akibat dia akan mencapai puncak itu. Jodha sudah beberapa kali mendapatkan orgasmenya. Kini giliran Jalal menyusul.

Dan akhirnya puncak itu datang juga dan membuat Jalal menggeram merasakan nikmatnya surga dunia.

“Uuuhh….Jodha….” Jalal meneriakkan nama Jodha saat benih-benihnya menguar keluar dan memasuki rahim Jodha.

Jodha dan Jalal sama-sama terengah setelah keduanya mencapai puncak nirwana. Mereka berdua mengatur nafas lalu Jodha berbalik menghadap Jalal dan menarik selimut hingga sebatas dada untuk menutupi tubuh polos mereka.

“Terima kasih sayang” Jalal mengecup bibir Jodha.

Jodha balas tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada Jalal. Jalal merangkul bahu Jodha agar lebih erat padanya. Jodha mendengar suara detak jantung Jalal ygh berdebar cepat.

“Apa aku menyakitimu?”

“Tidak Jalal. Kau pria hebat karena mengerti diriku. Kau tidak menyakitiku maupun dede bayi. Aku justru menikmatinya” ucap Jodha malu-malu.

“Benarkah?”

Jodha mengangguk di dada Jalal.

“Kalau kamu menikmatinya,ayo kita lanjutkan lagi”

“Jalaallll..”

Jodha cemberut sedangkan Jalal malah tertawa terbahak hingga tubuhnya berguncang. Jodha memukul dada Jalal pelan karena gemas.

“Aku bercanda sayang karena aku suka sekali menggodamu”

“Dasar Mr.Modus”

“Itu memang julukanku...hahahaha…”

Jodha ikut tertawa melihat Jalal yg narsisnya bukan main. Jalal mengangkat dagu Jodha agar memandangnya.

“Aku suka melihat wajahmu yg memerah karena malu. Pipimu yg chubby ini ingin selalu kucium”

Jalal membelai pipi Jodha lalu menciumnya bergantian kanan dan kiri.

“Dan bibir ini selalu aku rindukan setiap saat karena rasanya yg manis”

Jalal kembali mencium bibir Jodha. Bibir yg menjadi candu baginya. Jalal mulai melumat bibir Jodha bergantian atas dan bawah. Gairah kembali menguasai Jalal bila sudah merasakan manisnya bibir Jodha. Jodha membalas ciuman Jalal yg kembali menimbulkan percikan api gairah. Saat mereka berdua asyik berciuman,suara deringan hp milik Jalal mengganggu keintiman mereka.

Namun sepertinya Jalal tak perduli. Ciumannya mulai turun ke leher Jodha. Jodha yg mendengar suara hp mencoba menghentikan aksi Jalal.

“Ja..lal..Ada telepon...aahh” dengan suara yg sedikit terbata,Jodha memanggil Jalal.

“Nanggung sayang”

“Siapa tau penting Jalal”

Jalal menghentikan ciumannya dan berdecak kesal “Siapa sih yang ganggu pagi-pagi begini”

Jodha hanya tersenyum melihat Jalal yg frustasi karena gairahnya yg tak terselesaikan. Jalal berbalik dan mengambil hp di meja nakas. Dia melihat di layar hp tertera nama Daniyal.

“Daniyal?” gumam Jalal.

“Dani? Ada apa Dani telepon pagi-pagi begini?” sahut Jodha masih berbaring.

Jalal menekan tombol hijau lalu mengangkatnya “Halo. Ya Daniyal,ada apa?”

“....”

“Apa!” Jalal terkejut lalu menoleh ke arah Jodha.

“Ada apa Jalal?”

“Papa…”

“Papa? Ada apa dengan papa?” Jodha bangkit lalu duduk dengan tangannya menarik selimut menutupi dadanya dan pandangannya heran melihat Jalal.

Jalal membelai rambut Jodha “Kamu yg tabah ya sayang”

“Ada apa sebenarnya Jalal?”

“Papamu...meninggal baru saja”

“Papa…” Jodha menutup mulutnya. Air mata Jodha mengalir.

“Papaaaa…” Jodha berteriak pilu.

Jalal langsung menarik Jodha dalam pelukannya. Mendekapnya untuk menenangkannya. Jodha semakin menangis terisak di pelukan Jalal.

“Sabarlah sayang”

©©©©

Pemakaman jenasah Bharmal baru saja selesai dikuburkan. Para sanak keluarga satu persatu mulai meninggalkan pemakaman termasuk Humayun dan Hamidah. Meena tidak ikut ke pemakaman karena masih shock dengan kematian suaminya. Kini yg ada disana tinggal Jodha,Daniyal,Jalal dan Ryan.

Setelah mendengar berita itu tadi pagi,Jodha dan Jalal langsung berangkat ke bandung. Humayun,Hamidah dan Ryan turut serta kesana. Aisha tidak bisa ikut karena si kecil Abil demam setelah di imunisasi. Dia tinggal dirumah bersama Arshia dan pengurus rumah tangga.

Jodha duduk di dekat nisan papanya yg masih basah. Air matanya tak berhenti mengalir sejak tadi. Jalal berada disampingnya sambil memegang bahu Jodha untuk memberinya kekuatan.

Begitupun dengan Daniyal tampak begitu sedih meskipun tidak menitikkan air matanya. Ryan berada disebelahnya.

“Kenapa papa begitu cepat meninggalkan kami. Bahkan dia belum sempat melihat cucu pertamanya” ucap Jodha sedih sambil memegang perutnya.

“Semuanya sudah takdir tuhan Jodha. Ikhlaskan papa agar beliau bisa tenang di alam sana” Jalal membelai rambut Jodha.

Jodha kembali menangis di bahu Jalal. Daniyal hanya bisa diam melihat kakaknya menangis. Dia sama tak berdayanya.

Setelah berhasil membujuk Jodha,Jalal mengajaknya pulang kerumah diikuti Daniyal dan Ryan. Di rumah duka masih banyak saudara dan rekan2 keluarga Bharmal berdatangan untuk melayat. Meena masih menangis bila saudara-saudara datang mengucapkan bela sungkawa.

Menjelang sore,Humayun,Hamidah dan juga Ryan berpamitan pulang pada Meena dan Jodha.

“Bu Meena,kami pamit pulang. Semoga ibu diberi ketabahan menghadapi ini semua” ucap Humayun.

“Terima kasih pak”

“Jeng Meena yg sabar ya agar pak Bharmal tenang di alam sana” Hamidah memeluk Meena.

“Terima kasih jeng Midah. Terima kasih sudah mau datang kesini” Hamidah mengangguk.

“Kami pulang dulu ma” Ryan menyalami Meena.

“Iya,hati-hati”

Hamidah menghampiri Jodha “Sayang. Kamu yg tabah ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Kamu juga harus memperhatikan bayi dalam kandunganmu”

“Iya ma” Jodha kembali menangis.

“Jalal. Kami pulang dulu. Jaga istrimu baik-baik. Urusan kantor biar papa yg handle” Humayun menepuk bahu Jalal.

“Iya pa. Terima kasih”

“Aku pulang ya Jalal. Teruslah disamping Jodha untuk mendukungnya. Dia membutuhkanmu” Ryan memeluk Jalal.

“Iya kak. Titip salam buat kak Aisha dan Shia”

“Iya”

Mereka bertiga lalu pamit pada Daniyal dan keluarga yg lain dan berlalu meninggalkan rumah Jodha.

“Jodha. Kamu istirahat dulu sayang. Kamu pasti lelah. Jalal,bawa istrimu ke kamarnya”

“Iya ma”

Jalal merangkuk bahu Jodha lalu membawanya ke kamar. Setelah sampai di kamar,Jalal memapah Jodha duduk di ranjang. Dia sandarkan sebuah bantal di kepala ranjang lalu merebahkan tubuh Jodha. Jalal lalu duduk disampingnya. Jalal membelai rambut Jodha. Jalal sedih melihat wajah Jodha yg pucat dan terlihat rapuh. Matanya kosong menatap ke depan. Dia masih sangat terpukul dengan kematian papanya yg mendadak.

“Sayang,kamu makan dulu ya. Dari tadi kamu belum makan”

Jodha hanya menggeleng. Air matanya kembali menetes. Jalal mengusapnya.

“Jangan menangis sayang. Lihat aku”

Jalal menyentuh pipi Jodha dan mengarahkan padanya “Kamu tidak sendiri sayang. Ada aku yg selalu bersamamu. Aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini” suara Jalal serak mencoba menahan air matanya. Dia tidak boleh menangis di depan Jodha. Karena dia adalah kekuatan Jodha.

Jodha menyandarkan kepalanya di dada Jalal. Tangisannya semakin menjadi.

“Aku...sayang...papa, Jalal. Hiks...hiks...”

“Kami juga sayang papa Jodha. Tapi kamu harus mengikhlaskannya.” Jalal mengelus punggung Jodha untuk menenangkannya. Lama mereka di posisi seperti itu.

“Sekarang kamu makan ya”

“Tapi aku tidak lapar” tangisan Jodha sudah mereda.

“Harus dipaksa sayang. Apa kamu gak kasihan sama dedek bayi. Kalau kamu sedih,dia juga ikut sedih. Aku akan suapin kamu. Mau ya…”

Jodha mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Jalal tersenyum lalu mencium kening Jodha.

“Kamu tunggu disini. Aku ambilkan makan dulu”

Jalal meninggalkan Jodha untuk mengambil makan. Tak berapa lama Jalal datang membawa nampan berisi makanan dan segelas susu. Dengan telaten Jalal menyuapi Jodha meskipun Jodha tidak mau membuka mulutnya. Begitu satu suapan sudah masuk,Jodha malah merasa ingin muntah. Akhirnya dia berlari kekamar mandi untuk memuntahkannya.

Jalal menghela nafas karena tak ada satupun makanan masuk ke perutnya. Akhirnya Jodha hanya minum susu. Jalal tidak bisa memaksanya lagi. Setelah minum susu,Jalal menyuruh Jodha untuk istirahat.

Malam hari diadakan tahlilan untuk kirim doa. Jodha ikut mengaji namun tangisannya tidak pernah berhenti. Jalal yg melihatnya,hatinya ikut pedih. Meena dan juga Daniyal juga sudah berusaha menghibur Jodha meskipun mereka juga sama-sama sedih. Namun yg paling terpukul adalah Jodha karena dia tidak menyaksikan sendiri disaat-saat terakhir papanya. Sedangkan Meena dan Daniyal sudah ikhlas melepas kepergian Bharmal.

Setelah acara pengajian,Jodha dan keluarganya berkumpul di ruang tamu. Jodha dan Jalal duduk berdampingan dan Meena duduk disebelah Jodha sambil memeluknya. Sedangkan di depan mereka ada Daniyal dan Tania serta orang tua dari Tania.

“Bagaimana dengan pernikahan kalian? Bukankah dua minggu lagi kalian menikah?” tanya Jalal pada Daniyal dan Tania.

Daniyal dan Tania saling berpandangan.

“Pernikahan kami terpaksa diundur sampai masa berkabung kak. Mungkin 3 bulan lagi” Daniyal menunduk sedih.

“Papa bahkan belum melihat Dani menikah ma” Ucap Jodha sembari menangis di bahu Meena.

“Sudah Jodha. Jangan menangis lagi. Kasihan bayi yg ada dikandungan kamu. Bayimu juga merasakan kesedihanmu”

“Iya Jodha. Kamu jangan sedih terus. Tentang pernikahan Daniyal dan Tania,kami mengerti dan menyerahkan keputusan pada mereka berdua” ucap ayah Tania.

“Terima kasih bapak,ibu. Sudah mengerti dengan keadaan kami” ucap Jalal mewakili Meena. Kedua orangtua Tania mengangguk.

Jalal bersyukur bahwa keluarga Tania mau mengerti dan tidak memaksakan pernikahan mereka. Setelah berbincang-bincang,menjelang larut malam,keluarga Tania pamit pulang. Jodha,Jalal,Daniyal dan juga Meena kembali ke kamar masing2 untuk istirahat.

€€€€

Keesokan harinya,giliran Ruqaya dan Mirza melayat kerumah Jodha. Mereka baru bisa datang hari ini karena kemarin Mirza masih sibuk dengan pekerjaannya. Tak berapa lama Surya dan Lidia juga datang bersama putri mereka yg berusia 2 bulan.

“Kami turut berduka cita Jodha” ucap Surya.

“Kami dengar dari pamanku kemarin malam. Jadi maaf kalau kami baru bisa kesini hari ini” sahut Lidia sambil memggendong putrinya.

“Tidak apa-apa Lidia. Aku berterima kasih kalian sudah datang kesini” balas Jodha tersenyum melihat anak Lidia.

“Lucu sekali. Siapa nama anakmu?” tanya Jodha.

“Namanya mesya”

“Boleh aku menggendongnya?”

“Silahkan”

Lidia menyerahkan Mesya ke Jodha. Jalal yg sedang berbicara dengan Surya, tersenyum melihat Jodha yg mulai bisa tersenyum dan sedikit melupakan kesedihannya. Seandainya ada Arshia Abil disini,pasti Jodha tidak akan terlalu sedih. Karena tingkah lucu anak-anak selalu bisa menghilangkan rasa sedih.

Jodha menggendong Mesya sambil membelai pipi chubby bayi itu “berapa umurnya?”

“2bulan. Kalau kandunganmu sudah berapa bulan?” tanya Lidia.

“Mau menginjak bulan keempat”

“Kamu jaga baik-baik kandunganmu Jodha. Jangan terlalu banyak pikiran” saran Lidia.

“Iya. Akan kucoba”

Setelah berbincang-bincang sekitar satu jam,Surya dan Lidia berpamitan pulang. Tak lama Ruqaya dan Mirza juga menyusul pulang ke Jakarta.

§§§

Jodha,Jalal,Daniyal dan Meena makan bersama di meja makan. Jodha sudah mulai mau makan meskipun hanya sedikit. Wajahnya juga tidak terlalu pucat. Saat mereka sudah selesai makan,hp Jalal berdering. Papanya menghubunginya.

“Halo pa”

“Jalal,apakah besok kamu bisa kembali ke Jakarta”

“Memangnya ada apa pa?”

“Maaf kalau papa mengganggumu. Investor dari China ingin kamu hadir di meeting besok”

“Apa aku tidak bisa diwakilkan pa”

“Tidak bisa Jalal karena kau adalah CEOnya. Keputusan akhir ada ditanganmu dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Papa sudah berusaha bicara dengan mereka kalau kau sedang berduka tapi mereka lusa juga harus segera kembali ke China untuk menyelesaikan administrasinya”

Jalal menghela nafas. Semua orang melihat kearahnya dengan tatapan bingung.

“Baik pa. Nanti kuhubungi lagi untuk memastikan karena aku masih berat meninggalkan Jodha”

“Ok Jalal. Papa mengerti. Maaf kalau papa tidak bisa membantu. Papa tunggu keputusanmu”

“Iya pa” Jalal menutup teeponnya.

“Ada apa Jalal?” tanya Meena.

“Papa tadi telepon dan bilang kalau hotel membutuhkan kehadiranku ma. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Jodha” Jalal menatap Jodha yg terlihat sendu.

Jalal merasa dilema saat ini. Di satu sisi Jalal tak ingin meninggalkan Jodha yg kini masih membutuhkannya. Sedangkan disisi lain hotelnya juga membutuhkannya.

“Kamu pulang saja Jalal. Biar Jodha disini. Kami berdua yg akan menjaganya. Kamu tidak usah terlalu memikirkan Jodha. Hotel juga membutuhkanmu”

“Bagaimana denganmu sayang?” tanya Jalal pada Jodha.

Jodha menunduk menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak ingin Jalal meninggalkannya namun dia juga tidak boleh egois.

“Sayang. Kalau kamu tidak ingin aku pulang. Aku tidak akan pulang”

“Tidak Jalal. Pulanglah. Aku tidak apa-apa disini. Ada mama dan Dani yg menemaniku” Jodha berusaha tegar.

Jalal yg tau Jodha sedih langsung menjawab “Tidak sayang. Aku tidak akan pulang kalau kamu…”

“Please Jalal. Pulanglah”

Jalal menghela nafas. Dia tau kalau Jodha tidak rela kalau Jalal pulang ke Jakarta tapi Jodha berusaha menyembunyikannya “Baiklah. Aku akan ke Jakarta. Tapi setelah meeting selesai aku akan segera kembali kesini” Jalal memberikan senyumnya agar Jodha bisa tenang.

“Kamu janji”

“Iya,aku janji”

Jodha tersenyum meskipun hatinya sedih.

^^

Keesokan harinya Jalal berangkat ke Jakarta meskipun hatinya tidak rela. Jodha,Daniyal dan juga Meena mengantarnya sampai ke mobilnya.

“Aku pulang dulu sayang. Kamu jaga diri baik-baik dan dede bayi,hm”

“Iya”

“Ma,Daniyal. Aku titip Jodha”

“Iya Jalal. Kami akan menjaganya” ucap Meena.

“Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku Dani”

“Iya kak”

Jalal mencium tangan Meena dan merangkul Daniyal. Lalu Jalal memeluk Jodha. Jodha seperti enggan melepaskannya. Seakan takut mereka tidak bertemu lagi. Setelah Jalal melepaskan pelukannya,dia mencium kening Jodha lama. Untuk selalu mengingat wajah dan harum tubuh Jodha.

Dengan berat hati Jalal masuk kedalam mobil. Dia menyalakan mobilnya lalu melambaikan tangannya. Jodha membalas lambaian tangan Jalal dengan mata yg berkaca-kaca. Setelah mobil Jalal menghilang di kejauhan,air mata Jodha tak bisa lagi dia tahan.

Meena memeluknya untuk menenangkannya. Entah kenapa Jodha begitu sensitif. Mungkin karena bawaan bayi.

πππ

Jalal meeting dengan kliennya dengan perasaan tak tenang sama sekali. Dari dia berangkat tadi hingga meeting,pikirannya tetap menuju ke Jodha. Namun Jalal tetap bersikap profesional. Dia berusaha tetap konsentrasi.

Sedangkan dirumah Jodha. Jodha kehausan dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Saat dia baru saja keluar dari kamarnya,tiba-tiba perutnya merasakan kram.

“Aaarrghh…”

Jodha memegang perutnya yg terasa sakit. Dia menyandar di dinding untuk berpegangan karena kakinya terasa lemas.

Dia lalu merasakan sesuatu mengalir kakinya. Jodha melihat ke bawah dan terkejut saat ada darah di kakinya. Jodha merintih kesakitan.

“Mamaa…” dengan suara serak menahan sakit dia memanggil mamanya.

“Mamaaa….”

Jodha mencoba berteriak memanggil mamanya. Namun sepertinya mamanya tidak mendengar. Dengan perlahan Jodha berusaha berjalan meskipun tertatih. Dia menangis merasakan sakitnya.

“Jalal…” Dengan sisa tenaganya dia menyebut nama Jalal dan kegelapan menyelimutinya. Jodha terjatuh di lantai.

“Jodha…”

Meena yg baru mendengar teriakan Jodha,kaget melihat Jodha terbaring di lantai. Dia langsung menghampiri Jodha.

“Ya ampun Jodha,kamu kenapa nak” Meena melihat darah mengalir di kaki Jodha.

“Daniii….Dani…” Meena berteriak memanggil Dani.

“Kenapa kakimu berdarah Jodha” Meena panik. Meena mencoba membangunkan Jodha dengan menepuk pipinya.

Tak berapa lam Daniyal datang “Ada apa ma?”

“Dani...lihat kakakmu. Ayo kita bawa kerumah sakit”

“Ya ampun kak….”

Daniyal juga panik melihat darah di kaki Jodha. Dia langsung menggendong Jodha dan membawanya kerumah sakit.


Pyaaarr….

Tanpa sengaja Jalal menumpahkan gelas minumannya hingga pecah. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Dia memegang dadanya yg tiba-tiba berdetak kencang.

“Jodha…” gumam Jalal.




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~





Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - EPILOG

@ JANGAN TAKUT JATUH CINTA @ Epilog :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) Di sebuah rumah yg biasanya hening kini menjadi ramai dengan suara tangis bayi dan tangisan gadis kecil. Membuat penghuni dirumah itu menjadi panik. Bagaimana tidak panik,baby Abiel yg berumur 6 bulan itu menangis dan Shia juga menangis sambil teriak karena Jodha. Ya, Jodha saat ini merasakan perutnya sakit. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Menurut perkiraan dokter,Jodha akan melahirkan 2 minggu lagi namun sepertinya perkiraan dokter meleset dan si baby ingin segera keluar untuk melihat dunia. Perut Jodha mengalami kontraksi. Setiap 5 menit sekali dia akan merasakan sakit lalu tidak. Untuk menahan rasa sakitnya,Jodha sesekali berjalan mondar-mandir sambil menarik nafas lalu menghembuskannya karena dengan begitu rasa sakitnya sedikit berkurang. Rasanya begitu sakit hingga bila dia duduk sebentar saja maka rasa sakit itu semakin menjadi. Perutnya dia pegang terus sambil berdoa semoga ...

Novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak

Tersedia novel KAMULAH JODOHKU versi ebook dan cetak. - Ebook 45.000 (playstore) - Cetak 67.000 Silahkan yang berminat bisa menghubungi no wa 085706108916 🔛 SINOPSIS ; Adelard Jalaluddin Akbar tidak tahu jika dirinya telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan wanita bernama Sabiya  Jodha Nasira, yang sudah membuat pamornya sebagai seorang playboy menurun.  Disaat semua wanita mengejarnya, gadis itu bahkan tidak tertarik padanya dan selalu bersikap cuek. Namun satu rahasia yang dimiliki Jodha membuat Jalal menjadikan rahasia itu sebagai senjata untuk menaklukkan hatinya. Jodha tidak menyukai Jalal yang memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menerima pria itu menjadi kekasihnya. Lambat laun cinta itu mulai hadir dihatinya karena sikap Jalal yang pantang menyerah. Rasa cemburu membuat hubungan mereka tersandung batu kerikil yang membuat Jodha membenci pria itu. Hingga membuat Jalal harus berusaha kuat untuk meluluhkan hati Jodha kembali.

JANGAN TAKUT JATUH CINTA - PART 34

Warning; Readers dilarang protes ke authornya dengan part ini karena akan ada selingan yg bikin gumoh. Hehehe������ �� JANGAN TAKUT JATUH CINTA �� Part 34 ↗↗↗↗↗↗↗↗↖↖↖↖↖↖↖ Jalal hari ini berangkat ke Surabaya karena harus memantau cabang AZZA hotel  yg ada disana. Rencananya Jalal 3 hari berada di Surabaya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jodha. Apalagi selama menikah, mereka tidak pernah berpisah. Tapi apa daya, tuntutan pekerjaan harus dilaksanakan bukan. "Aku akan merindukanmu sayang" ucap Jalal dengan wajah sedih. Kini mereka ada di bandara SOETA. Jodha mengantarnya. "Aku juga akan merindukanmu sayang. Hanya 3 hari saja" Jodha tersenyum sambil membelai pipi Jalal. "Tapi 3 hari itu rasanya seperti setahun sayang tanpa kamu disampingku" "Mulai deh gombalnya" "Aku serius sayang" "Ya udah. Kita kan masih bisa komunikasi. Tuh pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Buruan sana" "Iisshh..kamu kok kayaknya ...